PENAJAM – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi di lingkungan Polres Penajam Paser Utara (PPU) resmi diluncurkan, Jumat (13/2/2026). Peresmian ini dihadiri Wakil Bupati PPU Abdul Waris Muin, Kepala Dinas Kesehatan PPU dr Jansje Grace Makisurat, serta jajaran pimpinan instansi vertikal lainnya.
Kapolres PPU, AKBP Andreas Alek Danantara menegaskan, keberadaan SPPG tersebut bukan milik Polres, melainkan fasilitas hibah dari pemerintah daerah. Ia menjelaskan, bangunan tersebut awalnya dibangun sekitar tiga tahun lalu dan diperuntukkan sebagai gedung penyimpanan barang bukti. Dua tahun kemudian dialihfungsikan menjadi Gedung Bhayangkari.
"Hingga akhirnya disepakati untuk dimanfaatkan sebagai gedung SPPG demi mendukung program pemenuhan gizi masyarakat" jelasnya.
Pada hari pertama operasional, SPPG memproduksi dan mendistribusikan sebanyak 1.189 porsi makanan bergizi kepada penerima manfaat. Terdiri dari siswa TK Bhayangkari, Sekolah terpadu yang berada di sekitar lokasi (SD 038, SMP 21 dan SMA 8). Program ini juga menyasar seluruh civitas akademika di sekolah, termasuk guru dan tenaga pendukung lainnya.
“Ini hari pertama kita memasak dan langsung mendistribusikan. Harapan kita sesuai instruksi Bapak Presiden, anak-anak di Indonesia khususnya di PPU menjadi generasi unggul yang didukung asupan makanan bergizi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tugas seluruh pihak adalah memastikan makanan yang dikonsumsi anak-anak benar-benar bermanfaat bagi pertumbuhan fisik dan kecerdasan mereka. Dengan demikian, dalam 20 hingga 40 tahun mendatang, generasi penerus PPU diharapkan mampu bersaing secara nasional maupun internasional. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia menjadi kunci kemajuan bangsa.
“Apapun pekerjaannya, kalau manusianya beres, pekerjaannya pasti beres. Man behind the gun. Senjata apapun, kalau digunakan manusia yang tepat, akan bermanfaat bagi kemajuan,” ujarnya.
Ke depan, SPPG ditargetkan mampu melayani hingga 3.480 penerima manfaat. Saat ini, sekitar seribu lebih penerima. Bahkan sebelum sebelum dilakukan pendistribusian, jajaran Polres PPU telah lebih dulu mencicipi makanan yang diproduksi sebagai bentuk pengawasan kualitas.
“Kami sepakat, yang pertama mencicipi adalah pejabat Polres. Kalau ada kesalahan, biar kami duluan yang merasakan. Alhamdulillah sampai sekarang sehat-sehat saja,” katanya.
Ia menekankan pentingnya standar keamanan pangan. Setiap makanan yang disajikan diuji menggunakan alat uji cepat. Serta disisakan sampel dari setiap menu untuk mengantisipasi apabila terjadi keluhan setelah konsumsi. Sampel tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan pembanding.
Selain itu, tim SPPG juga melakukan kajian terhadap kebiasaan konsumsi anak-anak di berbagai wilayah. Baik pesisir, persawahan, maupun pegunungan, guna menyesuaikan menu dengan kebutuhan dan kondisi setempat.
AKBP Andreas juga menjelaskan, selama bulan Ramadan, distribusi makanan tetap berjalan. Khusus hari Sabtu, makanan kering akan dibagikan pada Jumat sore agar relawan memiliki waktu istirahat di akhir pekan.
Seluruh makanan diproduksi langsung dari dapur SPPG tanpa melibatkan pihak ketiga dalam proses pengolahan. Adapun bahan baku diperoleh dari penyedia eksternal. Fasilitas SPPG disebut telah memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah pusat, termasuk kelengkapan ruang rapat dan sarana pendukung lainnya.
Ia berharap, program ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan anak-anak, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di sektor pengelolaan pangan. “Mari kita jadikan launching SPPG Polres PPU ini sebagai langkah awal menuju PPU yang maju, mandiri, sejahtera, dan berdaya saing tinggi di masa depan,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki