KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik kritis pasca-serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Insiden yang merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta jajaran petinggi lainnya ini memicu reaksi keras dari Teheran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa pembalasan terhadap aset militer AS dan Israel di kawasan Teluk bukan sekadar opsi, melainkan "hak konstitusional dan kewajiban" negara.
Di balik ketegangan tersebut, dunia kini menyoroti taring militer Iran. Meski armada tempur udaranya dianggap tertinggal, Teheran memiliki kompensasi mematikan berupa teknologi rudal yang diklaim para analis sebagai yang paling variatif di Timur Tengah.
Baca Juga: Soroti Relasi AS-Indonesia, JK Sangsi Presiden Prabowo Bisa Damaikan Konflik Iran-Israel
Berikut adalah bedah kekuatan persenjataan Iran sebagaimana dihimpun dari data Al Jazeera:
Rudal Balistik Jangkauan Pendek (150–800 kilometer)
Senjata kategori ini merupakan ujung tombak Iran untuk serangan taktis cepat terhadap target-target regional yang berdekatan.
Andalan: Varian Fateh (seperti Zolfaghar), Qiam-1, serta seri Shahab-1 dan 2.
Keunggulan: Dapat diluncurkan dalam pola salvo (beruntun), sehingga memangkas waktu deteksi radar lawan dan menyulitkan sistem pertahanan udara untuk melakukan intersepsi dini.
Rekam Jejak: Taktik serupa pernah melumpuhkan pangkalan Ain al-Assad di Irak pada 2020, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur signifikan dan cedera otak traumatis pada seratusan personel AS.
Rudal Jarak Menengah: Sang Penentu Peta Konflik (1.500–2.500 kilometer)
Jika rudal jarak pendek adalah respons cepat, maka rudal jarak menengah adalah game changer yang mampu menjangkau seluruh wilayah Israel serta pangkalan AS di Qatar, Bahrain, hingga Arab Saudi.
Teknologi Bahan Bakar: Sistem seperti Sejjil menggunakan bahan bakar padat, yang memungkinkannya disiapkan dan diluncurkan jauh lebih cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair.
Varian Utama: Shahab-3, Emad, Ghadr-1, Khorramshahr, serta inovasi terbaru seperti Kheibar Shekan dan Haj Qassem.
Rudal Jelajah dan Taktik Saturasi Drone
Iran mengombinasikan kecepatan rudal dengan kelincahan drone untuk menciptakan strategi "penjenuhan" (saturation attack) pada pertahanan lawan.
Rudal Jelajah: Seri Soumar (jangkauan 2.500 km), Paveh, dan Hoveyzeh mampu terbang rendah mengikuti kontur bumi, membuatnya sulit dilacak radar konvensional.
Drone: Meski lebih lambat, pesawat nirawak Iran diproduksi secara massal dengan biaya rendah. Penggunaannya dalam jumlah besar bertujuan menguras baterai pertahanan udara lawan (seperti Iron Dome atau Patriot) agar rudal balistik bisa menembus target utama.
Strategi "Kota Rudal" Bawah Tanah
Kekuatan Iran tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi juga pada daya tahan. Teheran telah membangun jaringan terowongan rahasia dan basis peluncuran bawah tanah yang disebut sebagai "Kota Rudal".
Baca Juga: Rudal Balistik Iran Hantam Kapal Induk AS Abraham Lincoln di Laut Arab
Fasilitas yang tersebar di pelosok negeri ini dirancang agar program rudal tetap bisa beroperasi meski Iran berada di bawah tekanan serangan udara masif yang berkelanjutan.(*)
Editor : Thomas Priyandoko