
KALTIMPOST.ID - Suara paling bising tidak selalu lahir dari ribuan orang yang memenuhi jalan raya. Kadang ia bersembunyi di ruang yang sempit, di antara tumpukan buku yang belum sempat diperiksa, dan aroma kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Di sanalah keyakinan saling berkelindan tanpa pengeras suara, tanpa spanduk, tanpa barikade. Yang tersisa hanyalah kata-kata yang perlahan berubah menjadi senjata, mengiris persahabatan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Ruang guru terasa lebih gaduh daripada suara di jalanan. Rendra menatap layar gawainya. Tayangan memperlihatkan lautan mahasiswa yang bergerak perlahan menuju pusat kota dalam demonstrasi bertajuk ‘Aksi Menuju Indonesia Bangkrut’.
Lima tuntutan menjadi nadi aksi hari itu. Massa menuntut penghentian pemborosan APBN, turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM nonsubsidi, hentikan MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, akhiri militerisme di ranah sipil, serta mendesak pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak dari kritik.
Baca Juga: Garis Terakhir, Cerita Pendek Karya Sugiyarno Sutoko
Rendra menyimak tanpa berkedip, seolah setiap kalimat sedang mencari tempat untuk berdiam di dalam kepalanya.
Di seberang meja Rendra, Surya menutup map nilai yang sedang diperiksanya. Ia tidak menoleh sedikit pun.
“Masih saja ditonton.”
“Kenapa? Bukankah kita harus tahu apa yang sedang terjadi?”
Surya akhirnya menatap rekannya. Tatapannya datar, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih keras daripada kata-kata.
“Tahu saja tidak akan mengubah keadaan.”
“Setidaknya mereka tidak diam.”
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




