Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kasus HIV di Samarinda Meningkat, Ternyata Ini Penyebab dan Segini yang Terpapar

M Hafiz Alfaruqi • Selasa, 19 Agustus 2025 | 19:38 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda-Ismid Kusasih
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda-Ismid Kusasih

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda Ismid Kusasih menegaskan, persoalan HIV bukan semata soal meningkat atau tidaknya jumlah kasus, melainkan bagaimana pemerintah daerah serius dalam penanganannya. Hal itu menyusul maraknya kabar mengenai meningkatnya kasus HIV di Kota Tepian.

“HIV ketika dijadikan salah satu dari 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), persoalannya memang harus diseriusi,” jelasnya, Selasa (19/8).

Dalam SPM bidang kesehatan, ada dua penyakit menular yang menjadi perhatian khusus, yakni HIV dan TBC. Kunci utama penanganannya adalah melalui screening agar penderita bisa segera mendapatkan pengobatan. “Semakin cepat menemukan penderita, semakin cepat pula diobati. Prinsipnya sama, bagaimana mengurangi risiko kematian,” terangnya.

Berdasarkan data Diskes, tahun lalu melalui screening ditemukan sekitar 500 kasus positif HIV dari puluhan ribu orang yang diperiksa. Mereka kini masuk dalam pengobatan rutin. Tahun ini, jumlah penderita yang sedang menjalani terapi pengobatan mencapai sekitar 2.000 orang. “Bukan 20 ribu ya, tapi 2 ribu yang dalam pengobatan teratur. Kalau screening memang lakukan sampai puluhan ribu.” imbuhnya.

Pengobatan rutin, lanjut Ismid, penting mencegah HIV berkembang menjadi AIDS. Pasalnya, bila pasien sudah memasuki tahap AIDS, risiko kematian meningkat drastis. “Makanya prinsip pengobatan sama seperti Covid-19 dulu. Tidak bisa hanya dikerjakan tenaga kesehatan, tapi harus ada kolaborasi semua pihak, dari hulu sampai hilir,” katanya.

Selain peran tenaga medis, dia menilai faktor pendidikan, sosial, hingga keagamaan juga perlu dilibatkan. Pasalnya perilaku seksual menyimpang berisiko masih menjadi penyumbang terbesar kasus HIV di Samarinda. “Kasus tertinggi itu dari lelaki seks dengan lelaki (LSL). Itu perilaku seksual menyimpang yang mendominasi. Selain itu ada juga perilaku seks bebas. Jadi itu bukan hanya urusan kesehatan, tapi lintas stakeholder,” tegasnya.

Dengan pendekatan komprehensif, Ismid berharap penderita HIV di Samarinda bisa terus mendapatkan pengobatan tepat waktu, sekaligus menekan potensi penularan baru di masyarakat.

“Kuncinya tetap pada screening secepat mungkin. Kalau cepat ditemukan, cepat diobati, risiko berat bisa ditekan,” pungkasnya.

Editor : Dwi Restu A
#meningkat #penyebab #hiv #samarinda