BPBD Samarinda Catat 354 Kasus Karhutla, Luas Lahan Terbakar Capai 949 Hektare

SAMARINDA- Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Samarinda, tercatat sebanyak 354 kejadian kebakaran lahan dan hutan (karhutla) sepanjang musim kemarau hingga 3 November 2026. Total luas lahan yang terdampak mencapai 949,90 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso menyampaikan, intensitas kebakaran lahan masih tergolong fluktuatif. Salah satu kejadian besar terjadi di kawasan dekat TPA Sambutan, di mana api melahap lahan seluas 10 hektare.
"Pemadamannya harus menggunakan cairan khusus di situ karena ada dekat tumpukan ban bekas. Dengan cairan khusus itu kemarin kita bisa padamkan segera. Namun demikian karena memang areanya cukup terjal, merembet sampai ke kawasan Pelita 6," kata Suwarso, Selasa (3/11).
Suwarso menjelaskan, penanganan kebakaran di lokasi tersebut melibatkan gabungan Satgas Darat dari BPBD, Disdamkarmat, relawan, Satpol PP, BPBD Provinsi Kaltim, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Upaya pemadaman dilakukan hingga malam hari untuk mencegah api meluas.
Kejadian serupa juga terjadi di Kecamatan Sambutan tepatnya Kelurahan Sungai Kapih yang mencakup Gang Pipit, Gang Pulang, dan Jalan Padat Karya. Tidak berselang lama, titik api juga muncul di RT 6 Makroman sehingga tim harus bekerja ekstra cepat.
"Kondisi-kondisi ini memang cukup berat bagi kita, tapi tetap kita laksanakan pada malam tadi kita padamkan. Tapi semua itu butuh partisipasi masyarakat untuk melakukan patroli. Kalau ada kejadian api kecil itu harus sebaiknya dipadamkan terlebih dahulu," tegasnya.
Menurut Suwarso, fenomena kebakaran lahan dipicu oleh kombinasi cuaca panas, kondisi semak belukar yang kering, serta aktivitas manusia. BPBD pun mencatat terdapat lima orang yang kini tengah diproses oleh Polresta Samarinda akibat dugaan pembakaran lahan.
Menanggapi adanya curah hujan di Samarinda beberapa waktu lalu, Suwarso menyebut dampaknya belum signifikan terhadap penurunan titik api. Hujan yang turun masih bersifat lokal dan intensitasnya belum mampu membasahi lahan kering di titik-titik rawan secara merata.
"Untuk daerah-daerah yang selama ini frekuensi kebakarannya cukup lama dan luas, justru belum ada hujan deras. Kalau gerimis ada, dan itu belum mampu membasahi lahan-lahan yang kering tersebut yang harusnya bisa mencegah perluasan kebakaran," jelasnya.
Terkait ancaman terhadap hunian warga, Suwarso mengakui adanya beberapa insiden yang mendekati permukiman. Satgas Darat pun memprioritaskan tindakan pemblokiran api agar tidak menjalar ke bangunan penduduk atau pondok milik warga.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




