Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Asap Pekat Terperangkap, Udara Samarinda Masuk Kategori Tidak Sehat

D
Penulis: Denny Saputra❯
PERBURUKAN: Kondisi asap yang kian pekat warnai langit di Kota Tepian, menyebabkan jarak pandang terbatas, Rabu (16/9). DENNY SAPUTRA/KP
PERBURUKAN: Kondisi asap yang kian pekat warnai langit di Kota Tepian, menyebabkan jarak pandang terbatas, Rabu (16/9). DENNY SAPUTRA/KP

Advertisement

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Warna asap yang menggelayut di langit Samarinda semakin pekat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap jarak pandang dan kualitas udara, dengan indikator ISPU pada situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan angka 82. 

BMKG Samarinda juga mencatat konsentrasi PM2.5 berada dalam kategori tidak sehat pada Rabu (16/9). Forecaster BMKG Samarinda Duo Rahman Abdilah mengatakan, kondisi atmosfer Samarinda saat ini membuat asap lebih mudah terperangkap di dekat permukaan.

Tutupan awan yang cukup tebal mengurangi radiasi matahari yang diterima permukaan sehingga suhu udara cenderung menurun. “Visibilitas atau pandangan ini juga berkurang akibat adanya asap dan juga tutupan awan yang cukup menutupi langit di Samarinda,” ujarnya Rabu (16/9).

Menurut Duo, kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer yang terjadi di sekitar wilayah Samarinda. Berdasarkan analisis BMKG, terbentuknya siklon di wilayah Laut Cina Selatan turut menarik massa awan dari daerah lain, kemudian diperkuat pengaruh angin monsun Australia.

“Awan-awan tadi berkumpul di wilayah Samarinda sehingga terjadi tutupan awan yang cukup banyak,” sebutnya. Dia menjelaskan, tutupan awan tersebut kemudian berpengaruh terhadap kondisi asap di permukaan.

Advertisement

Minimnya radiasi matahari membuat atmosfer dekat permukaan tidak cukup cepat mengurai dan mengangkat partikel asap sehingga jarak pandang menurun.

Indikasi tersebut lebih mengarah pada asap kebakaran hutan dan lahan, bukan kabut. Sebab, tingkat kelembapan udara yang terukur masih berada sekitar 70 persen, jauh di bawah batas kelembapan yang umumnya mengindikasikan pembentukan kabut. “Makanya kami bisa mengatakan ini faktor dari asap,” jelasnya.

Menurut BMKG, peluang hujan di Samarinda dalam waktu dekat masih rendah, dengan prakiraan curah hujan berada pada kategori rendah, yakni 0–20 milimeter. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung sebelum memasuki periode perbaikan curah hujan pada Oktober.

Dia menambahkan, BMKG belum menetapkan secara resmi berakhirnya musim kemarau karena masih menunggu pembaruan analisis dan rilis resmi. Namun, kecenderungan curah hujan mulai meningkat diperkirakan terjadi pada Oktober. “Prediksi kami di Oktober mulai ada curah hujan yang lebih berangsur membaik,” pungkasnya. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Turap Mahakam di Gajah Mada Longsor, Proyek Teras Samarinda Tahap II Segmen I Stop Sementara

Turap Mahakam di Gajah Mada Longsor, Proyek Teras Samarinda Tahap II Segmen I Stop Sementara

Pengerjaan proyek Teras Samarinda Tahap II Segmen I disetop sementara waktu akibat tepian Sungai Mahakam di Jalan Gajah Mada longsor,

Tire Center PT Teguh Jaya Abadi Sentosa Resmi Hadir di Samarinda, Perkuat Layanan Ban Kendaraan

Tire Center PT Teguh Jaya Abadi Sentosa Resmi Hadir di Samarinda, Perkuat Layanan Ban Kendaraan

Permintaan layanan ban dan kebutuhan terus berkembang, mendorong PT Teguh Jaya Abadi Sentosa menghadirkan Tire Center baru di Samarinda.

Tire Center PT Teguh Jaya Abadi Sentosa Hadir di Samarinda, Solusi Tepat Kebutuhan Ban dan Kendaraan

Tire Center PT Teguh Jaya Abadi Sentosa Hadir di Samarinda, Solusi Tepat Kebutuhan Ban dan Kendaraan

Teguh Jaya Abadi Sentosa membuka Tire Center baru di Samarinda, menghadirkan layanan ban dan kebutuhan kendaraan dengan fasilitas lebih luas

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer