alexametrics Sukses Lobi Bank Dunia untuk Pembayaran Satu Juta Ton Karbon

Sukses Lobi Bank Dunia untuk Pembayaran Satu Juta Ton Karbon

Jumat, 26 Mei 2023 10:18

sukses-lobi-bank-dunia-untuk-pembayaran-satu-juta-ton-karbon

Tak mudah mendapatkan komitmen Bank Dunia. Perjuangan keras harus ditempuh Isran Noor. Negosiasi berlangsung dua hari berturut-turut.

================

SETELAH menuntaskan seluruh rangkaian pertemuan dengan pemerintah, kelompok tani, masyarakat, dan NGO yang melakukan pendampingan bagi warga sekitar Hutan Amazon, Gubernur Kaltim Isran Noor melanjutkan perjuangan ke Bank Dunia (World Bank) di Washington DC, Amerika Serikat.

Mantan ketua Apkasi itu berjuang mendapatkan dana kompensasi atas kelebihan penurunan emisi yang sudah berhasil dilakukan Kaltim dalam Program Forest Carbon Partnership Facility Carbon Fund (FCPF CF). 

Kabar gembira akhirnya datang setelah dua hari pertemuan maraton dilakukan Isran bersama pejabat Bank Dunia. Satu juta ton CO2e kelebihan penurunan emisi Kaltim untuk periode 2019–2020 akan dibayar oleh Carbon Fund (World Bank). 

“Alhamdulillah sepakat, 1 juta ton CO2e kita akan dibayar oleh Carbon Fund, Bank Dunia,” kata Isran, Rabu (10/5).  

Tak mudah mendapatkan komitmen Bank Dunia. Perjuangan keras harus dilakukan Isran Noor. Negosiasi dilakukan dalam waktu dua hari secara beruntun. Pertemuan pertama dilakukan setibanya dari Sao Paolo, Brasil, pada Selasa (9/5) sekitar pukul 14.00 waktu AS. Pertemuan hari pertama digelar selama tiga jam hingga pukul 15.00 waktu AS.

Pertemuan kedua dilanjutkan pada Rabu (10/5), mulai pukul 09.00 hingga 14.00 waktu AS. Seluruh pertemuan digelar di Kantor Pusat Bank Dunia di Washington DC, Amerika Serikat.

Gubernur menjelaskan kesepakatan 1 juta ton CO2e penurunan emisi itu akan menambah pendapatan Kaltim dari hasil pembayaran berbasis kinerja (result based payment) untuk penurunan emisi karbon Bumi Etam. Pun akan menambah kantong APBN melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan.

Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) itu mengungkapkan, Kepala Unit Management Fund Perubahan Iklim Bank Dunia Erwin De Nys memastikan, Carbon Fund akan membeli kelebihan penurunan emisi Kaltim untuk laporan pertama tahun 2019–2020 sebesar 1 juta ton CO2e dari total 10 juta ton CO2e.

“Adapun penentuan harga per ton CO2e akan dilakukan antara tim negosiator Kaltim dan Pemerintah Indonesia dengan tim Bank Dunia setelah laporan penurunan emisi pertama Kaltim diterima oleh Carbon Fund dari pihak auditor Bank Dunia,” sebut Isran.

Seperti diketahui bahwa Carbon Fund Bank Dunia menyetujui untuk membayar penurunan emisi Kaltim sebanyak 22 juta ton CO2e atau sebesar USD 110 juta.

Berdasarkan laporan pertama penurunan emisi, Kaltim berhasil menurunkan emisi dari 2019 sampai Desember 2020 sebanyak 32 juta ton CO2e. Artinya ada sekitar 10 juta ton CO2e kelebihan penurunan emisi yang bisa diperdagangkan.

Atas kepiawaian negosiasi Isran Noor itu, 1 juta ton CO2e dari kelebihan tersebut akhirnya disetujui akan dibeli oleh Carbon Fund dengan harga yang lebih besar dari pembayaran pertama. Dengan demikian, secara keseluruhan Carbon Fund akan membayar kompensasi penurunan emisi Kaltim sebanyak 23 juta CO2e.

