KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Mata melotot, taring tajam mencuat dari wajah gelapnya, dan kuku hitam panjang mencengkram udara seolah hendak menerkam.
Bertelanjang dada dengan sekujur tubuh berkelir kuning, ogoh-ogoh itu berdiri kokoh, siap diarak dalam prosesi menyambut Hari Raya Nyepi di Pura Jagat Hita Karana, Samarinda, Jumat (28/3).
Di pergelangan tangan kirinya terikat selembar kain putih, sama seperti di tangan kanannya, menambah kesan mistis pada sosok raksasa ini. Tangan-tangannya seolah menari, membawa pesan simbolis tentang pertarungan abadi antara dharma (kebaikan) dan adharma (kejahatan).
Sebelum arak-arakan dimulai, umat Hindu di Samarinda terlebih dahulu melaksanakan ritual Tawur Kesanga di pura. Prosesi ini menjadi bagian dari upacara penyucian, di mana persembahan dilakukan untuk menyeimbangkan alam semesta sebelum memasuki Tahun Baru Saka.
Ketika ogoh-ogoh mulai diarak, sorak sorai masyarakat yang menonton dan gamelan mengiringi langkahnya. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan simbol pembersihan diri dan alam dari segala energi negatif.
"Ogoh-ogoh ini melambangkan roh jahat dan kekuatan negatif yang harus disingkirkan sebelum Nyepi," ujar Ketut Witana, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Samarinda.
Selain nilai spiritualnya, ogoh-ogoh juga mencerminkan kreativitas dan kebersamaan masyarakat Hindu. Pembuatan patung raksasa ini melibatkan banyak tangan, mulai dari pemuda hingga orang tua, yang bahu-membahu menciptakan karya seni dengan detail menawan.
"Tahun ini, kami mengusung tema ‘Manawasewa Madawasewa’ yang artinya melayani manusia sama seperti melayani Tuhan," lanjut Ketut.
Sebagai wujud kepedulian terhadap sesama, komunitas Hindu di Samarinda juga mengadakan aksi sosial dengan membagikan nasi kotak kepada masyarakat, termasuk mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa.
“Dengan harmonis, kita bisa hidup lebih sejahtera dan damai,” tambahnya.
Saat malam semakin larut, ogoh-ogoh yang telah diarak mengelilingi kawasan Jalan Sentosa, Kecamatan Sungai Pinang itu akhirnya dibakar. Api membubung tinggi, melahap patung raksasa itu hingga hanya menyisakan abu. Pembakaran ini melambangkan penghancuran sifat buruk dan pelepasan segala beban negatif.
Editor : Uways Alqadrie