
Oleh: May Wagiman
Penulis cerpen, cerita anak, dan artikel. Beberapa tulisannya dapat ditemukan di media daring.
Biji tidur dalam lapisan tanah. Sebuah senyum tersungging di wajah kecilnya. Napasnya naik dan turun teratur. Ia tidur dengan lelap, tak ada gangguan.
Cacing-cacing tanah menemani, bersenandung pelan dan menari gemulai menggemburkan lapisan bumi.
Pelukan hangat tanah lembab memberi rasa tenang dan nyaman, seakan ketenangan dan kenyamanan itu mempersiapkan babak baru dalam kehidupannya.
Pada suatu hari ia membuka mata, menatap kegelapan dan berkedip beberapa kali. Cacing-cacing memberi salam.
Sekujur tubuh lonjongnya bergetar. Biji merasa ada perubahan dalam dirinya. Tiba-tiba kulitnya pecah, sebuah tonjolan kecil keluar dari atas kepala.
Ia diam, mengamati dan merasakan. Hatinya mengatakan itu perubahan yang akan ia jalani. Enzim-enzim dalam tubuhnya mulai aktif menghasilkan reaksi kimia. Tak perlu takut.
Beberapa lama kemudian ia kembali bergetar. Kali ini lebih kuat. Tonjolan kecil tumbuh memanjang membentuk batang embrio. Biji sadar ia akan segera berubah bentuk.
“Tumbuh …, tumbuh …,” nyanyi cacing-cacing tanah. Paduan suara harmonis yang menebar semangat.
“Gemburkan tanah, gemburkan tanah,” dendang mereka.
Kaki-kaki akar keluar satu per satu. Tumbuh semakin panjang mencengkeram tapak bumi. Batang embrio di kepala membesar mengikuti melodi.
“Tumbuh, tinggi. Tumbuh, tinggi.”
Tubuhnya semakin tertarik menembus tanah gembur. Tunas hijau yang merunduk menyembul dari permukaan bumi. Matanya setengah memejam. Silau, tak terbiasa dengan cahaya.
“Halo!” seru mentari.
Biji bertunas hijau itu masih merunduk. Ia mendengar sapaan ramah.
“Halo,” balasnya malu-malu.
Cerahnya di sini, katanya dalam hati.
Tik …, tik …, tik ….
“Hai,” sapa hujan.
Curahan hujan mengguyur alam. Membasahi kepala tunasnya, menyambut kedatangannya.
“Hai,” jawabnya.
Cacing-cacing menjadi ceria, kembali menari membuat drainase di dalam bumi. Membantu kaki-kaki akar mengikat air dan mineral.
“Tumbuh …, tumbuh ….” Nyanyian cacing-cacing tanah kembali terdengar.
Biji telah berubah bentuk. Kepala tunas yang awalnya merunduk terlihat menengadah. Daun tunas mekar menjadi dua, klorofil semakin penuh.
Ia berubah menjadi sebatang tunas remaja.
Sinar bulan dan bintang menerangi malam. Tunas remaja kembali bergetar. Batangnya semakin menjulang. Dua daun baru muncul dari sisi kanan dan kiri.
Begitu mentari menyapanya esok hari, ia memiliki empat daun baru.
Sinar mentari menyinari daun-daun remaja. Berkat energi mentari, air hujan, serta karbon dioksida, aku bisa tumbuh tinggi, pikir tumbuhan remaja itu.
“Terima kasih!” serunya.
“Tumbuh, tumbuh!” Paduan suara cacing terdengar nyaring dan mereka menari dengan penuh semangat. Kepala bergerak dinamis di atas permukaan tanah.
Tumbuhan remaja berubah menjadi tumbuhan dewasa. Cabang-cabang serta daun-daun baru terus bermunculan, dan akar-akar menjadi semakin kokoh. Tinggi batangnya bagaikan mendekati mentari. Tumbuhan dewasa itu menanti keluarnya calon bunga cantik.
Suatu saat, hari yang ditunggu-tunggu tiba.
Kuntum kecil terbuka. Mahkota kuning merekah satu per satu, perlahan, namun pasti. Bunga itu mekar bak mentari. Membundar kuning cerah. Pusat bunga membentuk lingkaran berwarna kuning kecokelatan, berisikan sumber sari bunga nan manis.
Tumbuhan bunga itu terlihat selalu memandang sang mentari, bagaikan memuja.
Kecantikan bunga mengundang serangga dari delapan penjuru angin. Mereka berlomba-lomba menarik perhatian.
“Pagi, aku lebah. Kau cantik.” Lebah memuji tulus.
Bunga matahari tertunduk malu, daun-daunnya bergerak perlahan.
“Terima kasih.”
“Hai, aku kupu-kupu.”
Bunga matahari tersenyum dan membalas menyapa. Ia menengadah, mengundang lebah dan kupu-kupu untuk hinggap. Bunga itu tahu serangga dapat membantunya dalam penyerbukan biji baru.
“Sampaikan salamku saat kalian bertandang ke bunga lain.”
Esok hari, lebah dan kupu-kupu kembali berkunjung. Bunga matahari tersenyum senang menyambut mereka.
“Pagi, bunga matahari.”
Sayap-sayap lebah bergerak cepat. Ia girang hati. Kupu-kupu pun bergembira. Mereka mendapat nektar untuk sumber makanan. Lebah dan kupu-kupu mengunjungi hampir setiap hari.
Hingga pada suatu waktu, bunga matahari berkata.
“Aku semakin tua. Sari bungaku semakin berkurang.”
“Oh, bunga matahari,” seru lebah dan kupu-kupu sedih.
“Tidak perlu berduka, akan ada calon bunga baru.” Bunga matahari tersenyum. Daun-daunnya melambai.
Waktu terus berjalan, bunga matahari menggigil dan terbatuk. Tubuhnya semakin renta. Mahkota dan daun-daunnya berubah warna menjadi cokelat dan merapuh. Mahkota berguguran satu per satu, batang membungkuk rendah.
Cahaya mentari terus memberi hangat tubuh tuanya. Hujan setia mengobati rasa haus. Cacing-cacing tanah yang telah lanjut usia tetap menemani.
Batang bunga matahari semakin membungkuk dalam. Kaki-kaki akarnya semakin lemah, tak kuat lagi menopang. Pusat bunganya yang dahulu penuh serbuk sari menghitam dan menjadi kering. Biji-biji hasil penyerbukan bersiap untuk tahap kehidupan baru.
Bunga matahari tak bersusah hati, kondisinya hanyalah siklus hidup alami. Ia bersyukur dan berterima kasih dengan persahabatan alam dan isinya.
“Terima kasih, terima kasih!” Ia berseru, menggunakan sisa-sisa tenaganya.
Satu biji hitam jatuh. Biji-biji lain mengikuti. Mereka bersukacita memeluk bumi. Biji-biji lalu tidur panjang dalam pelukan hangat tanah, hingga saatnya tiba menyapa alam. (dwi)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


