KALTIMPOST.ID, Indonesia, dengan keragaman budaya dan kekayaan alamnya, merupakan modal strategis untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di berbagai daerah, kita dapati beraneka macam potensi lokal yang memiliki nilai jual dan daya tawar tersendiri.
Sebuah potensi yang jika dikelola dengan optimal akan menciptakan efek positif, seperti halnya menyerap tenaga kerja, mengurangi angka pengangguran, menekan angka kemiskinan, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hanya saja, yang menjadi persoalan adalah ketika potensi lokal tersebut sama sekali tidak dilirik oleh pemerintah setempat. Jika demikian, pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal cukup sukar berjalan seperti yang diharapkan.
Padahal, di setiap daerah, hemat saya, memiliki potensi tersendiri yang bisa mengundang pelancong untuk berwisata dan berbelanja produk lokal unggulan daerah tersebut. Contohnya, kita bisa menelusuri dan menemukan sendiri, ada daerah yang viral sebagai penghasil durian, ada yang terkenal sebagai produsen apel, ada juga yang populer sebagai pusat kerajinan gerabah, ada yang juga yang masyhur sebagai kampung batik, dan semacamnya.
Keunikan yang dimiliki setiap daerah mengundang rasa penasaran dan ketertarikan. Dan hal tersebut, sekali lagi, menuntut pembangunan di segala sisi untuk membuat daerah tersebut menjadi sebuah destinasi wisata unggulan.
Dalam hal ini, pastinya, komitmen, kejelian, kreativitas, dan inovasi pemimpin daerah menjadi kunci utama untuk mengorkestrasinya. Seperti halnya yang pernah dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi misalnya.
Sejak tahun 2014, jika merujuk pada buku karangan Suman dkk. (2019), berjudul Ekonomi Lokal: Pemberdayaan dan Kolaborasi, Pemkab Banyuwangi betul-betul menaruh perhatian penuh terhadap pengembangan ekonomi lokal. Hal tersebut dibuktikan lewat Surat Keputusan Bupati (masa itu) yang terkait penyelenggaraan program pariwisata lewat festival budaya.
Tidak hanya itu, berbagai terobosan dilakukan untuk mendongkrak ekonomi lokal lewat sektor pariwisata berbasis festival.
Di antaranya yaitu: (a) pembenahan total sarana dan prasarana; (b) mengintegrasikan sarana transportasi yang memadai untuk mendukung pariwisata; (c) melaksanakan pembinaan secara intens kepada pelaku seni dan budaya daerah; (d) menggelar ajang festival tematik sebagai event rutin Banyuwangi; (e) bersama dengan masyarakat mengembangkan objek wisata baru; (f) melaksanakan promosi wisata ke berbagai tempat dan media.
Menariknya lagi, Pemkab Banyuwangi juga menumbuhkembangkan sentra kopi dan kerajinan batik lewat berbagai program pelatihan untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di dalamnya. Seperti halnya pelatihan pengolahan kopi dan pewarnaan batik.
Hal tersebut tentu saja dalam rangka meningkatkan kapasitas dan sekaligus daya saing pelaku UMKM di sektor tersebut. Bersamaan dengan itu, upaya promosi dan pemasaran digalakkan dengan masif di berbagai macam saluran media. Tentu tujuannya untuk memperkenalkan dan mempersuasi publik bahwa Banyuwangi adalah daerah yang layak untuk dikunjungi.
Banyuwangi hanya contoh kecil dari banyak daerah lainnya yang saya kira juga menyimpan potensi yang unik dan menarik. Dan lagi-lagi problemnya terletak pada tata kelola pemerintahan sebagian pemerintah daerah yang bisa dikatakan amburadul. Seperti halnya membiarkan kawasan wisata kumuh, jalan berlubang, penerangan terbatas, dan lain sebagainya.
Keadaan semakin memprihatinkan manakala sebagian pemimpin daerah tidak memiliki kepedulian dan keberpihakan pada pengembangan ekonomi lokal. Kepentingan pribadi dan kelompoknya jauh lebih diutamakan dibandingkan kepentingan publik.
Parahnya lagi, sebagian anggaran pembangunan, justru lenyap tak berbekas, masuk ke kantong-kantong sebagian bandit-bandit berdasi itu. Hal itulah yang sebenarnya menjadi penghambat pengembangan ekonomi lokal.
Padahal, seorang pemimpin diberikan amanah untuk betul-betul mengakomodasi dan melayani kepentingan masyarakat. Pemimpin, menurut saya, bertanggung jawab untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Dan untuk mewujudkannya bisa lewat pengembangan ekonomi lokal berbasis wisata, budaya, dan semacamnya. Maka dari itu, melalui tulisan ini pula, saya pun hendak menawarkan langkah-langkah yang bisa dikerjakan untuk mengembangkan ekonomi lokal.
Pertama, merancang dan menetapkan peta jalan pengembangan ekonomi lokal. Kedua, mengimplementasikannya dengan konsisten dan penuh kesungguhan apa yang telah ditetapkan itu. Ketiga, merancang dan menetapkan program, regulasi, kebijakan yang pro-pengembangan ekonomi lokal.
Keempat, mengontrol dan mengevaluasi secara periodik terkait pelaksanaan dan pencapaiannya. Selain itu, perlu juga menjalin sinergi dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan/riset, pengusaha/investor, dan warga setempat untuk pengembangan ekonomi lokal.
Selanjutnya, setiap Pemkot/Pemkab, rasa-rasanya, perlu membuka ruang diskusi dan dialog rutin dengan masyarakat terkait bagaimana mengembangkan ekonomi lokal. Kemudian yang juga tak boleh luput dari perhatian yaitu melibatkan anak muda di dalamnya.
Sebab, biasanya kawula muda mempunyai ide-ide out of the box, brilian, dan progresif. Keterlibatan dan partisipasi aktif pemuda diharapkan mampu mengakselerasi pengembangan ekonomi lokal.
Percayalah, anak-anak muda, jika diberikan kesempatan, mereka bisa menjadi inisiator, konseptor, dan aktor pembangunan daerah di segala sektornya. Termasuk di sektor ekonomi. Jadi, dalam membangun ekonomi lokal, kita semua sebenarnya bisa terlibat aktif di dalamnya. Pertanyaannya sekarang: “Apa yang bisa kita kontribusikan?”
*) Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura
Editor : Almasrifah