Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pampang Padukan Budaya Dayak dan Teknologi 3D Printing  

M
Penulis: Maria Irham❯

 


Advertisement

DESA WISATA: Dosen dan mahasiswa bersama Pokdarwis Desa Budaya Pampang dan kelompok UMKM Lamin Pamung Tawai saat berada di Rumah Adat Lamin.
DESA WISATA: Dosen dan mahasiswa bersama Pokdarwis Desa Budaya Pampang dan kelompok UMKM Lamin Pamung Tawai saat berada di Rumah Adat Lamin. 

 

SAMARINDA- Potensi budaya Dayak Kenyah di Kelurahan Budaya Pampang belum sepenuhnya berbuah manfaat ekonomi bagi warga lokal. Mulai dari pengelolaan usaha, pelayanan yang belum seragam, serta variasi produk kerajinan yang terbatas menjadi tantangan utama.

Advertisement

Untuk menjawab tantangan tersebut, dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menjalankan program “Ecolodge Desa Pampang sebagai Model Ekowisata Berbasis Budaya Dayak Kenyah di Samarinda”.

Kegiatan ini merupakan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) pada platform BIMA tahun 2026. Mitranya adalah Pokdarwis Desa Budaya Pampang dan kelompok UMKM Lamin Pamung Tawai.

Pelatihan berlangsung dua tahap dan terlaksana dengan baik. Pada 1 Agustus 2026 di Rumah Adat Lamin, peserta belajar menyusun business plan ecolodge, pembukuan sederhana, dan pelayanan wisata.

Advertisement

Tahap kedua pada 17 Agustus 2026 berfokus pada peningkatan omzet UMKM dan diversifikasi produk teknologi 3D printing. Perajin yang selama ini hanya membuat ukiran kayu dan kerajinan dari manik kini memiliki mesin 3D printing. Desain yang dikembangkan terinspirasi dari budaya Dayak Kenyah seperti gantungan kunci Burung Enggang serta miniatur penari dan sape, lengkap dengan kemasan bermerek “Pampang Culture Lab”.

Ketua Pokdarwis Desa Budaya Pampang, Yusak Lukas AMd, menyambut baik program ini. “Kami berterima kasih kepada tim ITK dan Kemdiktisaintek. Dampaknya sudah kami rasakan, mulai dari memahami cara menyusun rencana usaha dan mencatat keuangan, sampai adanya produk baru untuk wisatawan. Kami mendukung penuh dan akan ikut menjalankan hasil pelatihan ini agar Pampang terus maju tanpa meninggalkan budayanya,” ujar Yusak Lukas.

Dengan bekal pengetahuan dan sarana produksi tersebut, Kelurahan Budaya Pampang diharapkan makin siap menjadi destinasi ekowisata yang membuat wisatawan tinggal lebih lama, memperkuat ekonomi warga lokal, dan menjaga kelestarian budaya Dayak Kenyah. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

ITK Dampingi Warga Mentari Village Olah Sampah Organik Jadi Eco-Enzyme

ITK Dampingi Warga Mentari Village Olah Sampah Organik Jadi Eco-Enzyme

ITK mengajarkan pengelolaan sampah tak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga mampu membangun kebiasaan ramah lingkungan

Cegah Sampah Organik Bebani TPA Manggar, Warga Kariangau Belajar Olah Sampah Sendiri

Cegah Sampah Organik Bebani TPA Manggar, Warga Kariangau Belajar Olah Sampah Sendiri

Zero Waste Berbasis Masyarakat yang didanai oleh Institut Teknologi Kalimantan ini dapat dicontoh bank sampah lain di Balikpapan.  

Antisipasi TPA Manggar Penuh, ITK Latih Bank Sampah Kariangau Berbenah   

Antisipasi TPA Manggar Penuh, ITK Latih Bank Sampah Kariangau Berbenah  

Pelatihan Manajemen dan Pemasaran Digital Bank Sampah yang diinisiasi Institut Teknologi Kalimantan digelar di RT 03, Kelurahan Kariangau

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer