Pasien Asma dan PPOK Lebih Sering Kambuh, Dokter Paru Dirgahayu Soroti Paparan Asap Karhutla


KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Gangguan pernapasan pada pasien dengan penyakit paru kronis menjadi perhatian di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Rumah Sakit (RS) Dirgahayu Samarinda, dokter spesialis paru dan pernapasan menemukan pasien asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang mengalami kekambuhan lebih sering, meski sebelumnya relatif terkontrol dengan pengobatan rutin.
Dokter spesialis paru RS Dirgahayu, dr Emil Bachtiar Moerad, mengatakan, sejumlah pasien yang biasanya menjalani kontrol sebulan sekali kini kembali berobat dalam rentang dua pekan. Keluhan yang muncul antara lain batuk dan sesak napas yang semakin sering.
“Ini ada asma yang biasanya sebulan sekali datang untuk kontrol. Ini enggak, dua minggu sudah datang lagi karena batuk sama sesaknya lebih sering,” ujarnya, ditemui di Poli Paru Gedung St Theresia RS Dirgahayu, Senin (26/10).
Emil menjelaskan, asma dan PPOK merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan melalui pengobatan, tetapi tidak sepenuhnya sembuh. Kondisi tersebut membuat pasien rentan mengalami eksaserbasi atau perburukan gejala ketika terpapar faktor pemicu, termasuk partikel debu di udara.
Menurut dia, perubahan frekuensi kekambuhan tersebut patut diperhatikan. Meski demikian, ia belum dapat memastikan apakah peningkatan keluhan pasien secara langsung disebabkan paparan asap karhutla. Hal itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut. “Karena partikel-partikel debu itu yang masuk menjadi pemicu untuk eksaserbasi,” jelasnya.
Perburukan gejala juga dapat membuat pasien membutuhkan penyesuaian terapi. Emil menyebut, penanganan bisa dilakukan dengan mengembalikan dosis obat pengontrol ke tingkat sebelumnya apabila kondisi pasien memburuk. Pada pasien tertentu, dokter juga perlu mengevaluasi kemungkinan adanya infeksi sekunder, terutama ketika batuk disertai dahak kental dan demam.
“Kalau tadinya sudah terkontrol satu kali, saya kembalikan lagi dua kali begitu,” katanya, merujuk pada frekuensi penggunaan obat hirup sesuai kondisi pasien. Emil mengingatkan, kekambuhan penyakit paru kronis tidak boleh dianggap sepele. Pada kondisi berat, serangan asma dapat berkembang menjadi gagal napas dan mengancam nyawa. Karena itu, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak yang semakin berat.
Di tengah paparan polusi udara, pasien dengan riwayat asma maupun PPOK perlu tetap menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter dan menghindari faktor pemicu sejauh memungkinkan. Evaluasi medis juga diperlukan apabila keluhan menjadi lebih sering meski pengobatan rutin telah dilakukan. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




