KALTIMPOST.ID, Beranda media sosial (medsos), termasuk status WhatsApp sebagian teman-teman saya hari ini cukup seragam. Yakni memberikan ucapan selamat hari lahir (harlah), atau ulang tahun, atau milad, untuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ke-79.
Hampir lupa saya, bahwa hari ini adalah hari yang cukup spesial bagi segenap kader, anggota, pengurus, alumni, dan simpatisan HMI di seluruh penjuru negeri atau bahkan luar negeri. Kalau dipikir-pikir lagi, HMI ini memang banyak jasanya untuk umat, untuk agama, nusa, dan bangsa.
Bagaimana tidak, sejak pra-kemerdekaan hingga kepemimpinan Prabowo-Gibran, silih berganti kader-kader HMI menduduki jabatan-jabatan strategis di level pusat hingga daerah. Baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
Tak terhitung tokoh-tokoh nasional dan lokal yang lahir dari rahimnya HMI. Betapa banyak penulis, pengusaha, politisi, akademisi, hakim, legislator, dan profesi lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan semua satu per satu, yang lahir berkat polesan kaderisasi di tubuh HMI.
Demikian juga yang pernah saya rasakan selaku orang yang pernah mendapatkan pembinaan mental, intelektual, dan bahkan spiritual di HMI. Kala itu, usia saya masih dua puluhan tahun dan kebetulan sedang mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Airlangga (Unair).
Saya masih menerka-nerka dan mencoba memahami belantara kampus yang cukup menarik bagi saya. Perubahan yang bisa dikatakan cukup radikal dalam hidup saya terjadi pada saat semester tiga. Bermula dari ajakan seorang teman untuk ikut jalan-jalan ke Lawang, Malang, sembari diiming-imingi makan, nginap, dan ilmu gratis, saya pun tertarik.
Usut punya usut, ternyata sesampainya lokasi, saya baru paham bahwa itu ternyata acara Latihan Kader 1. Semacam kaderisasi awal di HMI. Di sanalah saya dibaiat sebagai kader baru.
Ringkas cerita, mulanya hanya coba-coba, akhirnya saya jatuh cinta juga. Lambat laun, HMI menjadi rumah kedua bagi saya. Khususnya di HMI Komisariat Ekonomi Airlangga, terlalu banyak hal yang kiranya sukar saya lupakan. Masih begitu mengakar dalam ingatan.
Betapa warna-warni, dinamika, romansa, hingga pergolakan pemikiran saya temukan di sana. Termasuk kecintaan saya pada dunia literasi, dalam hal ini, literasi membaca dan menulis, terus terang berkat kaderisasi di HMI. Sebagai anggota/kader baru, saya merasakan betul kehangatan para senior kala itu.
Silih asah, silih asih, dan silih asuh benar-benar hidup di dalam tubuh organisasi. Dengan kata lain, antar kader, antar senior ke junior, atau junior ke senior, acapkali berbagai ilmu, pengetahuan, dan pengalaman, saling menyayangi dan saling membimbing/menjaga satu sama lain.
Benih-benih rasa cinta, dari hari ke hari, kian tumbuh dan berkembang. HMI menjadi kawah candradimuka bagi saya. Terutama dalam hal merevolusi pola pikir, mengasah kepekaan, menanamkan rasa cinta tanah air hingga memperkukuh karakter sebagai manusia Indonesia, sebagai umat Islam.
Jujur saja, saya mulai mengenal apa itu nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai kebangsaan dari HMI. Sistem dan ekosistem di dalamnya memicu saya untuk menjadi insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan makmur.
Begitulah cerita ringkas saya berproses di HMI. Dan saya rasa setiap kader HMI di Indonesia dan dunia, memiliki kesan yang beragam terkait pengalamannya di HMI. Kini, di ultah yang ke-79, saya pikir masyarakat berharap penuh kepada kita selaku orang yang sedang atau pernah berproses di dalamnya untuk betul-betul mendharmabaktikan diri di tengah masyarakat.
Lewat ide, tindakan, materi, tenaga, dan sebagainya, semua bisa kita berikan. Tidak ada alasan untuk tidak berbagi. Dengan iman, ilmu, dan amal, kita optimistis mampu membawa bangsa ini bukan hanya menjadi bangsa yang hebat dan bermartabat.
Lebih dari itu, kita sebenarnya mampu membawa Indonesia menjadi episentrum peradaban dunia. Bukankah, jejak historis sudah terbukti bahwa kita memiliki cerita kejayaan dan peradaban gemilang di masa silam. Saatnya mengembalikan itu, lewat kontribusi dan konsistensi.
Di tengah ketidakpastian global, di tengah pergolakan zaman, bangsa ini menaruh harapan besar kepada seluruh aktivis/kader/alumni HMI untuk mengambil peran yang berdampak positif terhadap pembangunan nasional. Kompleksitas tantangan zaman harus dihadapi dengan keimanan yang tangguh, keluasan dan kedalaman ilmu, dan kekokohan karakter.
Dan kader HMI, di mana pun posisinya sekarang, apa pun profesinya, sudah semestinya menjadi kader yang penuh empati dan simpati terhadap nasib wong cilik. Senantiasa menjadi kader yang mau memecahkan ragam persoalan publik.
Dan semua akan berjalan dengan optimal, manakala semua bahu-membahu dan solid dalam mewujudkan Indonesia sebagai Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Terakhir, Al-Quran dan Hadis sebagai pedoman utama hidup, sebagai jalan keselamatan, tidak boleh ditinggalkan oleh setiap kader.
Pun demikian panutan utama kita, selaku umat Islam, selaku kader HMI, yaitu Nabi Muhammad SAW, harus betul-betul ditiru segala perangainya. Dengan begitu, selaku penulis, saya yakin, serius apa pun dunia ini, sedahsyat apa pun pergolakannya, insya Allah, kita bisa menghadapinya dengan tenang.
*) Muhammad Aufal Fresky, Eks Aktivis HMI Komisariat Ekonomi Airlangga
Editor : Almasrifah