KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Dinamika menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan pada 2026 mulai menunjukkan eskalasi.
Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) secara resmi merilis 14 figur yang diprediksi bakal bersaing memperebutkan kursi ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang.
Peneliti Insantara, Wildan Efendy, mengungkapkan bahwa pemetaan ini merupakan hasil riset mendalam dengan parameter yang terukur.
Menurutnya, penetapan nama-nama tersebut mengacu pada tiga indikator utama, popularitas di kalangan nahdliyin, rekam jejak kepemimpinan, serta hasil wawancara mendalam dengan pengurus struktural dan warga NU di berbagai level.
Rivalitas Tokoh Nasional
Dari belasan nama yang mencuat, dua sosok menjadi pusat perhatian karena pengaruh strategis mereka di level nasional.
Keduanya adalah petahana Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ketua Umum PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Kehadiran kedua tokoh ini diprediksi akan memberikan warna kuat pada kontestasi, mengingat keduanya memiliki basis massa yang besar dan pengaruh politik yang signifikan baik di internal NU maupun di kancah nasional.
Empat Klaster Kandidat
Insantara mengelompokkan para kandidat ke dalam empat klaster utama untuk memetakan kekuatan masing-masing.
Klaster internal PBNU diisi oleh wajah-wajah familiar di struktur pusat seperti Gus Yahya, Mohammad Nuh, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Zulfa Mustofa.
Baca Juga: Lawan Longsor di Hulu Kapuas, Proyek Jalan Perbatasan Kalbar-Kaltim Terus Dikebut
Klaster Wilayah (PWNU) menampilkan sosok dengan kekuatan jaringan daerah yang solid, yakni Abdul Ghaffar Razin, Abdul Hakim Mahfudz, dan Juhadi Muhammad.
Klaster kultural dan pesantren mewakili aspirasi akar rumput dan kiai karismatik, di antaranya Imam Jazuli, Abdussalam Shohib, Yusuf Chudlori, serta Marzuqi Mustamar.
Klaster pemerintahan selain Cak Imin, muncul nama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang dinilai memiliki kapasitas manajerial birokrasi yang mumpuni.
Aspirasi Regenerasi Kepemimpinan
Baca Juga: Abadikan Sejarah, Tokoh Adat PPU Godok Usulan Nama Jalan dari Pahlawan Lokal
Wildan menyebutkan bahwa menjelang pelaksanaan muktamar pada Juli atau Agustus 2026 mendatang, muncul desakan yang cukup kuat dari tingkat wilayah (PWNU) dan cabang (PCNU) untuk melakukan transisi kepemimpinan.
"Ada aspirasi signifikan dari pengurus di daerah dan warga NU yang menginginkan lahirnya nakhoda baru. Ini menjadi sinyal bahwa Muktamar nanti bukan sekadar ajang rutin, melainkan momentum bagi organisasi untuk merespons keinginan arus bawah," tegas Wildan.
Muktamar ke-35 NU bukan hanya menjadi ajang suksesi kursi ketua umum, namun dipastikan akan menjadi arena konsolidasi gagasan besar bagi masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (*)
Editor : Almasrifah