KALTIMPOST.ID, Majelis Ahli Iran telah memilih pemimpin tertinggi untuk menggantikan posisi Ayatollah Ali Khamenei yang meninggal dalam serangan gabungan Amerika Serikat-Israel.
Pengganti Ayatollah Ali Khamenei ini tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan oleh badan khusus bernama Majelis Ahli.
Majelis Ahli melakukan pemungutan suara untuk menentukan pengganti pemimpin sebelumnya.a
Lembaga tersebut beranggotakan 88 ulama senior yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara.
Pernyataan resmi yang dirilis setelah tengah malam waktu Teheran, Majelis Ahli menegaskan keputusan mereka.
“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” bunyi pernyataan tersebut.
Keputusan ini menandai babak baru kepemimpinan di Republik Islam Iran.
Jabatan Pemimpin Tertinggi Iran memiliki kewenangan tertinggi dalam sistem politik negara, termasuk dalam urusan pemerintahan, militer, dan kebijakan strategis nasional. Lantas seperti apakah sosok Mojtaba Khamenei?
Sosok Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei merupakan anak kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei.
Mojtaba Khamenei memiliki rekam jejak yang unik. Ia tercatat tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum.
Namun, selama berpuluh-puluh tahun, sosoknya dikenal sebagai tokoh kunci yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam ayahnya.
Salah satu kekuatan utama Mojtaba adalah hubungan istimewanya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dukungan dari unit militer elit ini disebut-sebut menjadi modal besar bagi posisinya saat ini.
Faktor tersebut membuatnya sering disebut sebagai kandidat kuat untuk menggantikan posisi Pemimpin Tertinggi Iran.
Sebelum penunjukan resmi dilakukan, namanya sudah lama beredar sebagai salah satu figur yang paling berpeluang untuk meneruskan kepemimpinan negara tersebut.
Pernyataan Iran di Tengah Situasi Geopolitik
Dalam pengumuman tersebut, pihak Iran juga menegaskan bahwa mereka tidak ragu sedikit pun dalam memilih pemimpin baru, walau situasi geopolitik tengah memanas.
Pernyataan itu merujuk pada meningkatnya ketegangan dengan Amerika dan Israel.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengkritik sosok Mojtaba.
Ia bahkan menyatakan bahwa pemimpin baru Iran seharusnya mendapat persetujuan dari Washington.
“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump dalam sebuah wawancara.
Peralihan Kepemimpinan yang Jarang Terjadi
Penunjukan Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran baru menjadi momen penting dalam sejarah politik Iran.
Sebelumnya, hanya ada satu kali pergantian pemimpin tertinggi sejak berdirinya Republik Islam Iran. Peristiwa tersebut terjadi pada 1989 setelah wafatnya Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran 1979.
Kini, dunia kembali menyoroti sosok Mojtaba Khamenei yang resmi ditunjuk untuk memimpin Iran di tengah dinamika politik dan ketegangan geopolitik global. ***
Editor : Dwi Puspitarini