“Kita patut bersyukur dengan kesepakatan ini dan berharap kelebihan penurunan emisi yang sekitar 9 juta ton CO2e juga bisa terbayarkan nantinya,” harap Isran. 

Selain berhasil melobi Carbon Fund World Bank untuk membeli 1 juta ton CO2e sisa penurunan emisi Kaltim periode 2019–2020, Isran pun sukses mengajak International Finance Corporation (IFC) untuk membantu memasarkan kelebihan penurunan emisi Kaltim yang masih tersisa sekitar 9 juta ton CO2e. IFC adalah lembaga donor pembangunan global terbesar yang berfokus pada sektor swasta.

“IFC akan membantu Kaltim untuk memasarkan kelebihan emisi sebanyak 9 juta ton CO2e kepada pihak multinasional swasta semisal Google, Delta Airlines, Microsoft, IKEA, Shell, Unilever, dan BP,” ungkap Isran.

Gubernur menjelaskan opsi pemasaran sisa penurunan emisi ini bisa dilakukan dalam tiga kemungkinan. Pertama dengan sistem perdagangan dua pihak (bilateral). Kedua, melalui proses lelang. Dan ketiga, didaftarkan ke bursa carbon (carbon exchange).

Kepada Isran, IFC bersedia membantu memfasilitasi Kaltim untuk perdagangan dua pihak (bilateral), antara Kaltim dengan pihak swasta atau melalui proses lelang.

Isran lalu mengurai gambaran dari dua proses pemasaran yang akan dilakukan. Pertama, proses pemasaran melalui perdagangan bilateral bisa memakan waktu dua sampai enam bulan, bergantung kesiapan dokumen perdagangan yang harus dipenuhi kedua belah pihak.

Jika perdagangan melibatkan pihak ketiga (broker), maka akan ada biaya pemasaran yang dibebankan kepada calon pembeli. Biaya tambahan pemasaran ini tidak berlaku untuk proses lelang.

Kedua, untuk pemasaran melalui proses lelang, maka calon pembeli akan lebih banyak. Sehingga harga penurunan emisi per ton CO2e bisa melebihi harga yang terjadi pada perdagangan dua pihak (bilateral).

“Proses persiapan lelang bisa memakan waktu satu bulan, namun transaksi lelang hanya dilaksanakan pada satu sampai dengan tiga hari,” tambahnya.

Menurut Isran, proses lelang lebih aman karena kepastian pembeli yang akan langsung melakukan transfer pembayaran atas hasil lelang kepada penjual melalui agen lelang. Sementara untuk pembayaran secara bilateral, proses pembayaran bisa saja terjadi keterlambatan, bahkan gagal.

Saat dua hari pertemuan itu, pejabat Bank Dunia yang hadir adalah Erwin De Nys (Practice Manager), Andres Espejo (Fund Manager), Siet Meijer (Coordinator of the FCPF, FMT), Evanshainia Syiem (Carbon Finance Specialist), Julian Gonzalo Jimenez (Senior Carbon Finance Specialist), Markus Pohlmann (Senior Counsel), Fabiano De Andrade Correa (Senior Counsel), Christopher Sturgess (FCPF FMT), Erin Tressler (Private Sector Engagement Specialist, FCPF), Steven Baillie (Principal Financial Officer), Basak Odemis (Climate Finance Unit), Mitik Ayalew Zegeye (Climate Change Analyst), dan Timila Dhakhwa (Climate Change Specialist).

Sementara delegasi Kaltim dipimpin langsung Gubernur Isran Noor didampingi Staf Khusus Gubernur Kaltim untuk Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Stepi Hakim. Pertemuan dilaksanakan di Kantor Pusat Bank Dunia, Washington DC, secara offline dan online yang dihadiri juga oleh staf Bank Dunia yang berada di London (UK) dan Afrika Selatan. (adv/sul/diskominfokaltim)