Meski pihak AS menyebut pesawat masih bisa melakukan pendaratan darurat, insiden ini memicu pertanyaan soal efektivitas teknologi siluman.
Rudal yang disebut-sebut digunakan adalah AD-08 Majid, sistem pertahanan udara buatan Iran yang dikembangkan oleh organisasi industri pertahanan dalam negeri.
Senjata ini pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2021 dan dirancang untuk menghadapi target udara di jarak dekat hingga menengah.
Dengan jangkauan sekitar 8 kilometer dan kemampuan menjangkau ketinggian hingga 6 kilometer, Majid dinilai efektif untuk mengincar pesawat yang terbang rendah.
Keunggulan utama rudal ini terletak pada sistem pemandu inframerah pasif. Tidak seperti radar aktif, teknologi ini tidak memancarkan sinyal sehingga sulit terdeteksi oleh sistem peringatan lawan.
Rudal akan mengunci panas dari mesin pesawat, termasuk emisi tinggi yang tetap dihasilkan oleh mesin F-35. Dalam kondisi tertentu, terutama jarak dekat, sistem ini membuat pesawat siluman tetap rentan.
Klaim keberhasilan ini pun disebut sebagai momen langka dalam peperangan modern, di mana sistem sederhana mampu menantang teknologi tinggi.
Editor : Uways Alqadrie