SAMARINDA - Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda mulai bersiap menahan gejolak harga bahan pokok dan penting (bapokting) yang mulai merangkak naik. Sebagai langkah awal, pemkot akan menggelar penjualan cabai dan bawang merah pada Minggu (14/12) di area Car Free Day (CFD) Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Samarinda Kota.
Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani, menjelaskan penjualan di CFD ini merupakan inisiatif uji coba sebelum operasi pasar digelar penuh. “Harga cabai mahal, kita nanti jualan di CFD GOR Segiri,” ujarnya, Jumat (12/12).
Ia menegaskan bahwa Disdag bukan produsen dan tidak mengambil keuntungan dari penjualan tersebut. Penjualan dilakukan dengan harga modal untuk membantu warga menyambut Natal. Menurutnya, pembatasan jumlah pembelian diterapkan untuk menjaga pemerataan. Kuota awal pun tidak besar.
“Kita masih coba dulu. Dulu waktu harga cabai mahal, kami jual pun tidak terlalu banyak. Artinya mungkin sebenarnya yang ribut itu penjual. Tapi mungkin ini momen Natal, pengguna rumah tangga yang lebih banyak,” jelasnya.
Untuk tahap awal, Disdag hanya menyiapkan satu karung cabai, dan jika habis, akan langsung ditambah. Bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan distributor yang siap memasok tanpa mengambil untung. Ia memastikan tidak ada subsidi dalam kegiatan ini.
“Kalau operasi pasar baru ada subsidi. Ini kan belum, baru ingin menunjukkan kehadiran kami (pemerintah) di lapangan. Jadi hari Minggu kita coba jual bawang merah dan cabai,” singkatnya.
Ia menambahkan, ini pertama kalinya mobil inflasi Pemkot Samarinda masuk ke CFD.
Penjualan di CFD akan menjadi dasar kajian untuk langkah selanjutnya. Disdag ingin memetakan kebutuhan riil masyarakat sebelum operasi pasar dilakukan lebih besar. “Misal kami sediakan 50 kilogram, tapi tidak dijual kiloan, hanya seperempat-seperempat. Kita lihat dulu responsnya,” terangnya.
Jika kebutuhan terbukti besar, penjualan dapat diulang pada minggu berikutnya.
Namun, ia mengingatkan pesan Wali Kota Samarinda agar operasi pasar tidak dilakukan berlebihan. Intervensi hanya dilakukan ketika kondisi benar-benar mendesak, misalnya harga melonjak tidak wajar dan pasokan tidak tersedia. “Kalau mendesak, baru kita gelar operasi pasar,” sebutnya.
Dia menambahkan, dalam rapat terakhir bersama distributor, penyebab kenaikan harga cabai dipastikan berasal dari sentra produksi. Hujan berkepanjangan membuat panen tidak optimal. Selain Sulawesi, pasokan cabai dan bawang untuk Samarinda juga berasal dari Surabaya dan Banjar.
“Ketika di Sulawesi panennya tidak bagus, mereka penuhi kebutuhan wilayahnya dulu ketimbang kirim ke luar,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan