Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Terungkap Penyebab Gas LPG 3 Kilogram Langka di Samarinda, Perlu Skema Untuk Mencegahnya

Eko Pralistio • Minggu, 15 Juni 2025 | 14:23 WIB
Kelangkaan elpiji 3 kg sejatinya bukan disebabkan oleh kuota yang disediakan. (FOTO/RAMA SITOHANG)
Kelangkaan elpiji 3 kg sejatinya bukan disebabkan oleh kuota yang disediakan. (FOTO/RAMA SITOHANG)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali terjadi di Samarinda. Meski momen hari besar keagamaan telah berlalu, fenomena kelangkaan gas bersubsidi ini masih kerap terjadi pada waktu-waktu tertentu.

Untuk menekan harga yang melonjak tinggi di pasaran, Penkot Samarinda melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar operasi pasar. Pasalnya, harga gas melon di lapangan sudah menyentuh angka Rp 50 ribu per tabung, jauh di atas harga eceran tertinggi.

Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani, menjelaskan bahwa persoalan kelangkaan elpiji 3 kg sejatinya bukan disebabkan oleh kuota yang disediakan. Permasalahan utamanya justru muncul dari ketidaktepatan distribusi gas subsidi oleh kelompok yang seharusnya tidak berhak.

"Kalau dari sisi kebutuhan masyarakat, sebenarnya cukup. Tapi lihat saja tulisan di tabungnya, jelas tertulis 'Hanya untuk Masyarakat Miskin'. Namun, banyak warga mampu dan usaha katering besar juga ikut membeli," beber Nurrahmani, Minggu (15/6).

Fenomena ini, menurut Nurrahmani, memicu hukum ekonomi berjalan liar. Dimana, permintaan yang melebihi kuota akhirnya mendorong harga melambung tak terkendali. 

Untuk itu, pihaknya menegaskan bahwa operasi pasar yang digelar bukanlah program pasar murah, melainkan pengendalian harga sesuai aturan.

"Harga tetap mengacu pada harga eceran tertinggi, yaitu Rp 18 ribu per tabung," tegasnya.

Usai operasi pasar, Pemkot Samarinda berencana duduk bersama dengan Pertamina, agen, dan pangkalan untuk mengevaluasi distribusi LPG subsidi agar benar-benar tepat sasaran.

"Kita butuh komitmen bersama semua pihak. Agar distribusi LPG subsidi ini benar-benar tepat sasaran," tegasnya.

Untuk meminimalisir penyimpangan, Nurrahmani mengusulkan adanya dua skema harga LPG 3 kg. Ide ini didasarkan pada fenomena bahwa sebagian masyarakat memilih gas 3 kg bukan semata karena harganya murah, melainkan karena kepraktisannya.

"Banyak yang memilih karena praktis. Kalau memang praktis yang dicari, kenapa tidak dibuat tabung yang sama untuk nonsubsidi? Misalnya, subsidi tetap Rp 18 ribu, sementara nonsubsidi Rp 35 ribu. Dengan begitu, masyarakat mampu tetap bisa membeli tanpa mengganggu kuota subsidi," paparnya.

Pada bagian lain, seorang warga Kecamatan Samarinda Ilir, Lis, mengaku sangat terbantu dengan adanya operasi pasar ini. Dia mengatakan, harga gas melon di pasaran liar kini jauh melampaui harga resmi.

"Kalau di operasi pasar saya beli Rp 18 ribu, pakai surat pengantar dari pangkalan. Tapi di luar, harganya bisa sampai Rp 50 ribu per tabung. Banyak yang jual segitu," keluhnya.

Editor : Uways Alqadrie
#pertamina patra niaga areal kalimantan #gas elpiji langka #pemkot samarinda