“MEREKA membicarakanmu, Mai?”
“Aku gak peduli,” jawab perempuan kurus berambut sepunggung itu. Ia memilih fokus pada lembar-lembar hasil ulangan siswa dan mengabaikan soal pemberitaan buruk terkait dirinya.
Mai adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di kota ini. Prestasinya cukup mentereng. Beberapa kali ia berhasil membawa pulang piala dan beragam penghargaan dari ajang tingkat provinsi untuk sekolahnya. Selain mengajar, ia juga dipercaya menjadi pembimbing beberapa ekstrakurikuler: public speaking, seni tari, musik, dan karya ilmiah remaja.
Di kota ini orang akan gentar mendengar namanya disebut. Sekolah mana pun akan takut jika harus berhadapan dengan siswa-siswi didikan Mai. Selain pembawaannya yang tegas, caranya menatap sudah cukup menyurutkan nyali siapa pun.
Keduanya matanya seperti pisau yang menancap tajam nyali siapa pun di hadapannya. Apa lagi kalau ia sudah diberi kesempatan untuk berbicara di depan guru-guru lain. Semua tertunduk takut. Kata-katanya menyihir. Kalimatnya kokoh, tegas, enak didengar namun mematikan. Keahlian semacam ini pernah ada pada diri seorang Soekarno.
“Kau tidak ingin coba berhenti, Mai?” tanya lelaki yang sudah dua setengah tahun ini menjadi kekasih Mai. Wajahnya tampak ragu ketika mengucapkan itu. Mai hanya melirik sekilas, kemudian ia kembali fokus menyelesaikan koreksi lembar jawaban ulangan semester siswa.
Mai lulus dengan predikat memuaskan dari sebuah kampus swasta yang ada di kota kelahirannya. Orangtuanya berharap ia bisa mendapatkan pekerjaan yang baik sesuai dengan kompetensi pendidikan yang ia punya. Menjadi akuntan di sebuah perusahaan asing, teller di sebuah bank swasta dengan dandanan rapi, atau profesi lain yang gajinya standar luar negeri.
Sesialnya nasib, mereka berharap setidaknya Mai tidak menjadi seorang guru.
Namun, fakta berkata lain. Justru profesi itu yang ia idam-idamkan. Begitu ijazah di tangan, ia langsung membuat surat lamaran kerja ke beberapa sekolah. Tak sulit baginya, dengan predikat memuaskan itu, mendapatkan pekerjaan. Apalagi hanya sekelas guru.
Faktanya negeri ini masih sagat kekurangan guru meskipun pada dasarnya masalah terbesarnya adalah kekurangan anggaran. Mai kemudian diterima menjadi pengajar di salah satu SMA swasta di kota ini yang tidak pernah punya prestasi apa pun sejak pertama kali berdiri 30 tahun yang lalu.
Lelaki yang saat ini menjadi pacarnya setahun lebih awal mengajar di sekolah yang sama. entah bagaimana semua bermula ia lantas menyukai Mai. Secara fisik Mai memang cantik, walaupun tingkat kecantikannya masih di level rata-rata. Tapi, jika kecantikan itu dilihat dari etos kerja, disiplin, dan prestasi kerja, tak ada guru perempuan lain yang mengalahkannya.
Setahun setelah diterima di sekolah tersebut, ia sudah mempersembahkan sebuah piala untuk sekolah. Berkat didikannya, juara pertama lomba cerdas cermat tingkat SMA se-provinsi berhasil diraihnya. Sejak saat itu, penghargaan demi penghargaan seperti tetes hujan yang jatuh dari langit.
Hanya saja Mai harus berhadapan dengan garis takdir manusia. Tuhan tak pernah menciptakan mahluk yang benar-benar sempurna. Di balik prestasinya, kecantikannya, kinerjanya yang mengagumkan, ia memiliki satu kebiasaan yang bagi sebagian besar orang bertolak belakang dengan kesakralan profesinya.
Baru-baru ini kabar terkait dirinya begitu massif menyebar. Selang sehari usai Mai menjadi pemateri dalam workshop pembelajaran mendalam berita tentang dirinya yang kedapatan merokok di sela-sela jeda kegiatan sudah sampai ke telinga kepala dinas pendidikan setempat. Sebagai kekasih, lelaki yang sangat dibanggakan orangtuanya itu merasa perlu mengingatkan Mai. Ia sedikit banyak terkena efek buruk dari kabar tersebut.
“Apa benar yang bicarakan orang, Mai?” tanyanya ketika mengantar Mai pulang dari sekolah. Di dalam mobil yang jendela pintunya sengaja dibuka karena sepanjang jalan Mai terus merokok, ia ragu-ragu menanyakan hal itu. Bagaimanapun juga ia tetap harus mengingatkan Mai untuk bisa menahan diri.
“Mai?”
“Iya,” jawab Mai singkat. Ia kemudian menyalakan rokok terakhirnya. Dihisapnya dalam-dalam asap tembakau itu, ditahannya sedikit lebih lama lalu diembuskan asap itu dari mulutnya sambil menengadah hingga asap itu membentur langit-langit mobil.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Mai.”
“Pertanyaan apa?”
“Aku tahu kamu mendengar pertanyaanku tadi. Tolong, Mai. Aku gak enak dengan mereka kalau ….”
“Kalau apa?” potong Mai dengan nada tinggi.
“Sudahlah, Ben. Sejak awal kamu tahu, kan, kalau aku suka merokok?”
“Iya, Mai. Aku tahu. Masalahnya mereka tidak ….”
“Itu masalah mereka, kan? Kenapa kamu yang harus repot?”
“Tapi kamu pendidik, Mai. Kamu guru. Kamu harus bisa menjaga sikap baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Tak ada toleransi bagi profesi kita untuk bersikap masa bodoh di luar sekolah. Tak ada, Mai.”
“Oh, begitu. Apa dasar hukum yang kamu pakai untuk mengatakan itu?”
“Jangan mendebatku, Mai.”
“Aku tidak ingin mendebatmu. Aku hanya tanya dasar hukum apa yang kamu pakai.”
“Aku yakin kamu sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu, Mai.”
“Tidak. Aku beneran tidak tahu. Dan lagi sejak kapan, sih, kamu peduli omongan mereka?”
“Sejak kabar itu sampai di telinga orang tuaku.”
Mendengar jawaban lelaki itu, Mai lantas diam.
“Papa ditegur kepala dinas. Bahkan kemarin ia baru saja menghadap bupati. Papa memintaku untuk ….”
Ben tidak berani melanjutkan kata-katanya. Lelaki itu memilih ikut diam. Ia sadar Mai sudah tidak tertarik dengan obrolan. Dan kesunyian menyelimuti keduanya sepanjang perjalanan. Suasana dalam mobil itu begitu sunyi, sepi. Hanya ada suara AC mobil yang terdengar hingga kendaraan berwarna gelap itu tiba di depan pintu gerbang rumah Mai. Tanpa mengucapkan salam pepisahan, Mai membuka pintu dan turun dari mobil. Sekian detik sebelum menutup pintu mobil, Mai berkata tegas.
“Soal undangan pernikahan itu, aku serahkan sepenuhnya sama kamu. Kamu boleh tulis nama siapa pun di sana kecuali namaku!”
Mai lantas membanting pintu mobil kekasihnya yang baru saja ia putuskan dengan sangat kejam. (*)
Ali Mahfud. Guru di SMP Negeri 1 Randudongkal. Pernah meraih juara 1 Lomba Penulisan Cerita Rakyat tingkat Provinsi Kalimantan Timur tahun 2024 setelah di tahun sebelumnya di event yang sama meraih peringkat tiga. Karya yang pernah diterbitkan di antaranya: novela berjudul Beliant (Bentang Pustaka, 2017), Dongeng Hewan dan Nilai Moral (Elexmedia Komputindo, 2018), opini berjudul Paperless is Effortless (Tribunkaltim, 2022), antologi True Story berjudul Sekali Hijrah Selamanya Istiqomah (Diva Press, 2017), Pembelajar Bahasa, Apa Esesnsinya? (Trenlis, 2023), dan beberapa buku antologi fiksi maupun non fiksi. Penulis bisa disapa di akun facebooknya https://www.facebook.com/alimahfud84 atau e-mail: sastradanbudaya@gmail.com