Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Karhutla dan Kekeringan Belum Usai, BPBD Samarinda Usulkan Perpanjangan Status Darurat  

D
Penulis: Denny Saputra❯
BELUM REDA: Jajaran tim pemkot bersama relawan masih berjibaku memadamkan api karhutla di beberapa kecamatan. (RAMA SIHOTANG/KP)
BELUM REDA: Jajaran tim pemkot bersama relawan masih berjibaku memadamkan api karhutla di beberapa kecamatan. (RAMA SIHOTANG/KP)  

Advertisement

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Samarinda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda pun mengusulkan perpanjangan status tanggap darurat untuk memastikan penanganan dan pemulihan berjalan optimal.

Advertisement

Kepala BPBD Samarinda Suwarso menegaskan, usulan tersebut merupakan hasil rapat internal dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan yang belum sepenuhnya pulih. Perpanjangan status darurat ini menjadi yang keempat kalinya, dengan usulan masa berlaku selama 20 hari terhitung mulai 20 Oktober 2026.

“Sudah kami rapatkan secara internal. Secara luasan, dampaknya memang tidak menyebar merata, tetapi masih ada titik-titik tertentu seperti kecamatan Sambutan dan Palaran yang terdampak cukup luas,” ujarnya, Rabu (21/10).

Menurut Suwarso, persoalan kekeringan juga masih memengaruhi pelayanan air bersih. Gangguan operasional PDAM membuat sebagian masyarakat tetap membutuhkan pasokan air, terutama untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), bukan untuk konsumsi.

Advertisement

“Karena itu, distribusi air bersih juga terus dilakukan, khususnya bagi warga yang terdampak gangguan pasokan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, di sisi lain, kebutuhan air untuk irigasi juga belum sepenuhnya teratasi. Kondisi Sungai Mahakam yang masih mengalami intrusi turut menjadi tantangan bagi pengolahan air baku. Bahkan, intake perumda Tirta Kencana di waduk Benanga sempat tidak beroperasi selama empat hari.

“Meski telah dilakukan pemompaan melalui dukungan Balai Wilayah Sungai (BWS), hasilnya belum maksimal dan baru mencapai sekitar 40 persen,” jelasnya.

Menurutnya, penanganan intens masih diperlukan. Mulai dari pemenuhan air bersih, kebutuhan irigasi, hingga penanganan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Kasus ISPA juga masih ditemukan sehingga perlu penanganan lebih lanjut.

Suwarso menambahkan, penanganan bencana tidak bisa hanya dibebankan kepada satu organisasi perangkat daerah (OPD), sehingga  perpanjangan status darurat diperlukan agar koordinasi lintas sektor tetap berjalan dan pemulihan dapat dilakukan secara menyeluruh. Pertimbangan lainnya, yakni hujan yang mulai turun belum menjamin kondisi kembali normal.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Hujan Guyur Balikpapan, Kaltim Bersiap Masuki Musim Hujan

Hujan Guyur Balikpapan, Kaltim Bersiap Masuki Musim Hujan

Setelah didera kabut asap selama sepekan terakhir, hujan akhirnya mengguyur wilayah Balikpapan pada Selasa (27/10/2026) siang.

Ancaman El Nino Terkuat Sepanjang Sejarah: Hujan di Kaltim Diprediksi Meredup hingga 2027   

Ancaman El Nino Terkuat Sepanjang Sejarah: Hujan di Kaltim Diprediksi Meredup hingga 2027  

Fenomena El Nino terkuat sepanjang sejarah diperkirakan bakal membayangi wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dalam waktu yang cukup panjang.

El Nino Masih Kuat, BMKG Peringatkan Hujan dan Angin Kencang di Sejumlah Daerah Termasuk Kalimantan

El Nino Masih Kuat, BMKG Peringatkan Hujan dan Angin Kencang di Sejumlah Daerah Termasuk Kalimantan

Meski El Nino kuat, BMKG sebut 13 daerah berpotensi hujan hari ini, termasuk Kalbar. Waspadai genangan, longsor, dan angin kencang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer