Karhutla Pangkas Sumber Pakan Ternak di Samarinda, Peternak Terpaksa Beli Rumput

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga sektor peternakan. Lahan yang terbakar membuat sumber pakan alami ternak berkurang sehingga peternak kesulitan mencari rumput.
Kondisi ini memaksa mereka membeli pakan dengan biaya lebih besar karena harus mencari rumput hingga ke wilayah yang lebih jauh. Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapang Tani) Samarinda Maskuri mengatakan, dampak langsung karhutla terhadap kesehatan ternak belum ditemukan.
Namun, kebakaran justru mengganggu ketersediaan pakan, terutama bagi peternak sapi dan kambing, karena lahan yang sebelumnya menjadi tempat mencari rumput kini tidak lagi bisa dimanfaatkan.
"Harusnya peternak bisa mencari rumput sendiri, sekarang lahannya terbakar sehingga harus membeli dan jarak mengambilnya juga semakin jauh," ujarnya, ungkapnya Senin (2/11).
Baca Juga: Hadapi Potensi Kemarau Ekstrem 2027, Embung Lawe-Lawe PPU Disiapkan Jadi Cadangan Air Baku
Dia menjelaskan, kondisi tersebut turut meningkatkan biaya operasional peternak. Jika sebelumnya biaya pengambilan rumput berkisar Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu per pikap, kini bisa mencapai Rp 750 ribu.
Peternak di kawasan kelurahan Lempake dan Tanah Merah bahkan harus mencari rumput hingga Kelurahan Sungai Siring. "Kebakaran lahan dan hutan ini mengurangi sekitar 30–35 persen lahan sumber pakan ternak kita," jelasnya.
Menurut dia, kenaikan biaya pakan belum berdampak langsung terhadap harga jual sapi di pasaran. Sebab, pasokan sapi masih didominasi ternak dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi.
Sementara peternak lokal cenderung menahan penjualan hingga bobot sapi mencapai target. "Peternak menganggap ternak ini sebagai tabungan keluarga. Jadi, mereka akan menjual ketika bobotnya sudah sesuai harapan," paparnya.
Di sisi lain, Maskuri menyebut terdapat peningkatan laporan penyakit flu pada hewan peliharaan sepanjang Oktober. Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan kaitannya dengan kualitas udara akibat kabut asap.
“Layanan kesehatan hewan yang biasanya menerima dua hingga tiga kasus dalam sepekan, kini bisa menemukan dua hingga tiga kasus setiap hari,” pungkasnya. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




