Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

BMKG Prediksi Kaltim Mengalami Curah Hujan di Atas Normal Hingga 10 Hari ke Depan, Tiga Kabupaten Masuk Kategori Waspada Curah Hujan Tinggi

Rikip Agustani • Selasa, 3 Desember 2024 | 13:37 WIB
AWAS HUJAN DERAS: BMKG memprakirakan wilayah Kaltim akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi sampai dengan pekan depan.
AWAS HUJAN DERAS: BMKG memprakirakan wilayah Kaltim akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi sampai dengan pekan depan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan terjadi di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) hingga pekan depan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini curah hujan tinggi pada tiga kabupaten di Kaltim. Yakni Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kabupaten Kutai Barat (Kubar), dan Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) masih dalam kategori waspada. Dengan intensitas curah hujan 150 hingga 200 milimeter (mm)/dasarian.

Kepala Seksi Data dan Informasi (Kasi Datin) Stasiun Meteorologi (Stamet) SAMS Sepinggan Balikpapan Diyan Novrida dalam keterangan resminya menyampaikan informasi peringatan dini cuaca dan iklim dasarian (sepuluh hari) I Desember 2024, hingga dasarian III November 2024, seluruh wilayah Zona Musim Kaltim masih mengalami musim hujan. Berdasarkan tinjauan parameter iklim secara umum/global/regional, dari hasil monitoring El Niño Southern Oscillation (ENSO) Dasarian II November 2024, menunjukkan indeks ENSO berada pada -0.13 atau netral.

ENSO ini adalah fenomena iklim alami berskala besar, Yang melibatkan fluktuasi suhu lautan di Pasifik Khatulistiwa tengah dan timur. Ditambah dengan perubahan atmosfer di atasnya. Kemudian Indian Ocean Dipole (IOD) adalah -0.79 atau negatif, melewati batas ambang Netral yang sudah berlangsung selama 4 dasarian. Di mana IOD ini merupakan perbedaan suhu permukaan laut antara dua wilayah, yaitu di Laut Arab (Samudera Hindia bagian barat) dan Samudera Hindia bagian timur di selatan Indonesia.

“Indeks ENSO diprediksi berpotensi menuju potensi La Nina Lemah. Dan diprediksi berlangsung hingga periode Februari, Maret sampai April 2025. Sementara, IOD Netral diprediksi berlangsung mulai November 2024 hingga awal tahun 2025,” katanya, Senin (2/12).

Dengan demikian, diprakirakan cuaca 10 harian, mulai tanggal 1 hingga 10 Desember 2024 masih berpotensi terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Pada tanggal 1 sampai dengan 3 Desember 2024 terdapat potensi Hujan Sedang - Lebat di wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kota Bontang, Kota Balikpapan, dan Kota Samarinda.

Kemudian pada tanggal 4 hingga 6 Desember 2024, terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kabupaten Berau, Kota Samarinda, Kabupaten Kubar, Kabupaten Kukar, Kabupaten Kutim, Kota Balikpapan, dan Kota Bontang.

Selanjutnya pada tanggal 7 sampai 10 Desember 2024, terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Kabupaten Kubar, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kabupaten Kukar, Kabupaten Kutim, dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai fenomena masuknya musim hujan yang bersamaan dengan La Nina Lemah. Hal ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan hingga 20-40 persen.

Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025. Sebagai informasi, La Nina adalah fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.

"Kami mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapinya karena fenomena ini dapat berdampak signifikan pada kondisi cuaca. Utamanya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah perbukitan, lereng-lereng gunung, dataran tinggi, juga sepanjang bantaran sungai," ungkapnya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/11) lalu.

Dwikorita Karnawati menambahkan fenomena La Nina ini berpotensi mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi. Seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung. Di mana, beberapa faktor utama yang mempengaruhi cuaca dan iklim di Indonesia pada tahun 2025 adalah penyimpangan suhu muka laut di Samudra Pasifik, Samudra Hindia, dan perairan Indonesia.

Penyimpangan suhu di wilayah ini berhubungan erat dengan fenomena La Nina Lemah, yang berpotensi menyebabkan peningkatan curah hujan di Indonesia. Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga mempengaruhi distribusi hujan di wilayah Indonesia.

“Maka dari itu, dibutuhkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh komponen baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat,” katanya.

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan lautan, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia pada 2025 akan mengalami curah hujan tahunan dalam kategori normal, dengan jumlah berkisar antara 1.000 hingga 5.000 milimeter (mm) per tahun.

Sebanyak 67 persen wilayah Indonesia diprediksi akan menerima curah hujan lebih dari 2.500 mm per tahun (kategori tinggi), meliputi sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung bagian utara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, serta sebagian besar wilayah Papua.

Sementara itu, 15 persen wilayah lainnya, diprediksi mengalami curah hujan di atas normal, termasuk sebagian kecil Sumatera, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Maluku, dan Papua bagian tengah. Di sisi lain, 1 persen wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami curah hujan di bawah normal, seperti di Sumatera Selatan bagian barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara. (*)

Editor : Duito Susanto
#curah hujan #bmkg #kaltim