
BALIKPAPAN — Memasuki musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius. PT ITCI Hutani Manunggal (IHM) menegaskan pendekatan pencegahan sebagai strategi utama, dengan memperkuat sistem terpadu yang melibatkan sosialisasi, patroli intensif, serta kesiapsiagaan tim dan peralatan di lapangan.
Langkah ini tidak hanya berfokus pada respons saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada upaya menekan potensi sejak dini. Fire Mandor PT IHM, Fauzi, yang telah bekerja selama 12 tahun, menyebut kesiapan menghadapi musim kering dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Kalau sudah beberapa hari tidak hujan, tim langsung siaga. Patroli dilakukan setiap hari, bahkan malam juga standby,” ujarnya.
Salah satu pilar utama pencegahan adalah sosialisasi yang menyasar tidak hanya karyawan, tetapi juga masyarakat sekitar hingga pengguna jalan yang melintas di area operasional perusahaan. Edukasi ini dilakukan secara rutin, baik melalui program tahunan maupun pendekatan langsung di lapangan.
“Sosialisasi terus dilakukan, baik ke karyawan, masyarakat, maupun pengguna jalan, apalagi saat musim kemarau,” kata Fauzi.
Di sisi operasional, pemantauan kondisi lingkungan dilakukan dengan indikator Fire Danger Rating (FDR). Ketika curah hujan rendah dalam beberapa hari, status kewaspadaan langsung ditingkatkan. Patroli difokuskan pada area rawan, termasuk wilayah perbatasan dengan lahan masyarakat, guna mendeteksi potensi titik api sejak awal.
Untuk mendukung respons cepat, perusahaan juga memastikan kesiapan peralatan, mulai dari kendaraan patroli, mobil operasional, hingga unit pemadam kebakaran. Selain itu, tersedia baby tank untuk suplai air, mesin pompa, serta peralatan pemadam portabel seperti mini striker yang digunakan untuk penanganan awal titik api kecil.
“Pengecekan rutin dilakukan setiap minggu, dan untuk mesin dilakukan uji fungsi setiap bulan,” jelasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




