Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Hulunya Deras, Hilirnya Hilang: Misteri Sungai Hilang di Sumbar yang Dianggap Alamiah, tapi Bisa Berbahaya

Dwi Puspitarini • Senin, 8 Desember 2025 | 11:28 WIB

 

Ilustrasi.
Ilustrasi.

KALTIMPOST.ID, Warga Jorong Gantiang di Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, dikejutkan fenomena alam yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.

Aliran sungai yang biasanya deras tiba-tiba terputus, lenyap begitu saja ke dalam tanah, meninggalkan hilir sungai dalam keadaan kering total.

Fenomena aneh ini muncul hanya beberapa hari setelah bencana hidrometeorologi melanda kawasan Tanah Datar.

Dari video warga yang viral, terlihat aliran di bagian hulu masih deras. Namun, sebelum mencapai hilir, air seolah “ditelan” tanah.

Rekaman itu membuat warga resah karena aliran bawah tanah tersebut tak diketahui ke mana arahnya.

“Air dari hulu deras, tapi di bawahnya kering. Seakan-akan air itu hilang ke dalam tanah. Kami tidak tahu alirannya sekarang mengarah ke mana,” tulis akun Instagram @tanahdatarnet, Senin (8/12/2025).

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Batusangkar | Tanah Datar ⚫???????? (@tanahdatarnet)

 

Warga Jorong Gantiang menyadari perubahan drastis ini sejak Jumat (5/12/2025).

Mereka mengaku heran sekaligus khawatir, mengingat daerah tersebut masih dalam masa pemulihan pascabencana. Kondisi tanah yang labil membuat kejadian seperti ini terasa lebih menegangkan.

Menurut warga, hulu sungai tampak normal. Namun bagian bawahnya benar-benar kering, seakan aliran air “diputus” di tengah jalur sungai.

Ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward, menyebut kondisi tersebut sangat mungkin terjadi di wilayah dengan karakter batuan kapur atau karst.

Dilansir dari Antara, Ade mengatakan: “Nah, kalau ada sungai yang airnya hilang, ya itu biasanya terjadi pada daerah-daerah kawasan bukit kapur. Kawasan bukit kapur itu kan mudah mengalami pelarutan,” jelasnya di Padang, Sabtu (6/12/2025).

Ia menyebut fenomena ini disebut losing stream, ketika air masuk ke celah atau rongga dan membentuk sungai bawah tanah.

“Karakter daerah bukit kapur memang begitu sehingga aliran yang sebelumnya menjadi terputus,” tambah Ade, yang juga Direktur Eksekutif Patahan Sumatera Institute.

Menurut Ade, hilangnya aliran sungai secara tiba-tiba bisa menjadi pertanda adanya rongga besar atau kemungkinan terbentuknya sinkhole (lubang runtuhan).

Ia mengingatkan bahwa kondisi ini perlu segera diteliti karena dapat mengancam keselamatan warga.

“Kita khawatir jika ada pemukiman di bawah aliran sungai. Jika rongga semakin besar atau terjadi runtuhan tanah, itu bisa mengancam keselamatan warga,” katanya.

Fenomena ini biasanya muncul setelah tingginya curah hujan dan pergerakan tanah — dua faktor yang memang terjadi di Sumatera Barat pekan lalu.

 Baca Juga: Desa Sekumur Hilang Disapu Banjir, Hanya Satu Bangunan Ini yang Tersisa

Ahli Minta Pemerintah Bertindak Cepat

Ade meminta pemerintah daerah, BPBD, dan lembaga teknis geologi melakukan langkah cepat, termasuk pemetaan geologi darurat, identifikasi rongga atau potensi sinkhole, pengawasan perubahan aliran air, dan edukasi keselamatan bagi warga.

Menurutnya, ini bukan kejadian yang bisa dibiarkan tanpa kajian ilmiah.

Ahli mengingatkan bahwa perubahan aliran sungai, pergeseran tanah, dan aktivitas bawah permukaan bisa muncul berhari-hari setelah bencana.

Karena itu, warga diminta untuk menjauhi area cekungan baru, melaporkan perubahan tanah, mengikuti arahan BPBD dan aparat nagari. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#sumatera barat #sumbar #Sungai Hilang #fenomena langka setelah bencana #tanah datar #sinkhole #fenomena sungai hilang