KALTIMPOST.ID, Rasa-rasanya saya harus menuturkan dengan sejujur mungkin perihal situasi pemuda di negeri ini. Kendatipun, tulisan-tulisan saya lainnya, juga tidak sedikit yang menyinggung kaum muda, tapi kali ini, entah kenapa, saya tergerak kembali untuk mengurai masalah kaum muda. Ya, pemuda adalah aset berharga yang dimiliki oleh bangsa ini.
Pemuda adalah aset berharga yang jika dikelola dengan optimal, bukan tidak mungkin, visi besar Indonesia Emas 2045 semakin mendekat untuk diwujudkan. Bonus demografi sekali lagi, jangan sampai berubah menjadi petaka demografi. Bagaimanapun juga, pemuda hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Sebab itulah, saat ini, waktunya untuk mempersiapkan segala halnya. Termasuk mengasah kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Jangan sampai terpaku hanya pada kecerdasan kognitif.
Indonesia ini tidak kekurangan orang-orang pintar. Dari tahun ke tahun, jumlah kaum intelektual, kaum cendekiawan, seolah membeludak. Mereka, yang gelarnya berderet-deret bak sepur, itu sudah tak terhitung. Tapi, yang menjadi ironi adalah ketika ada pejabat publik, yang merupakan jebolan universitas elit, gelarnya mentereng, tapi kelakuannya mirip dengan bandit atau bahkan melebihi begal.
Jika begal itu korbannya biasanya satu atau dua orang, tapi kalau koruptor itu korbannya bisa ratusan ribu atau bahkan jutaan warga. Bagaimana tidak, bantuan sosial yang mestinya mengalir ke wong cilik, justru dijambret dengan segala taktik dan strategi licik. Lewat tipu muslihatnya, mereka menggarong uang rakyat untuk mempertebal kantong pribadi.
Dari situlah kita bisa sedikit memahami bahwa tidak selamanya kepintaran itu berbanding lurus dengan integritas. Kadang berlawanan, alias salip-salipan. Sebab, banyak pejabat kita yang menggunakan kecerdikannya untuk mengelabui rakyat.
Dalam hal ini, pemuda tidak boleh tinggal diam. Kepekaannya harus terasah. Sensitivitas sosialnya harus dibangun dari sekarang. Yakni bahwa butuh keterlibatan nyata pemuda dalam mengentaskan ragam persoalan. Termasuk menekan angka korupsi di negeri ini agar tidak semakin membeludak.
Jangan sampai pemuda kita justru mengikuti arus kemunafikan-kemunafikan yang terjadi di sekitarnya. Menjual murah idealismenya yang selama ini dipegang erat-erat. Padahal, sebelumnya, berkata lantang: segala kepalsuan dan pengkhianatan terhadap negara harus dilawan hingga titik darah penghabisan!
Tapi, ternyata ketika pemuda tersebut berhadapan dengan realitas, digoda dan dirayu segepok uang dan jabatan, lunturlah idealismenya. Sungguh, sangat disayangkan jika pemuda kita bersikap demikian. Menghamba pada materi dan status sosial. Mudah terombang-ambing oleh lingkungan yang keruh. Tidak memiliki pendirian yang kokoh. Nilai-nilai luhur yang selama ini diperjuangkan ternyata berhenti saat dia berkecimpung dengan harta dan tahta yang menggiurkan.
Tantangan pemuda tidak hanya datang dari luar, tapi dalam dirinya. Yakni bagaimana dia bisa menaklukkan ego dan ambisi pribadinya yang bisa menjerumuskan. Bagaimana dia bisa mengendalikan hasrat terhadap status sosial dan materi. Sebab, omong kosong belaka jika ada anak muda berteriak keras korupsi harus diberantas hingga ke akar-akarnya, kolusi wajib dibasmi total, dan nepotisme harus dilawan, tapi di sisi lain dia menjadi pelaku utama yang “merampok” uang negara lewat proyek-proyek fiktif yang dibuatnya.
Artinya, perkataan dan perbuatannya tidak selaras. Perlahan, integritasnya tergerus. Kepercayaan publik padanya hilang sepenuhnya. Sebab, komitmen dan kesungguhannya itu hanya retorika. Ketika dihadapkan pada duit, nyatanya tergoda juga. Halal dan haram dilanggarnya. Norma agama dan hukum dilibasnya. Kemampuannya “menjilat” penguasa ternyata terbukti ampuh untuk memperkaya diri dan golongannya.
Pemuda macam ini bisa dipastikan tidak pernah serius menangani persoalan masyarakat. Sebab, dalam alam pikiran dan hatinya, yang ada hanyalah bagaimana dari waktu ke waktu asetnya bisa merangkak naik. Bagaimana kariernya bisa melesat. Urusan bangsa dan negara cukup diwacanakan saja.
Dan apabila pemuda telah terpikat jiwanya terhadap kenikmatan-kenikmatan semu, maka apa lagi yang bisa diharapkan dari kontribusi mereka? Padahal, bangsa dan negara ini mendambakan kehadiran pemuda yang mampu menjadi problem solver. Bukan sebaliknya, menjadi biang keladi ragam persoalan. Bukan sebaliknya, justru menjadi benalu di tengah masyarakat.
Padahal, kita semua sedang dihadapkan pada banyak tantangan dan persoalan yang bisa dikatakan tidak ringan. Mulai dari narkoba, pornografi, judi online, korupsi, kolusi, nepotisme, perdagangan manusia, krisis keteladanan, penebangan liar, dan lain sebagainya.
Hal tersebut, tentunya, membutuhkan keterlibatan pemuda-pemuda yang progresif untuk mengentaskannya. Sebab, persoalan-persoalan itu bukan sebatas menjadi tanggung jawab pemerintah. Setiap elemen bangsa, terutama pemuda, saya rasa, perlu ikut andil memecahkannya.
Dengan segala cara yang bisa dilakukan, meskipun sederhana, tak masalah. Yang penting kepeduliannya itu. Terutama pemuda-pemuda beruntung yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Pastinya, wawasan, pengetahuan, ilmu, dan keterampilan mereka dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini.
Lantas, timbullah suatu pertanyaan: mampukah pemuda kita untuk menangkal sikap apatis yang mungkin selama ini bercokol dalam dirinya? Bisakah kaum muda kita melawan kemalasan dan kebiasaan menunda dalam dirinya? Adakah spirit pengabdian dalam jiwa pemuda untuk tanah airnya? Beranikah kaum muda kita untuk mengatakan “tidak” pada segala jenis kemunafikan?
Kiranya, pertanyaan-pertanyaan tersebut patut untuk direnungkan. Setidaknya, dengan direnungkan, bisa menjadi pemantik kobaran semangat dalam dadanya untuk mendharmabaktikan diri sepenuhnya kepada masyarakat. Setidaknya, dengan merenungi pertanyaan tersebut, pemuda kita bisa sedikit tercerahkan dan atau tersadarkan untuk berkemas-kemas dan segera beranjak dari tidur panjangnya.
Berupaya mati-matian untuk tidak terhanyut dalam arus yang keruh dan cemar. Berusaha untuk menjadi insan-insan yang berilmu, kreatif, inovatif, dan siap sedia melayani masyarakat. Ringkasnya, bangsa ini sedang membutuhkan lebih banyak lagi kehadiran pemuda yang mampu menjadi konseptor, inisiator, dan aktor segala jenis perbaikan.
Peran pemuda sebagai problem solver, sekali lagi, semoga tidak hanya manis di bibir. Lebih dari itu, harus menjelma alias mewujud dalam laku hidupnya. (*)
*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi
Editor : Almasrifah