Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Terdampak Konflik Timur Tengah, Arus Kunjungan Wisatawan di Indonesia Merosot Terutama dari Eropa

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 7 Maret 2026 | 17:32 WIB

UJIAN: Gangguan penerbangan akibat situasi geopolitik di Timur Tengah bakal menjadi salah satu faktor utama yang menekan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.
UJIAN: Gangguan penerbangan akibat situasi geopolitik di Timur Tengah bakal menjadi salah satu faktor utama yang menekan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

KALTIMPOST.ID - Tekanan terhadap sektor pariwisata Indonesia tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik, tetapi juga situasi global yang berdampak langsung pada arus wisatawan internasional.

Gangguan penerbangan akibat situasi geopolitik di Timur Tengah disebut bakal menjadi salah satu faktor utama yang menekan jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

Disampaikan Joko Purwanto, pemilik Trans Borneo Adventure Tours, pembatasan penerbangan melalui sejumlah hub internasional seperti Dubai dan Abu Dhabi membuat banyak wisatawan kesulitan masuk ke Indonesia.

Menurutnya, hampir setiap hari pelaku usaha menerima kabar pembatalan perjalanan dari luar negeri. “Wisatawan luar negeri dalam kondisi saat ini tidak bisa masuk ke Indonesia karena banyak bandara hub di Timur Tengah dihentikan. Setiap hari kami menerima pembatalan penerbangan,” ucapnya.

Ia menjelaskan, pasar Eropa menjadi salah satu yang paling terdampak. Banyak wisatawan dari kawasan tersebut membatalkan rencana perjalanan karena keterbatasan rute penerbangan.

Bahkan, menurutnya kondisi serupa terlihat di Bali yang mengalami penurunan penerbangan dari Eropa. Ia menyebut sejumlah maskapai internasional juga mengalami hambatan operasional karena tidak bisa kembali ke Timur Tengah.

Selain faktor penerbangan, kondisi musim di beberapa negara juga ikut memengaruhi minat perjalanan. Negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang sedang mengalami musim dingin disebut cenderung menahan perjalanan ke luar negeri. Sementara itu, pasar Australia masih menunjukkan pergerakan meski belum signifikan.

Joko menilai krisis geopolitik di Timur Tengah memang selalu berdampak pada pola perjalanan wisata global, termasuk ke Indonesia. Ia menyebut ketidakpastian situasi membuat pelaku usaha kesulitan memprediksi pemulihan pasar wisatawan mancanegara.

“Kita memang terdampak setiap ada krisis di Timur Tengah. Harapan kita semoga tidak berkepanjangan,” ujarnya. Pelaku usaha berharap situasi global segera stabil agar arus penerbangan kembali normal.

Kepastian tersebut dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan pasar dan mendorong kebangkitan sektor pariwisata nasional dalam waktu dekat.

Penurunan wisatawan asing, lanjutnya, berpotensi menekan ekonomi secara lebih luas melalui efek berganda. Berkurangnya kunjungan wisatawan akan berdampak pada penurunan pendapatan hotel, restoran, transportasi, hingga UMKM lokal yang selama ini bergantung pada aktivitas pariwisata.

"Ya ini termasuk jamaah umrah, semua ditunda, ada yang cancel. Dan kasihan juga jamaah umrah yang tidak bisa kembali ke Indonesia sementara waktu akibat perang. Tentu ini juga membuat pihak travel mesti mengeluarkan cost yang lebih banyak. Kalau kami sendiri memang sementara hold dulu untuk travel umrah hingga sutuasi kembali stabil," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kunjungan wisatawan #timur tengah #konflik timur tengah #geopolitik #eropa #pariwisata