
Cerita Pendek Karya Fajar Djafri
“Le, ayo segera daftar!” desak Laras kesal. Ia melirik ke arah Legi yang duduk tidak jauh darinya. Bukannya melakukan pendinginan usai berlari bersama menjajaki lintasan joging, Legi malah mengeluarkan ponsel. Tangan dan matanya bersiap memainkan Mobile Legends. Ia rupanya sudah janjian dengan Rian, sohibnya, melalui sambungan daring.
Sembari menunggu game dimulai, Legi membuka botol minuman dan meneguknya beberapa kali hingga tersisa setengah. Keringat mengucur deras dari pori-pori kulit tangan, tengkuk, dan dahinya, membuat jersey yang ia kenakan basah dan lengket di badan.
Di ujung saluran, Rian sudah menanti. Suaranya terdengar jelas, mengarahkan Legi untuk segera beraksi.
“Jangan lari terus, tuh minion lagi tersebar di mana-mana, Le!”
"Rian, bersihkan minion-nya aja, fokus minion! Jangan pedulikan hero musuh!" teriak Legi panik. Matanya fokus pada layar ponsel dan kedua jempolnya bergerak lincah di atas layar.
Baca Juga: Para Pencari Raungan Keadilan; Cerita Pendek Karya Wahdi Anwar
"Nggak sempat, Le... MM mereka bebas nembak menara utama... kalah kita," suara Rian meninggi, terdengar jelas di kuping Laras. Penasaran, Laras pun melirik lewat ekor matanya.
"Yah, defeat. Kena epic comeback kan. Padahal di awal game kita sudah menang banyak," umpat Legi kesal. Raut wajahnya memerah dan dengus napasnya terdengar jelas. Ia meneguk kembali sisa air di botolnya hingga tandas.
“Sudah selesai mainnya?” protes Laras sewot. Permintaannya agar Legi segera mendaftar sama sekali tidak digubris.
“Iya, besok saja. Toh ini masih hari pertama registrasi. Santai dulu,” kata Legi sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. Acuh.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




