Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OMC Belum Bisa Dilakukan, Awan Hujan di Samarinda Masih Minim

M
Penulis: M Hafiz Alfaruqi❯
MINIM AWAN: Operasi Modifikasi Cuaca di Kota Tepian belum dapat dilakukan karena minimnya awan yang berpotensi menghasilkan hujan. (RAMA/KP). 
MINIM AWAN: Operasi Modifikasi Cuaca di Kota Tepian belum dapat dilakukan karena minimnya awan yang berpotensi menghasilkan hujan. (RAMA/KP). 

Advertisement

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Upaya mendatangkan hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Samarinda masih terkendala kondisi alam. Hingga awal September, awan yang berpotensi menghasilkan hujan di Samarinda maupun wilayah Kalimantan Timur masih sangat minim.

Kondisi ini membuat pelaksanaan OMC belum dapat dilakukan, meski Wali Kota Samarinda telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan selama 14 hari.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, pihaknya terus berkomunikasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau perkembangan awan.

Advertisement

Sebelumnya, OMC digelar di Berau selama lima hari. Namun, hanya tiga hari yang dapat dimanfaatkan karena dua hari lainnya tidak terdapat awan yang berpotensi menghasilkan hujan, termasuk Samarinda. "Yang di Berau kemarin diberikan waktu OMC lima hari, yang bisa dimanfaatkan cuma tiga hari. Dua harinya memang tidak ada awan yang berpotensi menjadi hujan," ujarnya, Rabu (2/9). 

Suwarso menyebut permohonan OMC untuk Samarinda telah disampaikan. Rekomendasi BMKG serta dokumen status siaga dan tanggap darurat juga telah dipenuhi. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi syarat. "Selagi faktor alam, awan yang berpotensi menjadi hujan itu masih sangat kecil sekali. Itu di Kalimantan Timur bahkan. Apalagi Samarinda," katanya.

Karena itu, BPBD terus memantau perkembangan cuaca dan berkoordinasi dengan BMKG serta BNPB. Jika terdapat awan yang berpotensi dimodifikasi menjadi hujan, informasi tersebut akan segera disampaikan.

Advertisement

Suwarso mengatakan, BMKG dan BNPB menyarankan agar permohonan OMC diajukan Pemerintah Provinsi Kaltim dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Langkah tersebut dinilai membuat pelaksanaan OMC lebih fleksibel mengikuti daerah yang memiliki potensi awan hujan.

Sebab, jika OMC hanya difokuskan di Samarinda, sementara awan yang memenuhi syarat tidak tersedia, pesawat dan peralatan yang telah disiagakan berisiko tidak termanfaatkan. "Kalau mintanya lokalan terlanjur standby di Samarinda, sudah keluar biaya, tidak ada bibit awannya, justru kerugian kita. Sayang tidak tergunakan," jelasnya.

Suwarso menilai OMC menjadi salah satu langkah efektif menghadapi kekeringan karena manfaatnya tidak hanya untuk mengatasi karhutla. Kondisi kekeringan juga berdampak pada intrusi air laut dan meningkatkan potensi gagal panen. "Yang paling efektif adalah dengan cara OMC. Karena dengan OMC itu berarti sumber air bertambah, kebakaran lahannya padam, sawah teraliri air hujan. Artinya, multiefek dari penanganan OMC itu lebih besar daripada water bombing," tuturnya.

Untuk penanganan karhutla, BPBD bersama unsur terkait masih mampu melakukan pemadaman secara manual. Meski terdapat sejumlah titik yang sulit dijangkau, seluruh kejadian yang dilaporkan sejauh ini dapat ditangani.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kiprah Srikandi BPBD Samarinda, Terjang Medan Ekstrem Padamkan Karhutla

Kiprah Srikandi BPBD Samarinda, Terjang Medan Ekstrem Padamkan Karhutla

Personel perempuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda turut berperan dalam penanganan karhutla

Karhutla Samarinda Tembus 608 Hektare, Helikopter Water Bombing Ditarik ke Provinsi Tetangga

Karhutla Samarinda Tembus 608 Hektare, Helikopter Water Bombing Ditarik ke Provinsi Tetangga

Kebakaran hutan dan lahan di Kota Samarinda kian meluas hingga menembus angka 608,18 hektare, dengan titik terparah di Kecamatan Sambutan

Karhutla Samarinda Tembus 227 Hektare, 90 Persen Diduga Ulah Manusia

Karhutla Samarinda Tembus 227 Hektare, 90 Persen Diduga Ulah Manusia

Karhutla terus terjadi di Samarinda di tengah kondisi kekeringan. Hingga 1 September 2026, tercatat 130 kejadian. Luas lahan terbakar 227 Ha

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer