KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Ramai di luar, sepi di dalam. Begitulah hidup yang dijalani Mila, bukan nama sebenarnya, yang selama belasan tahun mempertahankan rumah tangganya. Di balik wajah ramah dan sifat pendiam sang suami, dia menyimpan luka panjang akibat kekerasan psikis yang terus berulang.
Perempuan kelahiran 1971 itu menikah pada 1994. Setahun kemudian, dia dikaruniai anak perempuan yang lahir di Tarakan, Kalimantan Utara. “Saat itu keluarga masih baru mulai. Enggak pernah kepikiran bakal lewat jalan begini,” ujarnya mengenang.
Kejadian pertama muncul beberapa tahun setelah menikah. Suaminya ketahuan berselingkuh dengan pengasuh anak mereka. Meski hancur, Mila memilih memaafkan. Harapannya sederhana, rumah tangga tetap utuh.
Namun perjalanan justru makin berat. Pada 2001, suami yang saat itu bekerja di Samarinda ternyata menikah siri di sana. Mila mendatangi sendiri. "Ya bisa dibilang melabrak. Mereka mau pisah, kami putuskan menetap di Samarinda, saya bawa dua anak saya dari Tarakan," jelas warga Loa Bakung itu.
Tapi kekerasan tak berhenti. “Lebih banyak sakit di hati. Sering dibohongi, selingkuh berkali-kali,” kata Mila lalu tersenyum getir.
Ledakan emosi bahkan pernah muncul. Lemari di rumah dihancurkan suami saat marah. Kekerasan fisik itu disimpan rapat-rapat. “Saya simpan demi anak-anak,” ucapnya lirih.
Memasuki 2010, polanya kembali berulang. Suami makin sering pergi tanpa kabar, hilang berhari-hari. Sampai akhirnya terkuak, dia menikah lagi. “Dimaafkan terus, tapi ya disakiti terus,” tutur Mila.
Diakui jika suaminya adalah pemabuk dan suka main judi. "Main nomor, judi yang kayak nomor. Terus misal pasang berapa, kalau sesuai nomornya dapat berapa gitu," jelasnya.
Puncaknya terjadi pada 2015. Setelah bertahan lebih dari dua dekade, dia memutuskan bercerai. "Sudah capek. Daripada terus terluka, lebih baik selesai,” tegasnya.
Mila membesarkan tiga anaknya sendiri saat itu. Luka memang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia belajar berdiri tegak setelah bertahun-tahun dihantam kekerasan psikis dan fisik yang disembunyikan rapat-rapat. “Saya cuma ingin anak-anak bahagia, itu saja,” ucapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo