KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Polemik penolakan pasien kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di RSUD Inche Abdoel Moeis (IA) Samarinda mulai menemukan titik terang. Setelah klarifikasi dari manajemen rumah sakit, Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda memastikan hasil mediasi dengan relawan mengarah pada pembenahan layanan secara menyeluruh.
Kepala Diskes Samarinda dr Ismid Kusasih mengatakan, pihaknya telah memfasilitasi pertemuan antara RSUD IA Moeis dan relawan melalui Info Taruna Samarinda (ITS). Dari pertemuan tersebut, sejumlah kesepakatan penting berhasil dicapai. "Alhamdulillah, hari ini sudah ada titik temu. Kesepakatan yang dihasilkan lebih mengarah pada perbaikan ke depan," ujarnya, Rabu (25/3).
Salah satu poin utama adalah penegasan dari pihak rumah sakit bahwa tidak akan ada penolakan terhadap pasien, khususnya kasus kecelakaan lalu lintas. Selain itu, manajemen RSUD IA Moeis juga berkomitmen melakukan pembenahan internal. "Termasuk tadi sudah disampaikan, untuk kasus sebelumnya telah diberikan sanksi kepada petugas, sekitar 19 orang, sesuai aturan yang berlaku," jelasnya.
Tak hanya itu, langkah konkret lain yang dinilai positif adalah rencana pertemuan berkelanjutan antara relawan ITS dan pihak rumah sakit. Forum itu bertujuan menyamakan persepsi terkait standar operasional prosedur (SOP) dan teknis penanganan pasien di lapangan.
"Itu yang paling baik. Nanti akan ada komunikasi berkelanjutan, supaya relawan dan rumah sakit punya pemahaman yang sama dalam penanganan pasien," tegas Ismid.
Diskes Samarinda menegaskan, secara struktural rumah sakit memang berada di bawah Dinas Kesehatan Samarinda. Namun, dalam operasional pelayanan, tanggung jawab utama berada pada manajemen dan direktur rumah sakit.
"Saya melihat direktur RSUD IA Moeis sangat responsif. Penanganan itu bahkan tidak sampai 24 jam. Artinya ada komitmen kuat untuk segera memperbaiki," ungkapnya.
Dia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. Menurutnya, sistem pelayanan kesehatan tidak bisa berjalan optimal tanpa kolaborasi semua pihak, termasuk relawan. "Kami belajar dari pengalaman, termasuk saat pandemi Covid-19. Pelayanan kesehatan itu harus kolaboratif. Kalau semua pihak bekerja sama, hasilnya pasti lebih baik," pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A