KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Pembangunan insinerator komunal di Samarinda terus bergerak, dengan satu perubahan penting dalam beberapa pekan terakhir, yakni dari rencana awal 10 titik, kini hanya sembilan lokasi yang disiapkan. Namun jumlah mesin tidak berkurang, tetap 10 unit, karena Kecamatan Sungai Kunjang tepatnya di Jalan Nusyirwan Ismail (belakang TPS Lok Bahu), diproyeksikan menampung dua mesin sekaligus.
PPK Pembangunan Insinerator, Dinas PUPR Samarinda Ilhamsyah memastikan perubahan titik ini bukan pengurangan proyek. Melainkan penyesuaian kondisi lapangan agar fasilitas bisa berdiri dan berfungsi sebagaimana rencana awal. “Total sembilan titik untuk sepuluh mesin. Karena di Jalan Nusyirwan Ismail, rencana dua mesin masuk,” jelasnya, dikonfirmasi, Jumat (14/11).
Dari seluruh lokasi, beberapa titik sudah hampir rampung khususnya bangunan penunjangnya yakni di Polder Air Hitam, Jalan Nusyirwan Ismail, Jalan Wanyi, Jalan Lempake Jaya, Simpang Pasir, dan eks TPA Bukit Pinang disebut progres pembangunannya mendekati 100 persen. Sementara kelurahan Tani Aman, kelurahan Baqa, dan kelurahan Handil Bakti, masih dalam tahap pembangunan fisik. “Secara umum, pekerjaan pembangunan insinerator mencapai sekitar 75 persen,” terangnya.
Ilhamsyah menegaskan, kendala yang sempat menghambat pada beberapa lokasi kini sudah dibereskan. Misalnya kendala lahan kini sudah fix semua. “Kini pelaksana tinggal ngejar pembangunan saja,” katanya.
Dari sisi teknis, perakitan mesin dilakukan langsung oleh penyedia alat. Untuk satu titik, proses instalasi diperkirakan memakan waktu normal sekitar dua minggu. Tahapan ini berlangsung paralel agar seluruh mesin bisa segera dioperasikan begitu infrastruktur dasar siap. “Nanti dikerjakan langsung tim penyedia alat,” singkatnya.
Sebagai informasi, pembangunan insinerator komunal menjadi salah satu program strategis Pemkot Samarinda untuk memperkuat pengelolaan sampah. Dengan sembilan lokasi yang kini disiapkan, pemerintah berupaya mengejar ketertinggalan layanan persampahan, sekaligus menepis persoalan klasik mengenai ketersediaan lahan dan kecepatan penanganan.
“Jika seluruh unit beroperasi tepat waktu, beban TPS dan TPA bisa berkurang signifikan, memberi ruang bagi kota untuk menata sistem yang lebih modern dan efisien,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani