Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Cuaca Ekstrem Diprediksi hingga Awal 2026, Pemprov Kaltim Siagakan Alat Berat di Jalur Rawan

Muhammad Ridhuan • Minggu, 14 Desember 2025 | 06:40 WIB
MUSIBAH: Kecamatan Batu Ampar, Kutai Timur, terendam banjir. Sekitar 40 rumah warga tergenang dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter, Jumat (12/12). (Dok. Polres Kutim)
MUSIBAH: Kecamatan Batu Ampar, Kutai Timur, terendam banjir. Sekitar 40 rumah warga tergenang dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter, Jumat (12/12). (Dok. Polres Kutim)

KALTIMPOST.ID-Peringatan BMKG terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2026 menjadi perhatian Pemprov Kaltim.

Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kaltim memastikan kesiapan infrastruktur dan alat berat tetap dalam kondisi siaga, terutama pada wilayah rawan bencana dan jalur akses vital.

Kepala Dinas PUPR-Pera Kaltim AM Fitra Firnanda menyebut salah satu titik yang menjadi perhatian utama adalah akses menuju Mahulu.

Jalur tersebut kerap terdampak longsor, ambles hingga kerusakan badan jalan saat curah hujan tinggi.

“Kalau jalan kita yang rawan itu ‘kan akses ke Mahulu. Di sana kami sudah standby satu set alat berat dari UPTD. Jadi kalau ada longsor, ambles, atau kerusakan yang tidak bisa dilewati mobil, alat berat kita bisa langsung bergerak karena sudah berada di sekitar lokasi,” kata Firnanda.

Selain menempatkan alat berat di titik rawan, Dinas PUPR-Pera Kaltim juga mengoptimalkan dukungan dari pihak kontraktor yang saat ini tengah mengerjakan proyek jalan provinsi. Dalam kondisi tertentu, kontraktor dapat diminta membantu penanganan darurat.

“Kami arahkan kontraktor yang berkontrak dengan kita sekarang, terutama pekerjaan jalan, untuk bisa diminta bantuannya pada saat keadaan tertentu. Itu hampir di semua ruas jalan provinsi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, UPTD alat berat PUPR Kaltim saat ini tersebar di berbagai wilayah. UPTD 1, 2, dan 3 ditempatkan di Balikpapan, Kutai Kartanegara, dan Samarinda. Sementara tiga lainnya berada di Bontang, Sangatta, dan Rantau Pulung.

“Mereka standby semua, terutama persiapan Natal dan Tahun Baru. Jadi tidak perlu mobilisasi dari titik tertentu karena sudah standby di lokasi masing-masing,” jelasnya.

Dengan pola sebaran tersebut, Dinas PUPR-Pera Kaltim menilai hampir seluruh wilayah masih dalam jangkauan alat berat jika terjadi gangguan akses akibat bencana.

“Artinya kita sudah bisa menduga di mana titik yang putus atau longsor. Hampir di semua wilayah itu masih dalam jangkauan alat berat kita,” tambah Firnanda.

Terkait banjir yang saat ini masih terjadi di Kutim, Firnanda mengatakan pihaknya terus melakukan normalisasi Sungai Sangatta. Program tersebut telah berjalan sejak beberapa tahun lalu dan masih berlanjut hingga kini.

“Kalau banjir Kutim, kami masih upaya normalisasi Sungai Sangatta. Itu sudah mulai beberapa tahun lalu dan masih berlangsung sampai sekarang,” katanya.

Menurutnya, tingginya curah hujan serta sedimentasi sungai yang cukup berat membuat penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara instan.

“Curah hujan tinggi, kemudian kondisi sungai juga sedimentasinya sangat tinggi. Jadi memang butuh waktu,” ujarnya.

Normalisasi Sungai Sangatta dikerjakan melalui proyek tahunan dengan melibatkan kerja sama bersama TNI. “Itu tahunan, kami kerjasamakan dengan TNI,” singkat Firnanda.

Di sisi lain, Dinas PUPR-Pera Kaltim mengakui keterbatasan anggaran turut memengaruhi ruang gerak penanganan infrastruktur. Firnanda menyebut terjadi penurunan signifikan pada anggaran dinasnya.

“Anggaran kita yang tadinya sekitar Rp 3 triliun, sekarang tinggal Rp 800-an miliar saja. Sangat besar pengaruhnya,” ungkapnya.

Meski demikian, untuk penanganan potensi bencana, pihaknya tetap mengandalkan alokasi pemeliharaan yang berada di UPTD karena sifatnya yang lebih fleksibel dan bisa digunakan secara cepat.

“Kalau masalah potensi bencana, alokasinya ada di UPTD. Itu yang sifatnya bisa dadakan. Kita sudah alokasikan, mudah-mudahan sih tidak kepakai untuk bencana, cukup untuk pemeliharaan jalan saja,” ucapnya.

Firnanda menegaskan, jika terjadi kondisi darurat seperti longsor, tanah ambles, atau akses jembatan tertutup, pihaknya siap bergerak.

“Ready. Kita juga punya BTT, belanja tidak terduga di kas daerah. Itu bisa sewaktu-waktu digunakan, walaupun yang dialokasikan ke kami memang terbatas,” katanya.

Ia menambahkan, bencana tetap menjadi prioritas utama dalam penggunaan anggaran daerah. “Kalau bencana pasti diutamakan. Mudah-mudahan tidak ada bencana,” ujarnya.

Belajar dari simulasi kebencanaan yang telah dua kali dilakukan pemerintah provinsi di Balikpapan dan Samarinda, Firnanda menyadari potensi bencana di Kaltim cukup tinggi, terutama pada akhir dan awal tahun.

“Kalau kita, andalan kita masih mengandalkan alat-alat berat yang selalu ready dimobilisasi ke mana pun di wilayah Kaltim,” tutup Firnanda. (rdh/rd)

Editor : Romdani.
#cuaca ekstrem #pemprov kaltim #ibu kota nusantara #Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman #banjir kutim #Kutai Barat