Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Live In Angkatan VI SMA Katolik WR Soepratman 020 Samarinda

Khairul Anwar • Kamis, 19 Maret 2026 | 09:02 WIB

Peserta Live In Angkatan IV SMA Katolik WR Soepratman No 020 Samarinda bersama Kepala Adat Besar Wehea Ledjie Be Leang Song beserta narasumber Eksplorasi dan Temu Budaya di situs Engun Long Puhus.
Peserta Live In Angkatan IV SMA Katolik WR Soepratman No 020 Samarinda bersama Kepala Adat Besar Wehea Ledjie Be Leang Song beserta narasumber Eksplorasi dan Temu Budaya di situs Engun Long Puhus.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Masyarakat sosial sebagai pusat pembelajaran. Live In SMA Katolik WR Soepratman 020 Samarinda Angkatan ke-6 dilaksanakan di Desa Bea Nehas, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur.

Kegiatan yang dirancang khusus bagi peserta didik kelas XI Fase F ini dilaksanakan selama tujuh hari, mulai 21 hingga 27 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 90 peserta didik dan didampingi 12 guru pendamping.

Sebagai salah satu program tahunan sekolah, kegiatan ini dimaksudkan agar peserta didik, baik secara individu maupun kelompok, dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat yang memiliki latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang berbeda.

Peserta live in tidak hanya sekadar tinggal bersama orang tua asuh, tetapi juga mengikuti, mengalami, merasakan, serta berempati dan terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat setempat.

Melalui pengalaman nyata tersebut, siswa belajar tentang kesederhanaan, gotong royong, serta menghargai keberagaman, sekaligus mempraktikkan keterampilan hidup di lingkungan yang berbeda dari sebelumnya.

Kegiatan Live In SMA Katolik WR Soepratman 020 Samarinda ini bertujuan untuk meningkatkan kepekaan sosial, membentuk karakter, memperkuat pendidikan multikulturalisme, melatih kemandirian, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan persaudaraan.

Selain itu, kegiatan ini juga mendorong sikap toleransi serta kemampuan beradaptasi di lingkungan baru, menjadikan masyarakat sebagai pusat pembelajaran.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah persiapan, meliputi observasi lokasi, pembentukan panitia lokal dan guru pendamping, penentuan orang tua asuh, pembagian kelompok siswa, sosialisasi kepada orang tua/wali, serta pengecekan sarana transportasi.

Upacara Ritual Penyambutan peserta Live In angkatan VI SMA KATOLIK WR SOEPRATMAN 020 SAMARINDA oleh Kepala Adat Besar Wehea Bapak Ledjie Be Leang Song di halaman aula Desa Bea Nehas.
Upacara Ritual Penyambutan peserta Live In angkatan VI SMA KATOLIK WR SOEPRATMAN 020 SAMARINDA oleh Kepala Adat Besar Wehea Bapak Ledjie Be Leang Song di halaman aula Desa Bea Nehas.

Tahap kedua adalah pelaksanaan, meliputi pengarahan sebelum keberangkatan, perjalanan menuju lokasi, prosesi penerimaan melalui upacara adat, penyerahan peserta didik kepada orang tua asuh, perayaan misa, kerja bakti, olahraga persahabatan, serta aktivitas keseharian bersama keluarga asuh.

Seluruh kegiatan tersebut didokumentasikan dalam buku refleksi harian siswa sebagai bahan evaluasi.

Acara penyambutan peserta Live In Angkatan VI Tahun Pembelajaran 2025/2026 berlangsung meriah melalui upacara adat masyarakat Wehea. Kegiatan ini dihadiri aparat desa, tokoh adat, serta masyarakat setempat.

Kepala Adat Besar Wehea, Ledjie Be Leang Song, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan program yang patut didukung karena mampu menumbuhkan pendidikan multikulturalisme serta membentuk karakter generasi muda yang mulai kehilangan identitas.

Masyarakat Desa Bea Nehas diharapkan dapat bekerja sama dengan pihak sekolah agar program ini berjalan dengan baik.

Ketua panitia lokal, Bartolomeus Bit Diang, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi satu-satunya program sekolah yang mampu berkolaborasi langsung dengan masyarakat dalam memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi peserta didik.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah yang telah memilih Desa Bea Nehas sebagai lokasi kegiatan.

Diharapkan, kerja sama ini dapat terus berlanjut dan kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada tahun berikutnya.

Selama pelaksanaan, peserta didik tidak hanya menjalani aktivitas bersama orang tua asuh, tetapi juga mengikuti eksplorasi alam ke Air Terjun Seklul, kunjungan budaya ke situs Engun Long Puhus, malam refleksi bersama pastor paroki, napak tilas budaya, serta seminar budaya di lamin adat Desa Bea Nehas.

Dalam seminar budaya, disampaikan berbagai kearifan lokal masyarakat adat Wehea, termasuk rangkaian upacara adat Edat Te On yang memiliki tahapan dan makna berbeda sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Setiap tahapan memiliki nilai, aturan, serta tujuan untuk memperkuat ikatan sosial, menghormati kekuatan spiritual, dan menandai perjalanan hidup masyarakat adat.

Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran nyata bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sejalan dengan pepatah Latin, Non scholae sed vitae discimus, yang berarti “kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup”.

Pihak sekolah menegaskan bahwa kegiatan live in bukan sekadar studi tour, melainkan program pembelajaran yang memberikan pengalaman hidup secara langsung dan bermakna bagi peserta didik.

Selama kegiatan berlangsung, monitoring dilakukan secara berkala oleh panitia sekolah dan panitia lokal untuk memastikan seluruh aktivitas berjalan sesuai norma sosial, budaya, dan etika masyarakat setempat.

Acara puncak live in ditutup dengan “Malam Pentas Seni dan Keakraban” yang melibatkan peserta didik, orang tua asuh, dan masyarakat.

Kegiatan ini diisi dengan pertunjukan seni budaya, penyerahan cendera mata, serta ungkapan syukur bersama.

Kepala Sekolah, Rita Tipung Uvat, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak, mulai dari pemerintah desa, pemangku adat, panitia lokal, orang tua asuh, hingga masyarakat Desa Bea Nehas yang telah menerima peserta didik dengan penuh kehangatan.

Selain program Live In bagi kelas XI, sekolah juga secara bersamaan melaksanakan kegiatan rekoleksi untuk kelas X dan retret bagi kelas XII di lokasi yang berbeda.

Pihak sekolah berharap seluruh pemangku kepentingan dapat terus memberikan dukungan dan masukan agar setiap program pendidikan yang dijalankan dapat semakin baik di masa mendatang. (*)

Editor : Almasrifah
#Live In SMA Katolik WR Soepratman #Live in #kutai timur #kearifan lokal #Masyarakat Adat Wehea #SMA Katolik WR Soepratman 020 #Desa Bea Nehas