Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Makan Sampah di Jalan, Orangutan Sam Ungkap Rusaknya Meta Populasi di Kalimantan

Jufriadi • Kamis, 5 Februari 2026 | 14:12 WIB
HABITAT RUSAK: Lokasi penemuan Sam, orangutan, yang sempat terekam mengais sampah di jalan poros Kutai Timur.
HABITAT RUSAK: Lokasi penemuan Sam, orangutan, yang sempat terekam mengais sampah di jalan poros Kutai Timur.

KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Video seekor Orangutan jantan dewasa mengais tumpukan sampah di pinggir jalan poros Perdau–Wahau, Kutai Timur (Kutim), memantik keprihatinan luas.

Satwa bernama Sam, berusia sekitar 18–20 tahun, terekam mencari makan di area yang ramai dilalui kendaraan. Aksi itu disebut sebagai potret nyata rusaknya meta populasi orangutan di lanskap Karaitan, salah satu habitat penting orangutan Kalimantan.

Sam kini telah diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan dipindahkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat pada Rabu (28/1). Namun penyelamatan itu justru membuka diskusi yang lebih besar tentang masa depan orangutan di kawasan yang terus mengalami tekanan pembangunan.

Founder sekaligus Direktur Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, menegaskan perilaku Sam bukanlah kasus tunggal yang berdiri sendiri. Baginya, video tersebut menunjukkan kondisi yang jauh lebih serius.

“Harus dicatat, bahwa ini bukan sekadar soal orangutan memungut sampahnya sebenarnya. Tapi ini tentang hilangnya habitat yang merubah perilaku orangutan. Orangutan berusaha bertahan dengan memakan apapun,” ujarnya.

Menurut Paulinus, penyusutan hutan di kawasan itu telah terjadi dalam jangka panjang. Aktivitas land clearing untuk tambang batu bara maupun perkebunan terus mendekati badan jalan, menyisakan ruang yang sangat sempit bagi satwa arboreal tersebut.

“Maka bisa dipastikan ketika nanti land clearing betul-betul sudah mencapai jalan, maka ya udah enggak ada lagi tempat habitat orangutan,” katanya.

Ia bahkan menyebut wilayah dari Simpang Perdau hingga Wahau sebagai kawasan yang nyaris mustahil lagi mendukung populasi orangutan.

“Simpang Perdau sampai ke arah Wahau sebelum sawit itu udah nggak ada harapan lagi untuk orangutan. Mau dia apapun udah nggak ada harapan,” tegasnya.

Paulinus menilai perpindahan habitat menjadi satu-satunya opsi yang tersisa bagi individu-individu orangutan yang masih bertahan. Namun keputusan relokasi bukan berada di tangan mereka.

“Tapi apakah BKSDA Kaltim setuju? You ask with BKSDA, don't ask me,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, membenarkan kondisi habitat Orang Utan Morio di lanskap Karaitan memang mengalami fragmentasi berat. Kawasan yang dibatasi Sungai Kelay di utara dan Sungai Bengalon di selatan itu merupakan rumah alami orangutan, namun kini beririsan dengan berbagai kepentingan pembangunan.

“Pembangunan harus tetap bisa berjalan, tapi isu lingkungan juga harus kita perhatikan,” ujarnya.

Selama 2025, BKSDA telah melakukan penyelamatan terhadap 47 individu orangutan di kawasan tersebut. Menurut Ari, seluruh upaya rescue dilakukan karena situasi memaksa, bukan pilihan ideal.

“Jadi keterpaksaan kita untuk menyelamatkan orangutan itu. Karena habitat sudah terfragmentasi, tidak bisa kemana-mana, makan di pinggir jalan, makan sampah, dan sebagainya,” jelasnya.

Ari menyebut saat ini terdapat 12 individu tambahan yang telah teridentifikasi perlu diselamatkan dalam waktu dekat. Waktu pelaksanaan rescue bergantung pada kondisi lapangan dan tingkat kerusakan habitat masing-masing individu.

Di tengah ancaman kehilangan habitat, BKSDA bersama sejumlah pelaku usaha dan pemangku kepentingan lokal mencoba merumuskan solusi jangka panjang. Salah satunya adalah menetapkan sejumlah lokasi sebagai area preservasi di luar kawasan konservasi formal.

“Kita ada sebuah kesepakatan bersama bahwa itu akan kita cadangkan beberapa lokasi menjadi lokasi orangutan,” katanya.

Selain itu, akan dibuat jalur hijau sebagai “jembatan alami” yang memungkinkan orangutan bermigrasi antarfragmen hutan. Konsep ini dinilai tidak hanya bermanfaat bagi orangutan, tetapi juga satwa lain seperti macan dahan dan beruang.

“Karena orangutan adalah umbrella spesies. Jika kita menjaga orangutan, maka satwa-satwa lainnya itu pasti akan terjaga,” jelas Ari.

BKSDA berencana menggelar konsultasi publik setelah pemetaan lokasi final rampung.

Kasus Sam menjadi alarm keras bahwa populasi orangutan di Karaitan berada pada titik kritis. Paulinus menyebutnya sebagai penanda bahwa satwa yang biasanya hidup di kanopi hutan itu kini tidak lagi memiliki ruang aman.

“Ketika orang hutan makan ke sampah ini salah satu sinyal bahwa orang hutan sudah tidak baik-baik saja,” ujarnya.

Sementara BKSDA menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan penyelamatan jika habitat semakin rusak dan risiko bagi satwa meningkat.

“Tapi intinya upaya rescue (penyelamatan) dilakukan karena kita terpaksa untuk menyelamatkan orangutan,” tutup Ari. (*)

Editor : Duito Susanto
#tambang batu bara #kutai timur #BKSDA Kaltim #konservasi lingkungan #populasi orangutan #satwa dilindungi #perkebunan sawit