KALTIMPOST.ID-Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah dan kembali turun ke bawah level Rp7.000 pada perdagangan Rabu (4/3/2026). Sejak awal sesi, harga BBCA sudah bergerak di zona merah dan sempat menyentuh level terendah Rp6.900.
Pada penutupan sesi I, saham BBCA ditutup turun 1,77 persen ke posisi Rp6.950. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp647,1 miliar dengan volume perdagangan mencapai 92,63 juta saham.
Berdasarkan pantauan data perdagangan hingga pukul 16.25 WIB, harga BBCA terus merosot lebih dalam hingga menyentuh angka Rp 6.875.
Dari pantauan secara grafik 5 tahunan saham BBCA, harga Rp 6.800 ini pernah terjadi di tahun 2021.
Secara teknikal, pergerakan saham BBCA menunjukkan tren pelemahan yang masih dominan. Harga tercatat berada di bawah garis moving average (MA) 9 dan MA 50, yang mengindikasikan momentum bearish belum mereda. Pola lower high dan lower low juga terbentuk, mencerminkan kecenderungan tren turun dalam jangka pendek.
Level Rp6.800 hingga Rp7.000 kini menjadi area support terdekat yang diuji pasar. Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut tidak mampu bertahan, harga saham BBCA berpotensi bergerak turun menuju kisaran Rp6.300, yang merupakan titik terendah terbaru pada grafik.
Tekanan terhadap saham perbankan besar seperti BBCA terjadi di tengah kondisi pasar global yang masih diliputi ketidakpastian. Faktor geopolitik dan aksi jual investor asing turut memicu sentimen risk-off di pasar saham domestik.
Dalam dua hari terakhir, tercatat aksi jual bersih (net foreign sell) pada saham BBCA sebesar Rp183 miliar pada periode 2–3 Maret 2026. Sepanjang tahun berjalan, total net sell asing di saham ini telah mencapai sekitar Rp16,97 triliun.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melanjutkan pelemahan. Pada penutupan sesi I, IHSG turun 343,20 poin atau 4,32 persen ke level 7.596,57.
Koreksi ini meneruskan tren negatif dalam beberapa hari terakhir setelah sebelumnya indeks turun 0,96 persen dan sempat merosot 2,65 persen.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 748 saham melemah, 68 saham menguat, dan 142 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp18,06 triliun dengan volume 33,08 miliar saham dalam 2,09 juta kali transaksi.
Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar saham Indonesia, termasuk pada saham unggulan seperti BBCA.
Editor : Thomas Priyandoko