Oleh:
Sihabuddin
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta
INDONESIA adalah negeri yang menjunjung tinggi etika kesopanan dalam semua lini kehidupan, termasuk dalam hal budaya. Maka dari itu, Indonesia memiliki budaya yang luhur yang mengutamakan kerendahan hati dengan ekspresi kebudayaan yang unik dan anggun. Sebagai orang Asia secara verbal budaya Indonesia sangat tidak menerima memanggil orang yang dihormati dengan sebutan namanya langsung. Apalagi untuk orang yang lebih tua tentu itu dipandang sangat tidak sopan.
Maka dari itu, munculah sebutan Bapak, Ibu, Tante, Paman, Bibi, Inak, Uda, Teteh, Mas, Empuk, Mpok, Gek, Uni Pache, Mache dan lain sebagainya, sebagai sebutan penghormatan untuk orang yang dihormati. Di beberapa budaya tertentu seperti Jawa Sunda dan Madura memiliki tingkatan bahasa yang semakin tinggi bahasanya maka akan digunakan untuk orang yang semakin dihormati. Inilah ekspresi verbal budaya kita dalam praktik kesopanan karena dalam budaya Indonesia menghormati orang yang lebih tua sebagai kewajiban.
Budaya kita juga sangat memperhatikan ekspresi kesopanan dalam bentuk nonverbal dalam kehidupan sehari-hari. Seperti menunduk, menurunkan tangan saat berjalan di depan orang yang dihormati dan sebagainya termasuk cium tangan saat salaman dengan orang yang lebih tua. Cium tangan terhadap orang tua adalah salah satu bentuk penghormatan yang masih dipertahankan hingga kini dalam budaya Indonesia.
Tindakan ini menggambarkan rasa hormat dan kasih sayang anak kepada orang tua, nenek, kakek, dan bahkan kepada orang yang lebih tua. Tidak hanya itu, cium tangan juga dilakukan untuk orang yang dianggap berjasa baik karena ilmunya, kepemimpinannya dan sebagainya. Maka tidak heran, di wilayah yang kental dengan dunia santri orang-orang terbiasa cium tangan para kiai sebagai bentuk penghormatan atas ilmu yang dimiliki. Ekspresi cium tangan ini tidak hanya untuk tokoh agama saja tetapi juga guru bidang lain yang telah rela memberikan ilmu yang dimiliki seperti guru umum dan sebagainya.
Namun, di waktu yang telah terlewati muncul polemik yang menganggap budaya cium tangan khususnya di dunia pesantren sebagai bentuk feodalisme. Bahkan dijelaskan dalam altsaqafah.id ada kalangan yang memandang tradisi bersalaman dengan mencium tangan sebagai hal negatif dan tidak perlu dilakukan.
Golongan yang menolak ini didominasi oleh orang-orang yang menyamakan tradisi tersebut sebagai sikap ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan yang berlebihan, yang seharusnya hanya diperuntukkan kepada Allah. Bahkan ada yang menganggap mencium tangan sebagai sujud kecil karena orang membungkuk saat mencium tangan orang lain. Selain itu juga ada yang menganggap cium tangan sebagai tradisi budaya non-Arab sehingga tidak pantas diteladani.
Islam sudah ribuan tahun di Indonesia dan tradisi ini tidak pernah ada yang mengusik, dari dulu tidak pernah ulama Nusantara yang ilmu agamanya tinggi dengan karya-karya yang luar biasa memfatwakan haram cium tangan kepada yang lebih tua dan orang yang dihormati asalkan bukan lawan jenis, boleh cium tangan termasuk salaman dengan lawan jenis dengan syarat itu mahramnya.
Ulama Nusantara tentunya sudah paham cium tangan orang yang lebih tua dan orang yang dihormati asalkan bukan lawan jenis hanyalah sebuah ekspresi penghormatan kepada sesama manusia tidak ada niatan dalam hati orang yang menghormati orang lain dalam bentuk cium tangan seperti halnya hormat kepada Tuhan. Cium tangan bukan sujud kecil dan tidak akan pernah sama maknanya dengan sujud kepada Tuhan yang merupakan simbol tertinggi dalam sebuah penghormatan dan ketaatan.
Cium tangan hanyalah budaya Nusantara tentang kesopanan sesama manusia yang tidak bertentangan dengan aturan Tuhan. Bukankah dalam Islam setiap orang wajib menghormati orang lain terutama kepada orang yang lebih tua dan budaya Nusantara mengekspresikannya salah satunya dengan cium tangan. Islam memang lahir di Arab tapi menjadi Muslim tidak harus menjadi Arab termasuk mengikuti budaya Arab.
Yang menjadi pedoman umat Islam adalah Al-Quran dan Hadits jadi selama suatu budaya tidak bertentangan dengan Al-Qur`an dan Hadits maka tidak masalah dijalankan. Budaya Arab pun jika bertentangan dengan syariat haram hukumnya diikuti. Islam datang dan menyebar ke seluruh dunia bukan untuk mengubah budaya selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam. Maka dari itu setiap negara memiliki corak keislaman yang berbeda-beda. Perbedaan budaya yang terjadi karena memang sudah takdir manusia diciptakan dengan budaya yang berbeda-beda.
Perbedaan budaya yang sudah menjadi takdir manusia dijelaskan dalam surah Al-Hujurat ayat 13 yang artinya "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.".
Maka dari itu, perbedaan budaya adalah fitrah manusia dalam menjalani hidupnya, sampai hari kiamat manusia akan diciptakan dengan budayanya masing-masing dimana manusia itu lahir dan menjalani hidupnya dan setiap budaya derajatnya sama tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Sebab kemuliaan seseorang di mata Allah bukan dilihat dari latar belakang budayanya tapi dilihat dari ketakwaannya.
Intinya mencium tangan kepada yang lebih tua (dalam kacamata Islam selama tidak melanggar syariat) itu tidak masalah karena itu budaya kita bukan sebagai bentuk feodalisme tapi sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua. Apalagi orang yang melakukan cium tangan kepada yang lebih tua tidak merasa terpaksa atau dipaksa.
Di berbagai negara seperti India, Thailand, Oman, Selandia Baru, Jepang, China dan lain-lain juga memiliki ekspresi kesopanan untuk yang lebih tua dan yang setara. Contohnya orang India sampai menyentuh kaki orang tua sebagai bentuk penghormatan, orang Thailand menundukkan kepala sambil menyatukan kedua telapak tangan untuk menghormati orang lain, orang Jepang membungkuk sekitar 30 derajat yang digunakan untuk menunjukkan penghormatan, sedangkan suku Maori di Selandia Baru dan suku Badui di Oman menempelkan hidung dengan hidung salah satunya sebagai simbol rasa hormat.
Jadi tidak ada salahnya kita mempertahankan budaya kita seperti mencium tangan orang yang lebih sebagai bentuk penghormatan. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan