Oleh: Suci Rahmawati
Pengurus UKM Teater Yupa Universitas Mulawarman
DESAIN posternya seperti mengerikan. Tapi ternyata bukan horor. Film Kuyank adalah romansa yang dibalut urban legend Kalimantan. Dua hari sebelum tayang resmi perdana, saya berkesempatan menonton duluan film Kuyank di CGV Samarinda pada 27 Januari 2026. Saya beruntung mendapat tiket gratis sebagai reward setelah aktif bertanya dalam forum diskusi publik bersama sutradara dan cast film Kuyank serta sejarawan di Gedung Masjaya Universitas Mulawarman.
Saya hadir di acara “Ngobrol Bareng Sineas Film Kuyank” berdasarkan undangan dari komunitas literasi publik SUMBU TENGAH untuk UKM Teater Yupa Universitas Mulawarman. Saya mendapat experience baru ketika forum SUMBU TENGAH langsung dimulai tanpa sesi seremonial. Begitu narasumber masuk ruangan, mereka langsung naik panggung dan mulai berbicara tanpa adanya kata sambutan dan pembukaan.
Di Kampus Gunung Kelua itu saat sesi tanya jawab saya bertanya kepada sutradara Kuyank, Johansyah Jumberan alias Bang Joe. Kenapa kuyang yang dijadikan film? Bukankah ada cerita urban legend Kalimantan yang lain? Produser kelahiran Nagara, Kalimantan Selatan itu bilang begini. “Misi membuat film bertema Kalimantan tidak hanya untuk ditonton orang Kalimantan, tapi untuk penonton seluruh Indonesia atau dunia.”
Selesai forum saya bersama teman-teman dari UKM Teater Yupa Unmul menyempatkan bareng Bang Joe dan Jolene Marie, pemeran kuyank senior. Sebelumnya, kami bersama seluruh audiens foto bareng Bang Joe, Kak Jolene Marie, Bu Dayu Wijanto (pemeran Hajah Saidah), dan Pak Daulat (pemeran ayah Badri).
Saat mendengar kata kuyang, yang terbesit kali pertama adalah kepala tanpa tubuh dengan organ dalam yang menggantung. Kuyang merupakan salah satu urban legend Kalimantan yang tidak asing lagi di telinga masyarakat. Reviu film Kuyank saya mulai dari penokohan. Tokoh Badri oleh Rio Dewanto cukup unik dengan problematikanya.
Peran yang menurut saya akan lumayan sulit untuk warga Jakarta dan sekitarnya. Terlebih dalam penggunaan bahasa Banjar yang amat kental. Namun, Rio dapat membawakannya secara lihai dan sangat dalam, tampak seperti amang (paman) Banjar pada umumnya.
Berikutnya, Barry Prima dapat memerankan abah Banjar yang sangat luwes. Kemudian, tokoh ibu Badri alias Hajah Saidah oleh Dayu Wijanto, menurut saya sangat wow. Peran ibu mertua seperti Saidah sangat relate dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Beralih pada alur, jujur kalau genre horor biasanya apa sih yang ditonjolkan? Hampir pasti jump scare dengan gending Jawa, ditambah setting tempat sepi atau suasana sunyi yang mencekam. Tapi film Kuyank sendiri berbeda. Horor yang saya temui justru berbanding terbalik dengan horor Indonesia yang biasa saya tonton. Bukan cuma dari segi bahasa, tapi juga alur dan tayangan yang mengobrak-abrik emosi penonton melalui kisah cinta Badri dan Rusmiati hingga menjadi kuyang.
Setting tempat dan latar waktu yang cukup menarik, mengingat di negeri tercinta ini banyak memiliki keberagaman yang jarang disorot, terutama jika letaknya jauh dari pusat ibu kota. Kuyank memperlihatkan bagaimana adat dan keseharian masyarakat Banjar secara tradisional.
Ada jukung atau sampan sebagai kendaraan sehari-hari berlatar kampung di atas perairan. Ada upacara adat pernikahan dengan selipan unsur magis. Ada pula kultur makan jajanan pentol di muka umum yang berbeda dengan kebiasaan di Jawa. Kalau di Jawa orang membeli pentol di paklek (penjaja) dengan kemasan plastik atau menggunakan mangkuk, tapi di Kalimantan penjual pentol menyajikannya dengan tusuk seperti sate.
Aspek lain yang menjadi sorotan adalah Computer Generated Imagery alias CGI. Penggunaan CGI yang sudah lebih halus, menjadi poin plus bagi para penonton. Kuyank adalah prekuel Saranjana Kota Ghaib. CGI di Kuyank terbilang lebih halus dan tampak nyata dibandingkan sekuel sebelumnya.
Genre film horor yang biasanya akan lebih memberikan banyak jump scare dengan teriakan histeris dan ketakutan, justru sangat berbeda di Kuyank. Sosok kuyang bukanlah antagonis. Di bagian akhir film Kuyank saya dan banyak penonton terutama perempuan turut menangis dan merasa bersimpati atas nasib tragis yang dialami oleh pelaku ilmu kuyang dan suaminya.
Tiket gratis tak bisa memilih nomor kursi penonton. Saya mendapat kursi F10 yang posisinya agak di depan. Tapi saya beruntung ketika sineas Kuyank menyapa penonton di akhir film. Penonton diminta mengecek di bagian bawah kursi. Ternyata di bawah kursi saya ada gift berupa pin berlogo Kuyank. Dari 200 penonton dalam 1 room, ada sekitar 15 orang yang menemukan pin, termasuk saya.
Buat saya yang bukan warlok Kalimantan, pengalaman menonton Kuyank ini nempel banget. Rating 82/100 untuk romance di balik urban legend. Jangan takut untuk mencoba hal baru. Kesempatan itu ada untuk di ambil, bukan ditinggal karena takut. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki