KALTIMPOST.ID-Rencana pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat tahun ini membuat ekonomi Kaltim terancam mandek.
Plt Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Ahmad Muzakkir menyebut, di tengah ketergantungan Kaltim terhadap batu bara yang menjadi sumber utama dana bagi hasil (DBH) membuat posisi sektor kelapa sawit Kaltim mampu memainkan peran yang sangat vital dan strategis dalam menopang ekonomi.
“Dari sisi penyerap tenaga kerja, sektor perkebunan hingga kini mampu menyerap 315.443 jiwa. Itu merupakan salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di luar sektor migas dan batu bara. Artinya kelapa sawit di dalamnya menciptakan lapangan pekerjaan yang stabil bagi ribuan masyarakat Kaltim. Khusus skema kemitraan dengan petani plasma, telah menjadi penggerak utama ekonomi wilayah dan dapat mengurangi disparitas ekonomi antar wilayah,” beber Muzakkir.
Selain itu, lanjutnya, kontribusi sawit juga terletak pada pajak bumi dan bangunan (PBB) sektor perkebunan secara umum, retribusi, serta pajak tidak langsung lainnya.
“Itu menjadi bantalan fiskal penting yang dapat memitigasi dampak pengurangan TKD,” imbuh Muzakkir.
Namun diakuinya, dengan kondisi saat ini, sawit belum sepenuhnya bisa menggantikan peran batu bara sebagai tulang punggung utama ekonomi Kaltim.
Tetapi perannya terus meningkat signifikan dan menjadi sektor substitusi yang paling potensial dalam jangka panjang.
“Sesuai struktur ekonomi Kaltim data 2024, untuk batu bara dan penggalian memiliki kontribusi 38,38 persen. Sedangkan pertanian/perkebunan dan perikanan 8,66 persen. Dan data BPS triwulan ke III 2025 itu naik menjadi 9,58 persen,” ujarnya.
Di sisi lain, kontributor produksi CPO mencapai sekitar 4,9 juta ton tahun 2024. Kaltim disebutnya termasuk salah satu produsen terbesar di Indonesia. Nomor lima setelah Riau, Kalteng, Sumut, dan Kalbar. (rd)
Editor : Romdani.