Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dirut PT BTW PPU Tegaskan Penutupan Metering Dampak Sambaran Petir

A
Penulis: Ari Arief❯
Direktur PT BTW PPU, Zaenul Arifin (baju putih) dalam sebuah acara.
Direktur PT BTW PPU, Zaenul Arifin (baju putih) dalam sebuah acara.

KALTIMPOST.ID- PT Benuo Taka Wailawi (BTW), perusahaan migas kebanggaan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menyetujui bahwa penutupan sementara peralatan ukur ( metering ) di Stasiun Nenang beberapa waktu lalu murni disebabkan oleh faktor alam,  yakni kerusakan akibat sambaran petir. 


Advertisement

Direktur Utama PT BTW, Zaenul Arifin, menjelaskan bahwa kejadian sambaran petir terjadi pada Kamis sore, 30 Oktober. Kerusakan tersebut memaksa perusahaan untuk menghentikan operasional peralatan ukur demi proses perbaikan.

"Peralatan ukur di Stasiun Nenang ditutup sementara untuk proses perbaikan. Kerusakan disebabkan terkena imbas sambaran petir hari Kamis (30/10) sore," jelas Zaenul Arifin dalam keterangannya, Rabu (5/11).

Advertisement

Zaenul Arifin menambahkan bahwa saat ini tim teknis sedang fokus melakukan perbaikan. Ia berharap perbaikan dapat berjalan lancar sesuai jadwal yang diperkirakan, yaitu sekitar dua minggu.

Zaenul Arifin turut memohon dukungan dan doa dari masyarakat agar proses perbaikan diberikan kemudahan dan kelancaran, sehingga operasional penjualan gas dapat segera pulih.

Penutupan  metering  ini sebelumnya sempat menjadi sorotan publik di PPU karena beredarnya isu pembohong mengenai adanya tunggakan atau masalah kontrak kerja sama dengan pihak lain.

Advertisement

Dengan pernyataan resmi dari direktur utama ini, PT BTW menegaskan bahwa langkah penutupan semata-mata adalah tindakan teknis dan darurat akibat kerusakan yang disebabkan oleh bencana alam.

Diberitakan sebelumnya, PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) beberapa hari lalu menutup  metering  pada perusahaan minyak dan gas (migas) PT Benuo Taka Wailawi (BTW) di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU).

Penutupan  metering  dengan cara mengunci memakai rantai itu di tengah isu yang merebak, bahwa pengelola perusahaan ini belum memenuhi kewajiban biaya kontrak.

“Penutupan metering dengan rantai itu karena sebelumnya tersambar petir,” kata Etna, staf Humas PT PHKT saat menerima konfirmasi terkait dengan hal tersebut. Saat ini, katanya, PHKT sedang melakukan perbaikan.

Namun, tidak dijelaskan sampai kapan rampungnya perbaikan alat dimaksud. “Kalau ada perkembangan terbaru,  update -nya saya beritahukan,” tambahnya.

Sejumlah sumber media diperoleh ini pada pukul 18.00 Wita, Sabtu (31/10), v alve close metering  sistem sudah dilakukan penerimaan dengan rantai dan disaksikan oleh pihak PHKT dan BTW. Kedua pihak sejauh ini disebut-sebut terkait kontrak kerja sama.

“ Metering  itu ditutup atau dikunci karena diduga belum ada pembayaran kontrak dari pihak perusahaan BTW,” kata sumber.

Saat hal ini dikonfirmasikan, Etna secara tegas membantah. “Oh, tidak benar,” sambil menegaskan bahwa penutupan  meteran  tersebut mengakibatkan faktor peralatan tersebut menonaktifkan petir, sehingga berbahaya jika dioperasikan.

Sementara itu, Direktur Utama PT BTW, Zaenul Arifin belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi mengenai isu yang merebak ini Rabu (5/11). Konfirmasi pesan yang dikirim ke  platform  pesanan  WhatsApp  (WA) sekira pukul 11.30 Wita itu belum direspons.

PT BTW, perusahaan  migas  kebanggaan PPU yang dibentuk pada tahun 2012, untuk kali pertama dalam sejarahnya melakukan  perombakan manajemen  secara menyeluruh pada medio 2025 lalu.

Keputusan strategi ini diambil dalam  Rapat Umum Pemegang Saham  ( RUPS ) yang digelar di  Hotel Novotel Balikpapan  pada Senin, 16 Juni 2025, dan menjadi sinyal kuat penguatan sektor migas di wilayah tersebut.

Perubahan signifikan ini didesak oleh Perusahaan Umum Daerah ( Perumda ) Benuo Taka (PBT) PPU, pemegang saham mayoritas dengan porsi 51 persen. Dalam RUPS tersebut, Pitono, kepala Bagian Hukum, Setkab PPU, resmi menggantikan Taufik sebagai komisaris BTW.

Sementara itu, ketua direktur utama yang semula dijabat Indra Riswanto, kini dijabat oleh Zaenul Arifin, seorang sarjana perminyakan yang diharapkan membawa angin segar bagi perusahaan.(*)

 

 

Advertisement
Editor : Uways Alqadrie
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kisah Sukses UMKM Binaan PHKT, Ubah Limbah Serbuk Kayu dan Sabut Kelapa Jadi Mesin Cuan

Kisah Sukses UMKM Binaan PHKT, Ubah Limbah Serbuk Kayu dan Sabut Kelapa Jadi Mesin Cuan

UMKM binaan PHKT sukses mengubah limbah jadi omzet ratusan juta dan ekspor. Simak kisah inovasi ekonomi mandiri warga Penajam Paser Utara.

Menolak Tua! Inovasi Beri Asa Hulu Migas di Jantung Delta Mahakam dan Utara Kalimantan

Menolak Tua! Inovasi Beri Asa Hulu Migas di Jantung Delta Mahakam dan Utara Kalimantan

Pertamina Hulu Sangasanga dan PHSS Bunyu terus berinovasi mengoptimalkan cadangan migas tua di Delta Mahakam demi ketahanan energi nasional.

Komitmen ESG, PHE Sabet Penghargaan di Investortrust ESG Awards 2026

Komitmen ESG, PHE Sabet Penghargaan di Investortrust ESG Awards 2026

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) raih penghargaan di Investortrust ESG Awards 2026, buktikan integrasi prinsip ESG di operasional hulu migas.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer