Kualitas Udara Samarinda Kembali Tidak Sehat, Asap Karhutla Kaltim Bergerak dari Selatan

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kualitas udara di Samarinda, Kalimantan Timur, kembali memburuk setelah sempat mengalami perbaikan akibat hujan yang mengguyur sejumlah kawasan pada Minggu (18/10).
Konsentrasi polutan yang sempat menurun kembali meningkat sehingga kondisi udara masuk kategori tidak sehat.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Muhammad Abil Nurjani, menjelaskan, hujan membantu menekan konsentrasi partikulat di udara. Namun, dampaknya hanya berlangsung sementara dan belum mampu menjaga kualitas udara tetap baik.
Baca Juga: Gunung Sumbing Kebakaran, 71 Pendaki Dievakuasi dari Jalur Gajahmungkur Wonosobo
Menurut Abil, pemantauan selama 14 hari terakhir menunjukkan peningkatan polutan mulai terpantau sejak 9 Oktober 2026. Sempat membaik setelah hujan, kualitas udara kembali mengalami penurunan seiring meningkatnya konsentrasi pencemar.
Pergerakan asap dari wilayah selatan menuju utara dalam sepekan terakhir turut menjadi perhatian. Asap dari sejumlah titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi terbawa menuju Samarinda dan memperburuk kondisi udara di kawasan perkotaan.
Abil menyebut, tingkat pencemaran udara dapat berubah mengikuti kondisi kebakaran dan pergerakan asap. Dalam kondisi tertentu, konsentrasi polutan bahkan pernah mencapai kategori berbahaya di sekitar Bandara APT Pranoto Samarinda.
Saat itu, kebakaran terjadi di sisi barat landasan pacu atau runway bandara. Lokasi kebakaran yang berada dekat area pemantauan menyebabkan konsentrasi polutan meningkat tajam.
Selain berdampak terhadap kualitas udara, asap juga berpotensi mengurangi jarak pandang, terutama pada pagi hari. Kabut yang terlihat di sejumlah kawasan saat ini dinilai lebih banyak dipengaruhi partikel asap dibandingkan embun.
Baca Juga: Judi Online hingga Narkoba Jadi Sorotan, Panglima TNI Beri Peringatan Tegas kepada Seluruh Prajurit
Abil menjelaskan, pembentukan embun umumnya berkaitan dengan kelembapan udara yang sangat tinggi, yakni di atas 95 persen. Sementara itu, kondisi kelembapan yang diamatinya belum menunjukkan karakteristik yang biasanya mendukung terbentuknya embun.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




