Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Membangun Karakter Mahasiswa

Muhammad Aufal Fresky • Selasa, 10 Februari 2026 | 05:30 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

KALTIMPOST.ID, Salah satu tantangan terbesar perguruan tinggi adalah bagaimana mencetak generasi bangsa yang berkualitas. Berkualitas dari sisi intelektual, emosional, dan spiritual. Terkait hal itu, pastinya, kita semua menoleh pada dosen sebagai motor penggerak di dalamnya.

Sebab, dosen, sekali lagi bukan sebatas bertanggung jawab mentransfer ilmu dan pengetahuan. Lebih dari itu, mentransfer nilai-nilai luhur ke dalam jiwa mahasiswanya.

Apalagi kita tahu dan cukup memahami bahwa bangsa ini sedang membutuhkan lebih banyak lagi tunas-tunas muda yang pintar dan benar. Mendambakan lebih banyak lagi kuantitas pemuda yang tidak hanya cemerlang dari aspek kognitif.

Namun, lebih dari itu, memiliki budi pekerti yang mulia. Maka dari itu, dosen memikul beban yang tidak ringan dalam mengasah dan membentuk putra-putri bangsa agar memiliki karakter yang luhur.

Apalagi, karakter yang luhur adalah salah satu modal utama kita untuk mengejar ketertinggalan. Menjadi bangsa yang suatu saat nanti bisa menjadi mercusuar peradaban dunia. Langkah-langkahnya bisa dimulai dari sekarang. Lewat jalur pendidikan tinggi, bukan tidak mungkin, akan terwujud cita-cita besar itu.

Lebih-lebih, memang kita sedang berkemas-kemas menyongsong Indonesia Emas 2045. Sehingga pembentukan karakter generasi mudanya tidak bisa ditunda-tunda lagi. Apalagi, saat ini tantangan dan problematika yang sedang dihadapi anak-anak muda kian kompleks dan menumpuk. Di antaranya adalah mulai membudayanya budaya pragmatis hingga krisis identitas.

Kalau ditelisik lebih jauh lagi, memang betul bahwa persoalan dan tantangan yang dihadapi perguruan tinggi bukan sebatas mencetak tenaga-tenaga andal dan terampil yang mampu diserap oleh dunia industri.

Lebih dari itu, perguruan tinggi bertanggung jawab mencetak lulusan yang memiliki watak yang mulia, nasionalis, dan penuh empati terhadap persoalan wong cilik. Sebab, kepekaan dan kepedulian terhadap sesama, semacam menjadi barang langka bagi pemuda sekarang.

Seolah kita-kita ini disibukkan oleh ambisi pribadi yang tidak ada habisnya. Kadang sebagian merelakan idealismenya hanya karena ingin karier dan jabatannya moncer. Ada juga yang memakai topeng berlapis-lapis alias tidak menjadi dirinya yang otentik sebab hendak mendapatkan perhatian dari bosnya.

Di sinilah fungsi dan peran dosen diharapkan lebih mampu dalam mengendus sikap, watak, dan potensi yang dimiliki anak didiknya. Dosen, hemat pandangan saya, sebenarnya memiliki kesempatan dan peluang besar untuk mengasah para mahasiswa agar menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang bisa lebih mengenali arti keberadaan dirinya di dunia ini.

Memahami betul peran dan posisinya sebagai warga negara Indonesia, sebagai umat beragama, sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk Tuhan, dan sebagainya. Dan untuk lebih mengetahui, mengerti, dan memahami akan keberadaan, peran, dan fungsinya itu, sudah seharusnya dosen menempatkan diri sebagai pembimbing. Bukan sebatas pengajar/pendidik.

Memang betul, tridharma perguruan tinggi, wajib diimplementasikan oleh setiap dosen kita. Mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat memang tidak bisa dipisahkan dari kerja-kerja profesional dosen. Sebagai bentuk dharmabaktinya kepada nusa dan bangsa. Sebagai ikhtiar dirinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menjadi kompas moral dan pelita yang menerangi ruang-ruang gelap. Kesadaran akan peran besarnya tersebut harus terus menerus terpatri dalam alam pikiran dan jiwanya. Hanya dengan begitu, spirit perjuangan, pengorbanan, dan pengabdiannya kepada masyarakat sukar untuk padam.

