Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dekan Kesmas Unmul Sebut Lonjakan ISPA di Kaltim Jadi Tanda Peringatan Dini  

A
Penulis: Ainur Rofiah❯
Kabut asap masih menyelimuti Kota Samarinda hingga hari ini, Minggu (25/10). (AINUR/KP)
Kabut asap masih menyelimuti Kota Samarinda hingga hari ini, Minggu (25/10). (AINUR/KP)  

Advertisement

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Universitas Mulawarman (Unmul), Prof Iwan M Ramdan menilai lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur yang mencapai 327 ribu kasus hingga Oktober 2026 tidak bisa dianggap sepele, meskipun Kaltim tidak masuk 10 besar provinsi dengan kasus tertinggi nasional.

Dia menyebut, jika kasus ISPA di Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI Jakarta memang jauh lebih tinggi. Namun, dia mengingatkan dengan peningkatan jumlah kasus di Kaltim adalah tanda peringatan dini.

Advertisement

"Lonjakan kasus tidak bisa dianggap sepele walaupun tidak masuk 10 besar. Tetap perlu penanganan serius dan kewaspadaan dini," kata Iwan pada Minggu (25/10).

Menurutnya, penanganan serius sesuai standarisasi telah ada melalui Program Penanggulangan ISPA (P2 ISPA) di setiap Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten/Kota yang perlu digalakkan lebih serius pada situasi saat ini.

Advertisement

"Indikatornya pertama, case finding atau penemuan kasus. Kedua, sarana prasarana sudah memadai atau tidak. Ketiga, pencegahan kematian akibat komplikasi ISPA yang diperberat faktor lingkungan," jelasnya.

Iwan menjelaskan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada pencemaran udara. Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) beberapa minggu terakhir, kualitas udara di Kaltim dalam kategori buruk dengan indikator utama partikel PM 2,5 dan PM 10.

"Partikel ini kalau terhirup bisa mengiritasi saluran pernapasan bahkan masuk ke alveolus, masuk ke sistem peredaran darah. Dampaknya mempermudah masuknya bakteri atau virus penyebab ISPA," ujarnya.

Ia menegaskan, faktor biologis penyebab ISPA tetap bakteri atau virus, namun diperburuk oleh kualitas udara yang buruk. Kelompok rentan kata dia, dengan penyakit penyerta atau komorbid perlu mendapat perhatian serius. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Menembus Jalan Terjal demi Petani Kakao, Perjuangan Pendamping SIGAP Sejahtera di Pedalaman Berau

Menembus Jalan Terjal demi Petani Kakao, Perjuangan Pendamping SIGAP Sejahtera di Pedalaman Berau

SIGAP Sejahtera Berau dampingi 62 petani kakao di delapan kampung. Kendala administrasi lahan dan kemarau menjadi tantangan.

Tak Sekadar Berburu Medali, Powarda IV Kaltim Jadi Ajang Mempererat Solidaritas Wartawan

Tak Sekadar Berburu Medali, Powarda IV Kaltim Jadi Ajang Mempererat Solidaritas Wartawan

PORWADA IV Kaltim 2026 digelar di Balikpapan untuk mempererat solidaritas wartawan sekaligus menyiapkan atlet menuju Porwanas 2027.

Sampah Sudah Diolah Jadi Barang Berharga, Wabup Berau Pertanyakan Siapa yang Akan Membelinya

Sampah Sudah Diolah Jadi Barang Berharga, Wabup Berau Pertanyakan Siapa yang Akan Membelinya

Wabup Berau Gamalis dorong sampah jadi sumber ekonomi. Penguatan bank sampah dan akses pemasaran produk daur ulang jadi perhatian.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer