KALTIMPOST.ID - Sekian tahun berprofesi sebagai guru dengan gaji segitu saja, jika tidak dibilang pas-pasan, Darsim diberi kesempatan meningkatkan pendapatan melalui program sertifikasi. Program ini, menurut versi dan harapan pemerintah, diciptakan untuk meningkatkan profesionalisme seorang guru dalam melaksanakan tugasnya. Namun versi lain dari para guru adalah, program ini semata hanya untuk meningkatkan pendapatan yang hanya “segitu” tadi.
Mendengar kabar bahwa dirinya terpanggil PPG (Program Profesi Guru) dan berkesempatan meningatkan penghasilan lewat jalur sertifikasi, Darsim segera membongkar semua dokumen yang tersimpan rapi di rumahnya.
Satu per satu map lusuh ia buka. Usai meniup keras-keras debu yang menempel manja di bagian luar, ia teliti lembar demi lembar kertas yang terjepit dalam map merah jambu yang sudah berubah warna menjadi abu-abu dengan ornamen sarang laba-laba menghiasai kedua sisi luarnya itu.
Sesekali senyum kecil tersungging di wajahnya manakala dokumen yang ia cari berhasil ditemukan. Sebagai seorang lelaki telaten dan patriotik yang sangat percaya dan hormat pada nilai-nilai luhur Pancasila, Darsim tidak mendapatkan kesulitan berarti mengumpulkan setiap dokumen yang diminta untuk keperluan sertifikasi tersebut.
Ijazah asli tentu ia punya, lengkap dengan transkrip nilainya yang juga asli. Kartu Tanda Penduduk, kartu keluarga, pas foto berwarna berukuran 4x6 cm. Semua lengkap dan siap diunggah sebagai prasyarat mengikuti PPG.
Bersama beberapa guru senior yang dalam hitungan jari menjelang pensiun, yang sama-sama mendapat panggilan PPG, lelaki parlente itu pergi menuju sebuah kota. Bukan untuk berbelanja atau menikmati hiruk pikuk dunia, tetapi untuk mencari jaringan internet.
Ya, mereka harus mencari tempat strategis dengan sinyal internet yang cukup kuat untuk memudahkan proses unggah dokumen. Dibantu seorang operator sekolah yang ahli di bidang teknologi, satu per satu dokumen para gerombolan pejuang kesejahteraan itu mulai diunggah.
Senyum bangga tergaris jelas dan tegas di wajah Darsim manakala semua dokumen berhasil diunggah tanpa halangan dan rintangan apapun.
Satu bulan. Dua bulan. Beberapa bulan berlalu begitu cepat. Para petani sudah merasakan panen berkali-kali. Ribuan ayam petelur sudah mendekati masa menopause. Musim kemarau, musim hujan entah berapa kali hadir secara bergantian. Namun, kabar baik sertifikasi belum juga datang.
Mestinya saat ini Darsim sudah mulai mengikuti pendidikan yang dilaksanakan secara daring. Mestinya dia sudah sibuk menyelesaikan modul dan menyiapkan diri untuk tes uji kinerja.
Namun, faktanya berbalik. Ia masih seorang guru yang tidak ada kesibukan selain mengajar dan menunggu tanggal gajian tiba. Darsim mulai khawatir. Ia takut pensiun sebelum merasakan uang sertifikasi.
Tetapi, satu hal yang sejatinya paling membuatnya takut dan tak sabar menunggu kabar baik sertifikasi tersebut adalah ia tak bisa beristri karena gaji yang ia terima hanya “segitu” saja.
Oleh teman seperjuangannya yang sudah empat bulan makan dari uang pensiun itu, Darsim diberi nasihat untuk tidak terlalu berharap.
“Biarkan gusti Allah yang mengatur dan mengurus rezekimu, Sim,” nasihat temannya yang pensiun itu.
“Aku ngerti, Kang,” jawab Darsim malas-masalan. Tapi sampean gak ngerti keadaanku.”
“Nggak ngerti gimana maksudmu? Jangan kau remehkan aku yang sudah pensiun ini, Sim. Bahkan isi celanamu yang cuma segitu itu pun aku tahu. Lalu bagian mana dari kamu yang aku nggak ngerti?”
Darsim mendelik. Ia tidak marah, hanya sedikit terkejut soal isi celana. Dalam hati ia bertanya-tanya dari mana pensiunan kemarin sore ini tahu ukuran aset berharga miliknya.
“Kamu takut gak bisa kawin kan, Sim?” ejek si pensiunan kemarin sore. Pertanyaannya langsung menusuk pertahanan Darsim. Wajah Darsim memerah, antara malu tertangkap basah dan jengkel. Ia bersungut-sungut. Hidungnya yang lebar kembang kempis.
“Dengar omonganku, Sim. Tidak semua wanita doyan uang sertifikasi. Percayalah.”
Darsim tak menanggapi. Ia menggeser posisi duduknya sedikit menjauhi pensiunan itu.
“Sebut saja perawan mana yang kamu suka, akan aku datangi rumahnya. Aku tembung orang tuanya. Aku pastikan pada mereka bahwa kamu lelaki gagah yang tidak butuh sertifikasi untuk membuktikan kegagahanmu.”
Darsim tak juga menanggapi. Kali ini ia setengah memunggungi si pensiunan.
“Kalau kamu masih tak yakin, ragu, dan tak percaya dengan omonganku tapi sudah kebelet kawin, banyak janda yang mau menerima lelaki apa adanya. Kamu tahu sendiri kualitas janda di kampung kita ini nomor satu. Bukan kualitas ka-we, apalagi ka-we Thailand.”
Darsim masih enggan menanggapi. Ia malah berpaling, memutar wajahnya ke kiri atas, seakan muak dengan wajah kawan yang duduk di sebelah kanannya itu.
“Kalau kamu masih kurang sreg dengan stok janda yang ada sekarang, tunggu dua-tiga bulan lagi. Akan ada janda baru di kampung kita.”
Mendengar kata “janda baru”, Darsim sontak mendelik. Dengan gerakan supercepat, ia balikkan badan dan kembali berhadap-hadapan dengan kawan pensiunan itu.
“Siapa yang sampean maksud, Kang?” pertanyaan Darsim terdengar buru-buru.
“Hehehe…nanti juga kamu tahu, Sim.”
“Maksudmu Sinah?”
“Hahaha. Sudah kubilang, Sim. Aku tahu semua soal kamu, termasuk ‘aset’ pentingmu yang cuma ‘segitu’ itu.”
“Tolong, Kang. Tolong soal ini jangan sampai orang lain tahu.”
“Soal Sinah maksudmu?”
Si pensiunan itu tertawa terkekeh. Tawa yang menggugah batuk bengeknya yang sudah menahun. Sebenarnya bukan rahasia lagi kalau Darsim menaruh hati pada Sinah, perempuan muda yang sedang bermasalah dengan suaminya itu.
Ia juga seorang guru, ASN, golongan sembilan. Belum lama ini ia telah menerima SK pengangkatan sebagai pegawai negeri dengan perjanjian kerja di salah satu sekolah negeri.
Namun ketertarikan Darsim terhalang oleh KUA yang mengikat Sinah dengan suaminya. Kini pintu kesempatan mulai sedikit terbuka untuknya. Sinah dikabarkan sedang menggugat cerai suaminya yang berprofesi sebagai tukang sulap jalanan.
“Seperti kataku, Sim. Rezekimu biar gusti Allah yang atur.” (*)
Ali Mahfud. Guru di SMP Negeri 1 Randudongkal. Pernah meraih juara 1 Lomba Penulisan Cerita Rakyat tingkat Provinsi Kalimantan Timur tahun 2024. Penulis bisa disapa di akun facebooknya https://www.facebook.com/alimahfud84 atau e-mail: sastradanbudaya@gmail.com
Editor : Duito Susanto