Terutama dalam membina dan menempa para mahasiswa agar menjadi generasi yang cerdas, terampil, visioner, adaptif, kreatif, inovatif, dan peka terhadap lingkungannya. Begitulah sepemahaman saya terkait ciri sumber daya manusia (SDM) unggul.

Dalam hal ini adalah mahasiswa selaku aset bangsa memang perlu senantiasa dibina dari sisi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kebiasaan sehari-harinya. Maka dari itulah, saya meyakini betul bahwa SDM unggul itu adalah manusia-manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah. Sebab itulah, pendidikan karakter menjadi sangat vital di perguruan tinggi.

Meminjam pandangan Wibowo (2013) yang mengungkapkan bahwa pendidikan karakter di perguruan tinggi memiliki beberapa fungsi. Pertama, pembentukan dan pengembangan potensi mahasiswa. Artinya upaya membentuk dan mengembangkan manusia dan warga negara Indonesia berpikiran, berhati, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah Pancasila.

Kedua, perbaikan dan penguatan yaitu memperbaiki karakter manusia dan warga negara Indonesia yang bersifat negatif dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan di perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah, untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam mengembangkan potensi manusia atau warga negara, menuju bangsa yang berkarakter, maju, mandiri, dan sejahtera.

Ketiga, sebagai alat penyaring, yaitu memilah nilai-nilai bangsa, dan menyaring nilai-nilai budaya bangsa lain yang positif untuk menjadi karakter manusia dan warga negara Indonesia seutuhnya. Melalui proses penyaringan ini, diharapkan para mahasiswa menjadi bagian dari bangsa ini yang memiliki karakter yang mulia, intelektual, dan bermartabat.

Menambahkan pendapat Wibowo, selaku penulis, izinkan saya menambahkan bahwa pendidikan karakter di perguruan tinggi berfungsi untuk mencetak insan yang nasionalis-religius. Pendidikan karakter di perguruan tinggi juga dalam rangka mendorong mahasiswa menjadi insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang membawa kebermanfaatan bagi agama, nusa, dan bangsa.

Terutama dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Mengenai betapa pentingnya pendidikan karakter di perguruan tinggi, saya rasa dosen bisa mengambil peran sebagai penggerak, inisiator, konseptor, dan sekaligus eksekutor yang mengeksekusi ide-ide terkait pembentukan karakter mahasiswa.

Salah satu ciri karakter yang kokoh, di antaranya adalah bermental baja/pantang menyerah, mandiri, visioner, cerdas, cinta tanah air, dan rela berjuang dan berkorban untuk bangsa dan negara.

Selain itu, yang perlu digarisbawahi juga adalah bahwa ciri SDM yang unggul adalah berkarakter. Dan SDM unggul ini sebagai bekal utama bagi kita semua untuk menyongsong masa depan Indonesia yang lebih gemilang.

Maka dari itulah, dalam hal ini, dosen yang saban harinya berhadapan dengan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar kelas, setidaknya mereka mesti menjadi inspirasi atau teladan bagi anak didiknya. Menjadi role model yang gerak-geriknya bisa ditiru.

Bagi saya, dosen yang hebat, itu bukan sekadar kompeten dalam mengajar dan menulis karya ilmiah. Tapi, dosen yang mampu membantu anak didiknya menemukan dan mengembangkan potensi dan bakat yang terpendam dalam diri mereka. Dosen yang inspiratif, bagi saya adalah dosen yang ketika kita melihat dan memperhatikannya, kita ingin seperti mereka.

Dosen keren adalah dosen yang mampu memercikkan kegelisahan, rasa penasaran, dan keingintahuan yang tiada habisnya mengenai ilmu dan pengetahuan. Dosen yang mampu membakar semangat belajar seumur hidup dalam jiwa anak didiknya. Dosen yang mampu memperluas pola dan cakrawala berpikir mahasiswanya.

Dosen yang mampu membuat anak didiknya memiliki perasaan menggebu-gebu untuk lebih mencintai dan berbakti kepada Ibu Pertiwi. Dan untuk memungkas uraian ini, saya tegaskan lagi bahwa inti catatan ini sebenarnya adalah bahwa dosen memiliki peran strategis untuk membentuk generasi yang berkarakter lewat tindakan, perkataan, dan keteladanan hidupnya. 

*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky

Editor : Almasrifah
#dosen #Indonesia Emas 2045 #mahasiswa #perguruan tinggi #karakter