KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Renovasi besar-besaran yang tengah berlangsung di Samarinda Central Plaza (SCP) tak luput dari perhatian DPRD Samarinda. Komisi III bersama dinas terkait melakukan sidak untuk memastikan sistem keselamatan gedung dan pengolahan limbah (IPAL) di pusat perbelanjaan tersebut berjalan baik, Jumat (6/3).
Ketua Komisi III DPRD Samarinda Deni Hakim Anwar mengatakan, saat ini manajemen SCP sedang melakukan renovasi menyeluruh, baik di bagian interior maupun eksterior bangunan. "Termasuk juga pembenahan fasilitas proteksi kebakaran dan instalasi pengolahan limbahnya," ujarnya, Jumat (6/3).
Dalam peninjauan itu, DPRD melihat sejumlah perbaikan pada sistem keselamatan gedung, termasuk jalur evakuasi serta pemasangan sprinkler yang sebelumnya menjadi catatan saat kunjungan beberapa tahun lalu. "Dulu sprinkler belum ada di setiap titik, sekarang sudah dilengkapi," jelasnya.
Pembenahan tersebut juga merupakan tindak lanjut dari kejadian kebakaran mobil yang pernah terjadi di area parkir mal pada 2024.
Namun demikian, Komisi III memberikan catatan terkait sistem hidran yang masih mengandalkan sistem cadangan (backup). "Kami minta dipastikan sistem backup ini benar-benar mampu mendukung seluruh aktivitas di mal jika terjadi keadaan darurat," tegasnya.
Selain itu, DPRD juga meninjau fasilitas grease trap dan bio-tank pada sistem pengolahan limbah SCP. Pengecekan ini dilakukan menyusul insiden bocornya limbah pembuangan SCP pada Desember 2025 lalu akibat kerusakan pompa.
Menurut laporan manajemen, pompa tersebut kini telah diganti sehingga pembuangan limbah kembali berjalan normal.
Meski demikian, Komisi III masih menerima laporan dari masyarakat terkait bau yang diduga berasal dari salah satu tenant di dalam mal. "Kami mendapat laporan ada tenant yang IPAL-nya masih menimbulkan bau. Ternyata pengolahan limbahnya dilakukan secara mandiri oleh tenant, meskipun tetap dimonitor oleh pihak SCP," ungkapnya.
Karena itu, DPRD meminta manajemen memastikan seluruh tenant mematuhi standar pengelolaan limbah agar tidak mengganggu pengunjung.
“Jangan sampai masyarakat datang ke mal untuk makan atau berkunjung, tapi terganggu karena mencium bau limbah,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki