Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Israel Isyaratkan Tak Ingin Perang Abadi, Menlu Saar: Berhenti di Waktu yang Tepat

Ari Arief • Rabu, 11 Maret 2026 | 14:04 WIB

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar.

KALTIMPOST.ID, YERUSALEM-Memasuki hari ke-11 kecamuk perang di Timur Tengah, Pemerintah Israel mulai angkat bicara mengenai masa depan konflik mereka dengan Iran.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki ambisi untuk terlibat dalam perang tanpa akhir.

Dalam konferensi pers bersama Menlu Jerman Johann Wadephul di Yerusalem, Selasa (10/3), Saar mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengakhiri pertempuran akan dikonsultasikan secara erat dengan Amerika Serikat (AS). Namun, ia enggan memberikan tenggat waktu pasti kapan senjata akan diletakkan.

"Kami akan terus melangkah hingga kami dan para mitra (AS) menilai bahwa saatnya sudah tepat untuk berhenti," kata Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar sebagaimana dikutip dari Al Arabiya, Rabu (11/3).

Target Penghancuran Total

Baca Juga: Analisis Media AS: Iran Pimpin Keunggulan Strategis, Pertahanan Udara Paman Sam Mulai 'Goyah'

Meski mengisyaratkan adanya ujung konflik, Israel tetap pada pendirian kerasnya. Saar menekankan bahwa tujuan utama operasi militer ini adalah melumpuhkan kekuatan nuklir dan program rudal balistik Iran secara permanen.

Tak hanya itu, Israel secara terbuka berharap situasi perang ini memicu perubahan rezim di Teheran. Saar menyebut momen ini sebagai kesempatan bagi rakyat Iran untuk "merebut kembali kebebasan mereka."

"Kita tidak boleh menyia-nyiakan peluang ini dengan hanya meraih kemenangan parsial (setengah-setengah)," tegasnya.

Pintu Diplomasi Mulai Terbuka?

Baca Juga: Iran Tak Berambisi Perpanjang Perang, tapi Tuntut Penjelasan Agresi AS sebelum Bahas Gencatan Senjata

Di sisi lain, kunjungan Menlu Jerman Johann Wadephul menjadi sorotan lantaran ia adalah pejabat tinggi asing pertama yang berani menginjakkan kaki di Israel sejak perang meletus. Wadephul menilai ada celah bagi solusi diplomatik yang melibatkan Washington.

Namun, Jerman memberikan catatan tebal setiap kesepakatan damai harus mencakup penghentian total program nuklir Iran serta pemutusan dukungan terhadap milisi regional.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Teheran dilaporkan masih menutup pintu terhadap syarat-syarat tersebut. Kondisi ini membuat prospek perdamaian dalam waktu dekat masih terlihat abu-abu, meskipun koordinasi tingkat tinggi antara Israel dan AS terus diintensifkan.(*)

Editor : Almasrifah
#perang #timur tengah #Israel #as #iran #yerusalem