
KALTIM POST.ID,TEHERAN–Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian membara seiring berlanjutnya aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam sembilan hari terakhir. Meski Washington dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi perluasan operasi militer, keterbatasan pasokan amunisi AS diprediksi bakal menjadi penghalang utama terjadinya perang terbuka secara menyeluruh.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa armada militernya kembali membombardir sejumlah posisi strategis Iran pada Selasa (21/7). Sasaran tembak mencakup pusat komando, fasilitas maritim, situs peluncuran rudal dan drone, hingga sistem pertahanan udara Teheran.
Baca Juga: UMP Sawit 2027 Mulai Dibahas, Pemprov Kaltim Cari Titik Temu Pekerja dan Pengusaha
"Pasukan Amerika tetap siaga dan siap meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan yang tidak beralasan terhadap awak kapal sipil yang berupaya melintasi selat secara bebas dan terbuka," bunyi pernyataan resmi CENTCOM.
Di sisi lain, laporan internal mengindikasikan adanya kendala logistik yang serius di kubu Washington. Seorang pejabat AS membocorkan kepada The Washington Post bahwa persediaan amunisi jarak jauh dan sistem pertahanan udara AS kian menipis.
Baca Juga: Fokus Pengobatan Jantung, Nanik S Deyang Mundur dari Kepala Badan Gizi Nasional
"Kita tidak memiliki cukup amunisi untuk mempertahankan operasi dengan aman, dan saya rasa Gedung Putih tidak menyadari hal itu," ungkap pejabat yang enggan disebutkan namanya tersebut.
Perlawanan Sengit Iran
Merespons gempuran AS, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan yang menargetkan posisi-posisi militer AS di Bahrain, Yordania, dan Suriah. Pihak IRGC menegaskan tidak akan mundur dan menolak opsi diplomasikan janji-janji kompromi dari pihak musuh.
"Sekarang setelah Amerika yang kriminal sekali lagi memilih jalan kesalahan dan agresi, kami terikat teguh untuk memberikan 'pelajaran yang tak terlupakan' yang akan mencegah agresor mana pun mengulangi kesalahannya," tegas pernyataan resmi IRGC.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka menyatakan bahwa negaranya kini resmi berada dalam situasi pertempuran terbuka dengan AS. Pihaknya mengingatkan Washington untuk siap menanggung segala konsekuensi dari konflik bersenjata ini.
Kendati demikian, Pezeshkian menggarisbawahi bahwa ancaman terbesar yang dihadapi masyarakat Iran saat ini bukan hanya di garis depan pertempuran, melainkan pada ketahanan domestik.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




