Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kain Tenun Ulap Doyo Khas Kaltim Terancam Punah, Ini Penyebabnya!

K
Penulis: Khoirun Nisa❯

 

Pengrajin menenun Ulap Doyo.
Pengrajin menenun Ulap Doyo.

KALTIMPOST.ID, Kalimantan Timur punya warisan budaya yang tak ternilai, salah satunya adalah Ulap Doyo, kain tenun tradisional Suku Dayak Benuaq dan Tunjung.


Advertisement

Nama “Ulap Doyo” sendiri berasal dari bahasa Dayak, di mana “ulap” berarti kain dan “doyo” adalah tanaman yang menjadi bahan utamanya.

Kain ini masih ditenun dengan proses tradisional oleh para penenun sesepuh, terutama perempuan-perempuan Suku Dayak yang sudah berusia.

Kain ini bahkan sering digunakan dalam pameran fashion dan menjadi wastra kelas atas di Kaltim.

Advertisement

Sayangnya, tenun kuno yang sarat makna ini kini menghadapi ancaman kepunahan.

Fenomena ini bukan tanpa alasan, ada banyak faktor yang mengancam kelestarian kain tradisional ini.

Berikut adalah beberapa penyebab utama mengapa tenun Ulap Doyo terancam punah.

Advertisement

Minimnya Regenerasi Pengrajin dan Minim Bahan Baku

Karena keahlian menenun Ulap Doyo masih dipegang oleh para sesepuh, terutama perempuan-perempuan Suku Dayak yang sudah berusia.

Proses menenun yang rumit dan memakan waktu membuat kaum muda kurang tertarik untuk mempelajarinya.

Akibatnya, keterampilan menenun ini sulit diteruskan ke generasi berikutnya.

​Selain itu, bahan baku utama tenun ini, yaitu serat daun doyo (Curculigo latifolia), semakin langka.

Tanaman ini tumbuh liar di hutan, namun ketersediaannya terancam oleh alih fungsi lahan seperti perkebunan dan pertambangan. Tanpa bahan baku, kelangsungan tenun ini pun terancam.

Persaingan dengan Produk Massal

Proses produksi Ulap Doyo yang lambat dan tidak bisa diproduksi secara massal membuatnya sulit bersaing.

Apalagi, produk tekstil pabrikan dan pakaian massal yang lebih murah membuat masyarakat beralih ke produk instan.

Kain bermotif Dayak kini banyak diproduksi dengan teknik printing yang lebih cepat dan murah, membuat Ulap Doyo yang asli tersisih oleh imitasi.

Minimnya Dokumentasi dan Promosi

Pengetahuan tentang Ulap Doyo seringkali hanya diwariskan secara lisan, tanpa dokumentasi atau sistem pelatihan formal.

Ini membuat banyak anak muda tidak tahu cara membuat atau makna filosofisnya.

Selain itu, kurangnya promosi dan branding membuat kain ini hanya beredar di lingkup lokal.

Mendukung Ulap Doyo agar Tetap Lestari

Menyelamatkan Ulap Doyo bukan cukup hanya dengan menjadikannya simbol budaya.

Diperlukan upaya terpadu, seperti pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda, budidaya tanaman doyo, serta inovasi dalam desain dan pemasaran.

Dukungan pemerintah dan komunitas budaya juga sangat penting agar warisan tak ternilai ini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga tetap hidup di tengah masyarakat. ***

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Erau Adat Pelas Benua Kutim Resmi Dibuka, Angkat Warisan Budaya Kutai

Erau Adat Pelas Benua Kutim Resmi Dibuka, Angkat Warisan Budaya Kutai

Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman resmi membuka Erau Adat Pelas Benua Kutim.

Empat Tradisi Kutim Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Nasional

Empat Tradisi Kutim Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Nasional

Empat budaya dan tradisi asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer