PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (Pemkab PPU) melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) kembali menggelar Operasi Pasar atau Pasar Murah selama Bulan Suci Ramadan. Kegiatan ini dijadwalkan berkolaborasi dengan rangkaian Safari Ramadan dan menyasar empat titik yang mewakili setiap kecamatan di PPU.
Melalui operasi pasar ini, Pemerintah Kabupaten PPU berharap stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas KUKM Perindag Kabupaten PPU Marlina mengatakan, operasi pasar difokuskan pada komoditas yang terindikasi mengalami kenaikan harga menjelang dan selama hari besar keagamaan.
“Untuk operasi pasar sudah kita jadwalkan. Jadwal awal akan di lakukan di Maridan, tanggal 26 ini. Kita kolaborasikan dalam kegiatan Safari Ramadan. Insyaallah nanti kita akan melakukan operasi pasar pada komoditas yang diindikasikan mengalami kenaikan harga,” ujar Marlina dihubungi Minggu (22/2/2026).
Dalam pelaksanaannya, pihaknya melibatkan distributor lokal, toko modern, hingga distributor dari luar daerah seperti Perumda Samarinda yang kerap membantu ketersediaan pasokan di PPU. Selain itu, dukungan juga datang dari mitra perbankan seperti Bankaltimtara dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan.
Menurut Marlina, dukungan dari BI Balikpapan dan Bankaltimtara tidak hanya dalam bentuk koordinasi, tetapi juga stimulus bagi masyarakat. “Misalnya dari BI, masyarakat yang berbelanja lebih dari Rp50.000 akan mendapatkan hadiah. Kemudian yang berbelanja menggunakan QRIS juga mendapat hadiah dari BI. Itu menjadi motivasi masyarakat untuk berbelanja di kegiatan operasi pasar,” jelasnya.
Ia menegaskan, harga yang ditawarkan dalam operasi pasar berada di bawah harga pasar. Hal ini sebagai bentuk intervensi pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat selama Ramadan.
Terkait komoditas gas elpiji 3 kilogram, Marlina menekankan bahwa penjualan harus mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai Peraturan Bupati yang telah ditetapkan per kecamatan. Perbedaan harga disesuaikan dengan jarak distribusi.
“Misalnya di Sepaku HET-nya Rp 23.000, sementara di Penajam sekitar Rp 20.000 atau Rp 21.000 karena jaraknya lebih dekat dengan SPBU Babulu, sehingga ongkos distribusinya lebih rendah,” terangnya.
Ia mengingatkan pangkalan agar tidak menjual di atas HET, terlebih dalam momentum operasi pasar yang memang bertujuan membantu masyarakat mendapatkan harga lebih terjangkau.
Marlina juga menanggapi keluhan masyarakat yang mengaku membeli gas hingga Rp 30.000 sampai Rp 40.000. Menurutnya, harga tersebut biasanya terjadi di tingkat pengecer, bukan di pangkalan resmi.
“Pantauan kami hanya sampai di pangkalan. Kalau ada yang menjual di atas HET, pembinaannya ke pangkalan. Untuk pengecer, itu ranah bisnis kecil dan bukan dalam pengawasan langsung kami. Namun kami tetap mengimbau agar tidak menjual terlalu tinggi dan tetap mengutamakan warga di sekitar pangkalan,” tegasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki