Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menelisik Pernyataan Cak Imin soal Ritel Raksasa “Membunuh UMKM”

Muhammad Aufal Fresky • Sabtu, 1 November 2025 | 13:37 WIB
Muhammad Aufal Fresky, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura, Esais.
Muhammad Aufal Fresky, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura, Esais.

KALTIMPOST.ID, Belakangan ini, pernyatan Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak imin disoroti publik.

Dia menyebut Indomaret dan Alfamart sebagai ‘Pembunuh UMKM’.

Saya sendiri tidak begitu mengerti, atas dasar apa Ketum PKB tersebut secara terang-terangan menyinggung dua ritel raksasa di Indonesia.

Kendatipun telah diluruskan atau diklarifikasi, pernyataanya telanjur viral di jagat maya.

Sebagaimana kita ketahui, Cak Imin tidak membeberkan data yang mendukung atau melandasi pernyataan kontroversialnya tersebut.

Selang beberapa saat kemudian, lewat bawahannya, dia menyatakan bahwa inti dari pernyataannya itu bukanlah upaya mematikan ataupun melarang Indomaret dan Alfamart beroperasi. Namun lebih pada bagaimana melakukan pemerataan rantai bisnis yang adil.

Saya berpikir dan terdiam sejenak. Jangan-jangan Cak Imin lupa, bahwa yang mengeluarkan izin operasi kedua ritel modern itu adalah pemerintah.

Artinya, sebenarnya pemerintah sendiri yang menciptakan ketidakadilan atau ketimpangan ekonomi nasional.

Selaku penulis, saya tidak ada sangkut pautnya dengan Indomaret atau Alfamart. Mungkin hanya sebatas orang yang kerap kali belanja di gerai Indomaret ataupun Alfamart.

Artinya, catatan ini murni pandangan saya pribadi tanpa tendensi apapun, kecuali hanya ingin mengurai persoalan secara lebih jernih.

Sebab, kontribusi dua ritel raksasa terhadap pembangunan ekonomi nasional juga tidak main-main. Seperti halnya menyerap ribuan tenaga kerja hingga membantu pendapatan negara lewat beragam pajak yang dibayarkan.

Saya tidak membayangkan berapa banyak pengangguran jika kedua ritel tersebut ditutup atau diboikot.

Sekadar diketahui, merujuk pada laporan perusahaan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk—pengelola Indomaret, pada 2024, terdapat 23.107 gerai Indomaret di seluruh Indonesia.

Sementara Alfamart memiliki sekitar 20 ribu gerai di seluruh Indonesia. Jika ditarik ke belakang, selama kurun waktu 2019-2024, pertumbuhan jumlah gerai Indomaret pun lebih tinggi, yakni 31 persen.

Adapun jumlah gerai Alfamart tumbuh 25 persen dalam waktu yang sama. Laporan tersebut menunjukkan bahwa kedua ritel raksasa tersebut bukan sekadar ekspansif, tapi begitu mendominasi.

Mungkin itulah yang dinilai Cak Imin mematikan usaha kecil, seperti toko kelontong atau warung Madura.

Padahal kalau boleh jujur, toko kelontong seperti Warung Madura juga mulai ikut bersaing merebut pasar.

Saya mengamati sendiri, untuk wilayah Surabaya, Malang, dan sekitarnya, toko kelontong Madura semakin tumbuh subur. Apalagi sebagian buka 24 jam, bebas parkir, dan harganya terjangkau. Tentu semakin membuat konsumen tertarik untuk berbelanja di toko kelontong Madura.

Artinya, kepanikan dan kekhawatiran Cak Imin bahwa UMKM akan gulung tikar itu sebenarnya kurang rasional.

Sebab, fakta di lapangan, toko kelontong pun berani berhadap-hadapan di lokasi yang sama dengan Alfamart dan Indomaret.

Nilai plusnya lagi, mereka juga menjual bahan bakar minyak (BBM) eceran, baik pertalite/pertamax.

Terkait hal itu, saya masih belum menemukan Alfamart dan Indomaret yang ikut menjual di dalam gerainya.

Jika memang hendak menciptakan keadilan ekonomi atau menumbuhkembangkan UMKM, baiknya lewat perhatian yang serius dan sungguh-sungguh. Bukan malah seolah menyudutkan salah satu pihak.

Ritel modern maupun tradisonal memiliki karakteristik, keunikan, dan plus minusnya sendiri.

Artinya, pemerintah mesti mendukung agar ritel modern dan ritel tradisional ini saling bersinergi dan berkolaborasi. Terutama dalam pengembangan SDM.

Sebab, pelaku UMKM masih banyak yang menjalankan bisnis ala kadarnya, kurang professional, tidak inovatif, minim riset pasar, dan masih banyak sejumlah pekerjaan rumah lainnya.

Di sinilah pemerintah bisa mengambil peran untuk mengembangkan kompetensi atau kapabilitas pelaku UMKM agar memiliki orientasi pasar dan orientasi kewirausahaan yang tinggi sehingga bisa mendongkrak pemasukan dan profit usahanya.

Saya pribadi berharap penuh, lewat segala instrumen berupa regulasi, kebijakan, atau programnya, pemerintah bisa mendorong UMKM agar mampu meningkatkan brand awareness, bisa menciptakan diferensiasi layanan, dan lebih kreatif dan inovatif.

Tentu, tujuannya adalah agar UMKM memiliki daya saing tinggi. Tidak hanya lewat pelatihan dan pendampingan, saya juga berharap pemerintah memberikan akses modal (finansial) dan akses pasar untuk mendukung pertumbuhan UMKM.

Kemudian, terkait dominasi ritel modern, saya rasa karena mereka memiliki beragam alat atau perangkat yang memang tidak sukar dimiliki UMKM.

Seperti halnya ribuan gerai di mana-mana, SDM profesional, aset dan omset besar, sistem waralaba yang kuat, branding yang adaptif, ekspansi yang kuat, strategi bisnis yang mumpuni, strategi pemasaran yang efektif dan efisien, sistem logistic dan distribusi yang efisien, dan sebagainya.

Akhirnya, kembali lagi ke pambahasan di awal paragraf tadi, saya tidak pribadi tidak menyalahkan secara membabibuta pernyataan Cak Imin.

Mungkin karena terlalu cintanya pada UMKM, sampai-sampai beliau lupa atau tidak sadar ‘menyerempet’ secara terang-terangan dua ritel raksasa yang kontribusi dan jasanya pada perekonomian nasional juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sekali lagi, ekonomi rakyat kecil memang harus kita dukung secara totalitas.

Namun, menyingungg ritel modern tanpa dasar yang jelas itu bukanlah langkah yang bijaksana.

Ritel modern, hemat saya, juga berjasa untuk negeri ini. Mungkin, ke depannya, pemerintah lebih fokus melakukan riset terlebih dahulu dampak ritel modern terhadap ritel tradisional.

Jika hasilnya terbukti mencekik ekonomi rakyat kecil, segeralah tata ulang pemberian izin gerai Alfamart, Indomaret, dan sejenisnya di seluruh Indonesia. Kalau kata Gus Dur, “Gitu saja kok repot.”

Editor : Hernawati
#indomaret #Menko PM Muhaimin Iskandar #ritel #alfamart #umkm #cak imin