Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Jaksa Prancis Selidiki Elon Musk, Diduga Biarkan Deepfake Grok di X untuk Dongkrak Nilai Perusahaan

Thomas Dwi Priyandoko • Minggu, 22 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ilustrasi X dan Elon Musk.
Ilustrasi X dan Elon Musk.

KALTIMPOST.ID – Jaksa di Prancis membuka penyelidikan terhadap miliarder teknologi Elon Musk setelah muncul dugaan bahwa kontroversi deepfake di platform X sengaja dibiarkan untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Kasus ini terkait chatbot kecerdasan buatan Grok yang sebelumnya memicu kemarahan publik karena menghasilkan gambar perempuan dan anak perempuan dengan pakaian minim tanpa persetujuan mereka.

Kantor jaksa Paris pada 21 Maret menyatakan dugaan bahwa kontroversi deepfake seksual yang dihasilkan Grok mungkin dimanfaatkan untuk “meningkatkan nilai perusahaan secara artifisial”.

Menurut penyelidik, polemik tersebut diduga berkaitan dengan rencana pencatatan saham baru pada Juni 2026 setelah penggabungan perusahaan teknologi milik Musk, termasuk SpaceX dan perusahaan kecerdasan buatan xAI.

Pihak jaksa Prancis juga telah menghubungi otoritas Amerika Serikat, termasuk Departemen Kehakiman AS dan regulator pasar keuangan U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), untuk membagikan temuan awal mereka.

Kontroversi bermula ketika Grok memungkinkan pengguna meminta pembuatan atau pengeditan gambar melalui unggahan di platform X. Banyak pengguna kemudian menandai chatbot tersebut pada foto perempuan dan meminta gambar diubah menjadi lebih terbuka atau bahkan tanpa pakaian.

Lembaga pengawas digital Center for Countering Digital Hate melaporkan bahwa dalam 11 hari, Grok diduga menghasilkan sekitar tiga juta gambar seksual, sebagian besar menampilkan perempuan. Sekitar 23 ribu gambar lainnya diduga menampilkan anak-anak.

Media Prancis Le Monde juga menyoroti sejumlah unggahan Musk di tengah kontroversi tersebut. Dalam beberapa unggahan, Musk disebut menanggapi kemampuan chatbot itu dengan emoji dan bahkan membagikan gambar dirinya yang diubah oleh Grok menjadi mengenakan bikini.

Di tengah polemik tersebut, jumlah unduhan aplikasi Grok melonjak tajam. Perusahaan intelijen pasar Sensor Tower mencatat rata-rata unduhan harian meningkat sekitar 72 persen pada Januari dibandingkan periode sebelumnya.

Otoritas Prancis sebelumnya telah memanggil Musk untuk wawancara sukarela dan menggeledah kantor lokal platform X. Musk sendiri menyebut langkah tersebut sebagai “serangan politik”.

Selain Prancis, pemerintah Inggris dan Uni Eropa juga tengah menyelidiki penyebaran deepfake seksual yang dibuat oleh Grok terhadap perempuan dan anak-anak.

 

Editor : Thomas Priyandoko
#X Twitter #prancis #deepfake #elon musk